AYO BACA : 4 Tips untuk Mahasiswa Rantau, Biar Nggak Homesick Saat Pandemi COVID-19AYO BACA : #Dirumahaja Bisa Picu Konflik Keluarga hingga KDRT, Begini Penjelasannya
JAKARTA, AYOJAKARTA.COM - Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko membeberkan bahwa saat pandemi menimpa, 20% masalah yang terjadi adalah kesehatan fisik. Sisanya, merupakan persoalan psikologi. Banyak aduan yang masuk ke pihaknya mengenai gangguan psikologi yang menyebabkan kontak fisik berujung pada kekerasan.
Data yang ia himpun dari 16 Maret hingga 30 Maret 2020, terdapat sejumlah kasus kekerasan, pelecehan, KDRT seksual, hingga pornografi. Sebagian besar aduan yang masuk adalah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Data tersebut merujuk pada Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (APIK)
"KDRT yang ternyata fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Melihat perkembangan ini, tidak heran bila laporan Gugus Tugas menyampaikan bahwa persoalan covid19 adalah 20% persoalan kesehatan, 80% persoalan psikologi," ungkap Moeldoko melalui tayangan streaming di akun Youtube KSP, Rabu (29/5/2020).
Mantan Panglima TNI tersebut mengatakan Sekjen PBB telah menyatakan bahwa tekanan sosial turut meningkat akibat pandemi Covid-19. Tekanan pandemi Covid-19 turut berimbas pada sektor perempuan dan anak. Misalnya di Afrika Selatan, terdapat sebanyak 90 ribu laporan tentang kasus KDRT.
"Sekjen PBB menyatakan bahwa meningkatnya tekanan sosial akibat pandemi covid19 telah menyebabkan meningkatnya kasus KDRT pada perempuan dan anak. Di Prancis hingga sepertiga kasus dalam seminggu. Afrika Selatan laporkan 90 ribu kasus pengaduan KDRT," ungkapnya.
Setali tiga uang, kasus KDRT juga terjadi di Negeri Kangguru, Australia. Tercatat, angka kasus KDRT mencapai rasio angka 75% selama pandemi Covid-19.
Luncurkan 'Sejiwa'
Gangguan psikologis yang berpotensi muncul kepada masyarakat pun menjadi perhatian pemerintah. Pemerintah meluncurkan layanan psikologi untuk sehat jiwa (Sejiwa). Layanan tersebut ditujukan bagi masyarakat di tengah pandemi virus corona atau Covid-19.
Moeldoko menyebut, layanan Sejiwa diluncurkan bagi masyarakat yang sedamh menghadapi situasi yang tak menentu dan ditambah dengan banyaknya pemberitaan bohong ihwal kasus Covid-19.
"Sejiwa ini sangat penting karena masyarakat menghadapi situasi yang tidak menentu, ditambah lagi atau diperburuk oleh pemberitaan media sosial yang kadang-kadang banyak menyesatkan, hoaks, itu menambah kondisi yang tidak baik bagi masyarakat indonesia," kata Moeldoko.
Moeldoko mengatakan, Presiden Joko Widodo atau Jokowi telah menyetujui layanan Sejiwa bagi masyarakat. Berangkat dari hal tersebut, maka pemerintah hari ini dapat meluncurkan layanan Sejiwa.
"Alhamdulillah Presiden menyetujui dan langsung kita rumuskan langkah-langkah berikutnya dan hari ini bisa meluncurkan Sejiwa," tandasnya.
AYO BACA : Terlalu Lama WFH, Atasi Stress dengan Cara Ini
Share this article
"KDRT yang ternyata fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Melihat perkembangan ini, tidak heran bila laporan Gugus Tugas menyampaikan bahwa persoalan covid19 adalah 20% persoalan kesehatan, 80% persoalan psikologi," ungkap Moeldoko melalui tayangan streaming di akun Youtube KSP, Rabu (29/5/2020).