SOLO, AYOJAKARTA.COM – Kiper legenda Timnas Indonesia, I Komang Putra Adnyana menghibahkan salah satu benda penting saat berkarier sepak bola. Eks penjaga gawang Mahesa Jenar ini menghibahkan sarung tangan merk Uhlsport yang dipakainya saat final Liga Indonesia (Ligina) musim 2006 ke Museum Titik Nol Pasoepati.
Sarung tangan bersejarah itu hingga kini disimpannya sebelum diserahkan ke Museum Titik Nol Pasoepati yang dikelola Mayor Haristanto berlokasi di Jalan Kolonel Sugiyono 37, Nusukan, Kota Solo.
Ditemui Ayojakarta.com, IKP, sebutan akrab Komang Putra menyebut, sarung tangan tersebut salah satu koleksi pribadinya yang masih terawat karena memiliki berjuta kenangan.
“Sarung tangan ini sangat berharga bagi karier sepak bola saya. Ini dipakai selama musim 2006 membela PSIS Semarang dan hanya saya pakai saat partai krusial saja,” ucapnya, Jumat (17/7/2020).
Dia menuturkan, musim 2006 PSIS saat itu diawaki di antaranya Harry Salisbury, Maman Abdurahman, Muhammad Ridwan, Gustavo Ortiz, hingga Emanuel De Porras bertemu Persik Kediri di partai puncak perebutan juara Liga Indonesia di Stadion Manahan, Kota Solo.
Kala itu, Mahesa Jenar di fase penyisihan menduduki peringkat ketiga Wilayah Barat di bawah Arema Malang, dan Persija Jakarta. Lalu melaju ke babak 8 besar berada di Grup A bersama Persik Kediri, Arema Malang, dan Persiba Balikpapan.
Di fase ini, pasukan Sutan Harhara yang kemudian digantikan asisten pelatihnya, Bonggo Pribadi, menjadi runner-up grup. Di semifinal, PSIS bertemu Persekabpas Pasuruan dan memenangi laga lewat gol tunggal Imral Usman pada menit ke-10. Kemenangan ini mengantar Mahesa Jenar melaju ke partai puncak bertemu Persik Kediri.
“Pertandingan yang selalu saya kenang, walaupun setiap pertandingan memiliki alur cerita dan kenangan berbeda. Tapi tahun 2006 itu kami ketemu Persik di final. Partai menguras tenaga dan konsentrasi. Waktu 90 menit berakhir imbang 0-0,” tuturnya mengenang.
Kedua tim bertarung sangat sengit untuk memperebutkan gelar juara bergengsi. Pada masa perpanjangan waktu, gawang Komang dibobol striker Persik, Cristian “El Loco” Gonzales pada menit ke-107 memanfaatkan umpan lambung Ebi Sukore. Di sisa waktu yang ada, PSIS tidak bisa mengejar ketertinggalan dan harus puas di posisi runner-up.
IKP mengingat pertandingan kontra Persik yang berlangsung sengit hingga mamaksa harus dilanjutkan dengan babak perpanjangan waktu. Skor kacamata 0-0 bertahan hingga beberapa saat menjelang adu tendangan penalti.
“Partai final itu Stadion Manahan penuh suporter PSIS. Kami optimistis meraih juara. Namun hasil berkata lain dan PSIS di posisi runner-up. Benar-benar laga yang menguras energi dan konsentrasi. Hampir semua pemain kelelahan," cerita IKP.
Komang yang kini menjadi pelatih kiper PSIS, mengungkapkan alasan menghibahkan sarung tangan bersejarah tersebut. "Karena kalau saya simpan di rumah tidak ada yang melihat, beda kalau di museum ini. Biar jadi sejarah dan membuat motivasi bagi pesepak bola masa depan Indonesia," ungkapnya.
Komang gantung sarung tangan pada musim 2013 usai membela Persis Solo. Namanya melambung di kancah persepakbolaan Tanah Air saat membela PSIS Semarang. Dia membawa PSIS juara pada musim 1998/1999.
Kesuksesan bersama PSIS merembet ke level timnas. Dia dipanggil membela skuad Garuda pada tahun 1999 di SEA Games dan Piala Asia pada tahun 2000 di Libanon bersama Bima Sakti, Seto Nurdiyantoro, Uston Nawawi, Eko Purjianto, Bejo Sugiantoro, Kurniawan DY, I Putu Gede, Ismed Sofyan, Eduard Ivakdalam, dan Slamet Riyadi.
Kini, Komang menjadi asisten kiper Mahesa Jenar memoles Jandia Eka Putra dan Joko Ribowo. Sebelum bergabung dengan PSIS sebagai pelatih kiper, bapak dua putra ini memoles kiper Persis Solo kompetisi Liga 2 musim 2017 dan 2018.
Mayor Haristanto, penggagas sekaligus pengelola Museum Titik Nol Pasoepati mengaku senang dengan “bergabungnya” sarung tangan bersejarah salah satu kiper legendaris Timnas Indonesia tersebut. Sarung tangan IKP menjadi koleksi kedua setelah sebelumnya sarung tangan kiper Timnas, Listiyanto “Bejo” Raharjo juga sudah lebih dulu terpajang.
“Ini menjadi momentum membahagiakan bagi museum ini. Kita tahu, betapa hebatnya IKP saat aktif bermain membela Timnas, PSIS Semarang, maupun menjadi kiper Persis Solo era LPIS pada musim 2013. Kami beharap, sejarah-sejarah pesepak bola top Tanah Air akan selalu dikenang dan menjadi motivasi bagi pesepak bola masa kini,” ucap Mayor yang juga Presiden Republik Aeng-Aeng.

Share this article
Komang Putra menyebut, sarung tangan tersebut salah satu koleksi pribadinya yang masih terawat karena memiliki berjuta kenangan.