JAKARTA PUSAT, AYOJAKARTA.COM--Menurut hasil riset IMS pada 2015, Indonesia merupakan negara dengan gangguan tiroid tertinggi di Asia Tenggara. Hingga 2014, terdapat 17 juta masyarakat Indonesia, termasuk anak-anak mengalami gangguan tiroid.
Menurut ahli endokrin anak, dr. Andi Nanis Scharina, spA (K) mengatakan bahwa gangguan tiroid pada anak dapat terjadi sejak janin dalam kandungan atau baru muncul seiring pertambahan usia. Penyebabnya pun berbagai macam.
"Penyebab gangguan tiroid pada anak, bisa karena faktor genetik, keturunan, lingkungan, paparan radias, infeksi tertentu atau ibunya kekurangan hormon tiroid akhirnya anaknya terkena hipotiroid," ujarnya, beberapa waktu lalu.
Menurutnya, gangguan tiroid pada anak memiliki efek terhadap fungsi penting perkembangan dan pertumbuhan otak pada masa emas pertumbuhannya.
"Hipotiroid kongenital efeknya besar (terhadap anak) karena menyangkut intelengensi," jelasnya.
Lebih lanjut dr. Nanis mengatakan bahwa hipotiroid kongenital umumnya tidak memberikan gejala apapun saat bayi lahir.
"Hipotiroid tidak ada gejala pada saat lahir. Pada umumnya lahirnya sehat-sehat saja karena ibunya masih mensuplai (hormon tiroid)," jelasnya.
Namun, gejala gangguan tiroid akan muncul secara perlahan seiring pertumbuhan bayi.
"Munculnya pelan-pelan ketika hormonnya tidak ada, didiganosa lebih dari 1 tahun, daya tangkapnya hanya 5-10 persen. Gejala yang bisa diperhatikan, misalny lidahnya menjulur keluar, kalau tidur ngorok, kelihatannya sembab, udelnya bodong, kulitnya kering, anaknya lemas dan BAB jarang," paparnya.
Meskipun begitu, gangguan tiroid pada anak dapat dicegah asalkan ditangani lebih cepat oleh ahli.
"Retardasi mental akibat hipotiroid kongenital bisa dicegah jika hipotiroid kongenital terdiagnosa sangat dini dan pengonatan dimulai sejak dini. Oleh karena itu, tindakan pemeriksaan tiroid pada ibu hamil serta skrining hipotiroid kongenital (SHK) pada bayi baru lahir dapat menjadi tindakan preventif terhadap gangguan tiroid," pungkasnya.

Share this article
Menurut hasil riset IMS pada 2015, Indonesia merupakan negara dengan gangguan tiroid tertinggi di Asia Tenggara. Hingga 2014, terdapat 17 juta masyarakat Indonesia, termasuk anak-anak mengalami gangguan tiroid.