AYO BACA : Masa Darurat Bencana COVID-19 Diperpanjang Hingga 29 Mei 2020
AYO BACA : Oppo Reno3 Series Diluncurkan secara Digital
JAKARTA, AYOJAKARTA.COM - Penyalahgunaan narkoba sangat berbahaya bagi tubuh manusia. Menggunakan narkoba selain merusak organ tubuh, juga mengancam keselamatan pemakainya. Lantas, bagaimana jika ibu hamil justru mengkonsumsi narkoba. Apa saja dampak yang akan ditimbulkan pada janin?
American Pregnancy Association menyebutkan, menggunakan obat-obatan terlarang merupakan tindakan yang tidak aman baik bagi ibu maupun si jabang bayi.
\"Penelitian telah menunjukkan bahwa penggunaan obat-obatan terlarang selama kehamilan dapat menyebabkan keguguran, berat badan lahir rendah, lahir prematur, solusio plasenta, kematian janin, dan bahkan kematian akibat melahirkan,\" tulis American Pregnancy Association.
Secara terperinci, berikut adalah dampak peggunaan narkoba pada ibu hamil.
1. Ganja
Ganja atau mariyuana dapat masuk ke dalam plasenta bayi. Sama seperti asap rokok, ganja mengandung racun yang dapat membuat bayi dalam kandungan tidak mendapatkan oksigen yang cukup yang dibutuhkan untuk perkembangannya.
Merokok ganja selama kehamilan dapat meningkatkan kemungkinan keguguran, berat badan lahir rendah, kelahiran prematur, keterlambatan perkembangan, dan masalah perilaku dan belajar.
2. Kokain
Kokain dapat melewati plasenta dan masuk ke sirkulasi bayi. Penyerapan kokain lebih lambat pada janin dibanding pada tubuh orang dewasa. Ini berarti kokain dapat berada dalam tubuh bayi lebih lama daripada di tubuh orang dewasa.
Menurut Organisasi Layanan Informasi Teratologi (OTIS), selama bulan-bulan awal paparan kokain dapat meningkatkan risiko keguguran. Kemudian pada masa kehamilan, penggunaan kokain dapat menyebabkan solusio plasenta yang dapat menyebabkan perdarahan hebat, kelahiran prematur, dan kematian janin. OTIS juga menyatakan bahwa risiko cacat lahir akan lebih besar ketika ibu menggunakan kokain selama kehamilan.
3. Heroin
Heroin adalah jenis narkoba yang sangat adiktif yang dapat masuk melintasi bayi dalam plasenta, dan pada akhirnya, membuat bayi dalam kandungan juga ketagihan.
Menggunakan heroin selama kehamilan dapat meningkatkan kemungkinan kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, kesulitan bernapas, gula darah rendah (hipoglikemia), perdarahan di dalam otak (perdarahan intrakranial), dan kematian bayi.
Bayi juga bisa dilahirkan kecanduan heroin dan dapat menderita gejala withdrawal symptom. Withdrawal symptom termasuk lekas marah, kejang-kejang, diare, demam, kelainan tidur, dan kekakuan sendi. Ibu yang menyuntikkan narkotika juga lebih rentan terinfeksi HIV, yang dapat ditularkan kepada anak-anak mereka yang belum lahir.
4. Metamfetamin atau sabu-sabu
Metamfetamin secara kimiawi terkait dengan amfetamin yang menyebabkan denyut jantung ibu dan bayi meningkat.
Mengkonsumsi metamfetamin selama kehamilan dapat menyebabkan masalah yang serupa dengan yang terlihat pada penggunaan kokain selama kehamilan. Bayi mendapat lebih sedikit oksigen yang dapat menyebabkan berat lahir rendah. Metamfetamin juga dapat meningkatkan kemungkinan persalinan prematur, keguguran, dan solusio plasenta.
Bayi dapat dilahirkan dengan kecanduan metamfetamin dan menderita Withdrawal symptom yang meliputi tremor, sulit tidur, kejang otot, dan kesulitan makan. Beberapa ahli percaya bahwa kesulitan belajar dapat terjadi saat anak bertambah besar.
AYO BACA : Ini Bocoran Spesifikasi Huawei P40 Series
Share this article
JAKARTA, AYOJAKARTA.COM - Penyalahgunaan narkoba sangat berbahaya bagi tubuh manusia. Menggunakan narkoba selain merusak organ tubuh, juga mengancam keselamatan pemakainya. Lantas, bagaimana jika ibu hamil justru mengkonsumsi narkoba. Apa saja dampak yang akan ditimbulkan pada janin? American Pregnancy Association menyebutkan, menggunakan obat-obatan terlarang merupakan tindakan yang tidak aman baik bagi ibu maupun si jabang bayi. "Penelitian telah menunjukkan bahwa penggunaan obat-obatan terlarang selama kehamilan dapat menyebabkan keguguran, berat badan lahir rendah, lahir prematur, solusio plasenta, kematian janin, dan bahkan kematian akibat melahirkan," tulis American Pregnancy Association.