AYOJAKARTA.COM - Tragedi Kanjuruhan banyak mengisahkan momen yang membuat air mata berjatuhan.
Adanya gas air mata yang ditembakkan oleh para personel Polri ke arah tribun penonton, membuat laga pertandingan Arema FC vs Persebaya Surabaya berakhir ricuh.
Tembakan gas air mata diduga menjadi salah satu penyebab para penonton berkerumun di pintu keluar stadion.
Akibat dari berdesak-desakkan, banyak penonton yang harus kehilangan nyawa.
Hingga kini telah dilaporkan sebanyak 131 korban yang tewas akibat Tragedi Kanjuruhan.
Pemakaian gas air mata yang dilakukan oleh personel Polri pun disorot berbagai pihak baik pro maupun kontra.
Baca Juga: Irjen Teddy Minahasa Agama-Istri, Ini Profil-Biodata Kapolda Jatim yang Baru
Dikutip AyoJakarta.com dari Twitter resmi Divisi Humas Polri pada Selasa (11/10/2022), Guru Besar Universitas Udayana mengomentari tentang gas air mata.
Ahli bidang oksiologi atau racun tersebut mengatakan bahwa gas air mata/CS ini dalam skala tinggi pun tidak mematikan.
Melalui Kepala Divisi Humas Polri, Polri setuju dengan pernyataan yang dilayangkan oleh Guru Besar Universitas Udayana Prof. Made Gelgel.
Pihaknya mengatakan bahwa penggunaan gas air mata dalam tingkat tinggi tidak dapat mematikan.
Sebagai informasi tembakkan gas air mata ditembakkan oleh Polri ke arah tribun penonton.
Para penonton merasakan banyak efek yang ditimbulkan setelah menghirup udara yang dibaluti dengan gas air mata.
Banyak dari mereka yang merasakan mata sakit, perih, hingga sesak napas.
Tembakan gas air mata menyebabkan para penonton panik dan langsung mencari pintu keluar untuk menyelamatkan diri.
Mereka yang berada di tribun 13 menjadi penonton yang paling tidak beruntung.
Pada saat itu, pintu 13 ternyata masih dalam keadaan terkunci.
Penonton yang keluar bersamaan ke arah pintu pun terpaksa harus berdesak-desakkan di bawah tangga.
Mereka semua ingin menyelamatkan diri dengan memaksa keluar dari pintu yang terkunci.
Oksigen yang dihirup oleh para penonton tribun 13 pun diyakini sangat menipis.
Kejadian yang semakin mencengkam membuat para penonton berinisiatif membobol salah satu cor-coran bangunan stadion.
Beberapa penonton pun akhirnya berhasil keluar, namun tidak sedikit yang harus berjatuhan di dalam.
Mereka yang tidak kuat karena oksigen yang kian menipis membuat mereka tidak bisa bertahan hidup.
Sehingga Tragedi Kanjuruhan ini menimbulkan banyak korban.***

Share this article
Berikut penjelasan Guru Besar Udayana terkait dampak gas air mata yang diduga jadi penyebab banyaknya korban tragedi Kanjuruhan Malang.