AYOJAKARTA.COM - Program bioetanol E20 di India kini tengah menghadapi gelombang kritik yang sangat tajam.
Kebijakan bahan bakar campuran etanol 20 persen ini memicu kekhawatiran besar di kalangan pengguna kendaraan.
Sebuah video viral di media sosial baru-baru ini memperlihatkan pemilik Toyota Innova Hycross yang mengamuk karena mobilnya rusak.
Pemilik kendaraan tersebut mengeklaim bahwa sampel bahan bakar dari mobilnya mengandung kadar etanol hingga 40 persen.
Angka tersebut dua kali lipat lebih tinggi dari batas resmi yang ditetapkan pemerintah India.
Meskipun video tersebut memicu perdebatan luas, pihak Toyota memberikan bantahan resmi.
"Jelas terlihat bahwa insiden ini tidak berkaitan dengan penggunaan bahan bakar E20 dan semata-mata disebabkan oleh bahan bakar tak standar dan terkontaminasi," demikian pernyataan resmi Toyota, dikutip dari Rushlane.
Menurut pabrikan, kerusakan tersebut kemungkinan besar disebabkan oleh penggunaan bahan bakar yang terkontaminasi atau tidak standar.
Para ahli menduga masalah utama pada kasus tersebut adalah fenomena pemisahan fase atau phase separation.
Etanol memiliki sifat higroskopis yang sangat mudah menyerap air dari udara sekitar.
Jika bahan bakar terkontaminasi air, etanol akan terpisah dari bensin dan mengendap di dasar tangki mesin.
Situasi semakin memanas setelah muncul laporan teknis dari lembaga riset Automotive Research Association of India (ARAI) yang belum dipublikasikan secara resmi.
Mengutip dari The Times of India, laporan tersebut mengungkapkan adanya risiko jangka panjang penggunaan E20 pada kendaraan yang dirancang untuk standar E10.
Hasil studi menunjukkan bahwa campuran etanol tinggi ini dapat merusak komponen karet pada sistem bahan bakar.
Bagian-bagian sensitif seperti selang bahan bakar, paking, segel, hingga cincin-O dilaporkan mengalami penurunan kualitas.
Bahkan, ditemukan satu kasus kegagalan katup buang pada mesin BS6 setelah menjalani uji ketahanan selama 265 jam.
Keresahan ini memicu aksi protes besar-besaran dari masyarakat di Jantar Mantar, New Delhi.
Para pengunjuk rasa menuntut pemerintah meninjau kembali kewajiban penggunaan bioetanol E20.
Kritik juga datang dari politisi oposisi yang menilai kebijakan ini diterapkan tanpa konsultasi publik yang memadai.
Jaksa Agung India bahkan sempat menyebut program bioetanol ini sebagai sebuah "eksperimen" dalam sebuah persidangan.
Di sisi lain, para produsen otomotif besar seperti Maruti Suzuki dan Hero MotoCorp tetap membela kebijakan pemerintah.
Mereka mengeklaim data servis jutaan kendaraan selama tahun fiskal terakhir tidak menunjukkan adanya kenaikan kerusakan akibat E20.
Namun, produsen mengakui bahwa penggunaan E20 menurunkan efisiensi bahan bakar kendaraan sekitar 3 hingga 3,5 persen.
Percepatan target penerapan E20 dari tahun 2030 menjadi tahun 2025 dianggap banyak pihak sebagai langkah yang terlampau terburu-buru.
Kini, industri otomotif harus berjuang keras meyakinkan konsumen di tengah bayang-bayang isu kerusakan mesin permanen.***
Share this article
Program E20 di India dikritik karena isu kerusakan karet mesin E10 & kasus pemisahan fase air-etanol. Meski pabrikan membela, warga protes akibat target 2025 dinilai terburu-buru.