BEKASI TIMUR, AYOJAKARTA.COM – Luna, bukan nama sebenarnya, tak henti mengucap syukur ketika suami dan adiknya dinyatakan sembuh dari Covid-19. Hasil swab mereka dinyatakan negatif setelah menjalani isolasi di rumah selama 13 hari.
Wanita 34 tahun ini lantas bercerita bagaimana kedua anggota keluarganya tersebut terinfeksi virus corona. Penelusuran yang dilakukan Puskesmas Bekasi Jaya, Bekasi Timur menunjukkan bahwa penularan berasal dari klaster keluarga.
“Adik aku sempat main ke rumah om dimana mereka itu sekeluarga baru pulang dari Banten. Om aku duluan yang sakit, terus enggak lama adik aku, baru setelah itu suami aku. Nah, keluarga om aku itu sekeluarga juga positif,” kata Luna kepada Ayobekasi.net, Kamis (31/12/2020).
Ketika adik dan suaminya dinyatakan positif, maka seluruh anggota keluarga lain yang berjumlah enam orang ikut dilakukan swab PCR test. Beruntung, mereka semua dinyatakan negatif.
“Jadi satu rumah kami ada delapan orang, yang positif dua, sementara yang lain alhamdulillah negatif. Tapi, tetap waktu isolasi mandiri kami misah di kamar dan kamar mandi yang beda,” ujarnya.
Luna lantas mengungkap dugaan dirinya tidak ikut tertular Covid-19 walaupun berstatus kontak erat dari sang suami. Selain disiplin menjaga daya tahan tubuh, ia juga selalu memakai masker di dalam rumah.
“Kalau saya pribadi memang di rumah pun pakai masker, kecuali makan sama tidur, atau lagi sendirian di kamar. Bisa jadi itu (memakai masker di rumah) yang melindungi saya, bisa juga hal lain, enggak tahu pasti,” kata dia.
Sebagai keluarga penyintas Covid-19, Luna berharap gerakan memakai masker dalam rumah bisa lebih digencarkan. Terutama bagi mereka yang masih memiliki aktivitas pekerjaan di luar rumah. Hal itu sekaligus membantu menekan penyebaran Covid-19 dari klaster keluarga.
“Dalam satu rumah kan kita enggak sendirian, ada anggota keluarga yang lain, yang kita harus pikirin juga. Enggak susah kok pakai masker di rumah, apalagi sekarang banyak model masker yang bikin nyaman,” ujarnya.
Sementara itu, Dokter Spesialis Penyakit Dalam dr RA Adaninggar, SpPD menjelaskan bahwa idealnya orang yang sehari-hari masih beraktivitas di luar rumah dan bertemu orang banyak adalah orang yang berisiko tinggi sakit dan menularkan penyakit.
“Jadi, memakai masker di rumah adalah salah satu usaha untuk mengurangi risiko menularkan ke anggota keluarga lain bila ternyata membawa virus dan tidak bergejala,” kata dr Adaninggar dalam edukasinya di sosial media.
Merujuk pada sejumlah penelitian, masker terbukti mengurangi risiko terjadinya klaster keluarga karena mengurangi risiko penularan sejak saat fase presimptomatik (beberapa hari sebelum muncul gejala di mana fase yang sangat menular).
“Namun, hingga sekarang belum ada rekomendasi khusus untuk penggunaan masker di rumah,” ujarnya.
“Hanya diwajibkan terutama bila sedang sakit, sedang atau ada keluarga yang sedang menjalani isolasi mandiri di rumah, dan bila menerima tamu,” lanjut dr Adaninggar.
Adapun menurut penelitian lain yang disebut oleh kandidat doktor dari Fakultas Kedokteran Kobe University dr Adam Prabata, penggunaan masker dalam rumah memiliki efektivitas 79% untuk menurunkan penularan Covid-19 antar anggota keluarga.
“Efektivitas tersebut dicapai bila masker digunakan oleh anggota keluarga di rumah saat belum ada yang bergejala,” ujar dia dalam edukasinya di sosial media.
Share this article
Luna, bukan nama sebenarnya, tak henti mengucap syukur ketika suami dan adiknya dinyatakan sembuh dari Covid-19.