JAKARTA PUSAT, AYOJAKARTA.COM--Jika mendengar perawatan filler, kita pasti akan langsung berpikir mengenai estetika. Padahal, perawatan ini memiliki fungsi rekonstruksi khususnya untuk penyakit genetis, seperti skleoderma.
Skleoderma merupakan penyakit langka yang sering diderita oleh wanita kelompok usia, 30-50 tahun. Dimana terjadi pengerasan kronis dan pengetatan pada kulit dan jaringan ikat.
"Filler juga bisa untuk rekonstruksi, khususnya untuk yang memiliki penyakit skleoderma," ujar dr. Dikky Prawiratama, Msi, SpKK di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (16/7/2019).
Menurutnya, filler dapat membantu mengembalikan bentuk wajah penderita skleoderma yang terlalu cekung atau mengeras. Sehingga, dapat kembali ke bentuk semula dan lebih kencang.
Sementara itu, filler dibagi menjadi tiga jenis, yaitu permanen, semi permanen dan tidak permanen. Selain itu, sama seperti perawatan estetik lainnya, filler juga memiliki efek samping kepada pasiennya.
Mulai dari pembengkakan di lokasi penyuntikan , hingga adanya kematian jaringan di dalam tubuh pasien.
"Efek samping dari filler itu ada. Misalnya, pembengkakan itu pasti, bintik kemerahan, nyeri pada bagian penyuntikan dan infeksi," paparnya.
Tak hanya itu, dr.Dikky mengatakan bahwa efek samping paling parah saat melakukan filler adalah adanya kematian jaringan dan kebutaan.
"Efek samping yang lebih parah itu kematian jaringan hingga kebutaan," lanjutnya.
Dr.Dikky menjelaskan bahwa semua efek samping yang membahayakan tersebut dapat dihindari asalkan ditangani oleh dokter ahli yang sudah memiliki sertifikasi.

Share this article
Jika mendengar perawatan filler, kita pasti akan langsung berpikir mengenai estetika. Padahal, perawatan ini memiliki fungsi rekonstruksi khususnya untuk penyakit genetis, seperti skleoderma.