AYOJAKARTA.COM -- Rismon Sianipar menyebut bahwa tindakan Muhammad Nuh Al Azhar secara terang-terangan melakukan penipuan dalam pengolahan video dengan mengubah resolusi secara tidak sah dalam kasus kopi sianida.
Menurut Rismon Sianipar, tindakan Muhammad Nuh Al Azhar dan rekannya, Christoper Hariman Rianto, dalam menurunkan resolusi video dari full high definition 1920x1080 pxl menjadi standar definition 960x576 px merupakan contoh nyata dari manipulasi informasi yang tidak dapat diterima.
Meski demikian, Muhammad Nuh Al Azhar berkeras bahwa perubahan tersebut bukanlah hasil editing atau manipulasi.
"Dia bilang itu bukan editing atau tampering. Padahal resolusi itu dia sendiri yang menurunkannya dengan temannya Christoper Hariman Rianto," kata Rismon Sianipar dikutip ayojakarta dari Youtube Balige Academy pada Sabtu (24/2/2024)
Ia juga menyoroti upaya Muhammad Nuh Al Azhar untuk mengelabui publik dengan mengajak ahli IT Yaitu Roy Suryo untuk mempengaruhi hakim bahwa tidak ada manipulasi dalam video tersebut.
Namun, ia menegaskan bahwa resolusi yang ditampilkan di persidangan jelas-jelas merupakan bukti nyata dari manipulasi yang dilakukan oleh Muhammad Nuh Al Azhar.
"Saya mendapati video lagi bagaimana dia menipu publik dengan mengatakan resolusi itu bukan editing. Jadi ketika di persidangan, mereka konpers untuk menggiring publik, bahkan dia mengajak ahli IT untuk mempengaruhi hakim bahwa tidak ada editing," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa tindakan Muhammad Nuh Al Azhar untuk membuang informasi dan mengaburkan objek-objek dalam video merupakan bentuk manipulasi yang sangat merugikan.
Untuk itu, ia mendesak Kapolri untuk segera menangkap Muhammad Nuh Al Azhar dan mempertanggungjawabkan perbuatannya.
"Pak Kapolri, tangkap orang ini, bagaimana dia bisa mengatakan video ini tidak dimanipulasi? Satu pixel saja secara manual dibuat dari gelap menjadi terang itu saja sudah merupakan manipulasi, apalagi ini merusak resolusi," tegasnya.

Share this article
Menurut Rismon Sianipar, tindakan Muhammad Nuh Al Azhar dan rekannya, merupakan contoh nyata manipulasi informasi yang tidak dapat diterima.