AYOJAKARTA.COM – Belum surutnya antusiasme publik terhadap kasus Jessica Wongso merupakan dampak tayangan Netflix.
Keingintahuan publik terhadap proses keadilan bagi Jessica Wongso, lebih disebabkan karena viralnya tayangan dan bukan situasi peradilan.
Dari tayangan tersebut, publik kemudian menyimpulkan bahwa vonis terhadap Jessica Wongso lahir dari sebuah proses peradilan yang sesat.
Penilaian tersebut merupakan pernyataan yang disampaikan Johnson Panjaitan saat berbincang dalam siniar bersama Jurnalis Senior Gigin Praginanto.
“Praktik vonis terhadap Jessica yang sudah dieksekusi, ternyata adalah peradilan sesat karena diadili berdasarkan berkas-berkas yang juga sesat,” tegas Johnson.
Timbulnya kesesatan hukum, menurut Johnson bukan saja terjadi dalam kasus kopi sianida yang melibatkan Jessica Wongso.
Kesesatan hukum merupakan fakta realitas yang terjadi dalam banyak aspek hidup mulai dari korupsi politik, sampai dengan korupsi judisial.
Terkait dengan kasus kopi sianida, Johnson menilai sejak awal terjadinya peristiwa sudah mengalami sejumlah kesesatan hukum.
Tidak adanya berkas visum terhadap jenazah Wayan Mirna, olah TKP serta penggunaan sains dalam perkara juga masih perlu dipertanyakan fungsi sebenarnya.
“Sains kalau digunakan hanya untuk membenar-benarkan dan menutup-nutupi, efeknya jadi seperti ini, jadi peradilan sesat,” ujar Johnson.
Penggunaan sains, menurut Johnson juga perlu dilakukan sejak awal kasus dengan cara mengotopsi jenazah Wayan.
Sesatnya proses penegakan hukum terhadap Jessica, selain terindikasi melibatkan sejumlah orang-orang penting juga mengundang reaksi sejumlah politisi.
Saat dialog kelayakan dan kepantasan calon hakim Agung, Anggota Komisi III DPR RI Benny K Harman sempat menyoroti kasus kopi sianida secara eksplisit.
Dalam pandangannya, Benny menilai ada sejumlah variabel yang akan menjadi penentu keadilan bagi seseorang.
Disamping tekanan publik melalui viralitas, kekuatan ekonomi, juga diperlukan kekuasaan sebagai elemen penentu keadilan di negara ini.
“Keadilan akan datang apabila ketiganya ada di satu tangan, di satu genggaman, money, viral dan power,” tegas Benny.
Sehubungan dengan kasus Jessica, tidak adanya tiga elemen keadilan yang dimaksud Benny juga menjadikan lemahnya fungsi kontrol terhadap penegak hukum.
Baca Juga: Begini Reaksi Kocak Mahfud MD Ditanya Soal Debat Khusus Cawapres dari KPU
Setiap pemberkasan yang dijadikan sebagai dasar dalam peradilan, menurut Johnson harus melalui tahapan yang sesuai prosedur, metodologi serta diawasi dengan fungsi kontrol.
Kepastian tersebut menurut Johnson sangat penting, sebagai upaya mencari kebenaran secara materil.
“Dari berkas yang tidak benar itu, Jessica diadili, berkas harus diuji bukan jadi berkas lenong seolah skenario,” tegas Johnson dikutip Ayojakarta, Senin 4 Desember 2023 dari Bravos Radio Indonesia.

Share this article
Timbulnya kesesatan hukum, menurut Johnson Panjaitan bukan saja terjadi dalam kasus kopi sianida yang melibatkan Jessica Wongso.