AYOJAKARTA.COM - Gelaran Piala Dunia 2026 terus menghadirkan drama emosional yang mengejutkan para pencinta sepak bola di seluruh dunia.
Dua sorotan utama jatuh pada kegagalan tragis Cristiano Ronaldo bersama Portugal serta nasib di ujung tanduk pelatih Amerika Serikat, Mauricio Pochettino, setelah tim tuan rumah tersingkir di babak 16 besar.
Tragedi Angka 7 bagi Cristiano Ronaldo
Bagi Cristiano Ronaldo, angka 7 adalah simbol kejayaan yang melekat sepanjang kariernya, mulai dari nomor punggung ikonik hingga branding "CR7" yang mendunia.
Namun, pada babak 16 besar Piala Dunia 2026, angka tersebut seolah berbalik menjadi kutukan.
Portugal harus angkat koper setelah takluk 0-1 dari Spanyol dalam laga dramatis di Stadion Dallas pada Selasa, 7 Juli 2026.
Ironi ini terasa sangat mendalam karena kekalahan tersebut terjadi tepat pada tanggal 7 di bulan ke-7.
Padahal, angka 7 merupakan angka favorit Ronaldo. Kecintaannya pada angka ini bahkan melampaui lapangan hijau. Sang megabintang bahkan diketahui sempat memiliki ambisi besar untuk memiliki tujuh orang anak.
Alih-alih merayakan kesuksesan di tanggal keramatnya, Ronaldo justru meninggalkan lapangan dengan air mata, menyadari bahwa ini kemungkinan besar adalah panggung terakhirnya di Piala Dunia.
Di sisi lain, angka 7 justru berpihak pada rival abadi Ronaldo, Lionel Messi, yang pada hari yang sama memimpin persaingan Sepatu Emas dengan koleksi tujuh gol.
Nasib Mauricio Pochettino di Ujung Tanduk
Kekecewaan tidak hanya milik Portugal. Tuan rumah Amerika Serikat juga harus menelan pil pahit setelah digilas Belgia dengan skor telak 4-1.
Kekalahan di Seattle ini membuat posisi pelatih kepala, Mauricio Pochettino, kini terancam dicopot.
Pochettino, yang didatangkan dengan ekspektasi tinggi dan gaji besar sebagai "tentara bayaran" untuk membawa AS ke level baru, dianggap gagal memenuhi janjinya.
Meskipun mencatatkan rekor tiga kemenangan di turnamen ini, ia hanya mampu membawa tim mencapai babak 16 besar—pencapaian yang sama dengan para pendahulunya.
Kritik tajam mengarah pada ketidakmampuan Pochettino memotivasi tim saat menghadapi lawan elite seperti Belgia.
Meskipun Pochettino enggan berkomentar banyak mengenai masa depannya, banyak pihak meyakini laga tersebut adalah pertandingan terakhirnya bersama skuad Stars and Stripes.
Dilansir dari Fox Sports, Federasi Sepak Bola AS (USSF) pun dikabarkan mulai mempertimbangkan kandidat baru, termasuk manajer Portugal Roberto Martinez atau pelatih domestik seperti B.J. Callaghan.***
Share this article
Portugal tersingkir dari Piala Dunia 2026 usai kalah 0-1 dari Spanyol pada 7 Juli, menjadi mimpi buruk Ronaldo. Sementara itu, nasib pelatih AS, Pochettino, di ujung tanduk setelah digilas Belgia 4-1.