KOTA BEKASI, AYOJAKARTA.COM – Pengurus masjid di Kota Bekasi diimbau untuk menjalani rapid test Covid-19 sebelum melaksanakan salat Iduladha, Jumat (31/7/2020). Namun, tak sedikit dari mereka yang ketakutan dan malah menghindari tes.
Salah satu pengurus masjid di Aren Jaya, Bekasi Timur, Hanafi memiliki keyakinan bahwa dirinya dalam kondisi sehat dan bugar, sehingga tidak perlu menjalani rapid test.
“Insha Allah sehat wal afiat, tidak dalam kondisi sakit atau tidak enak badan,” kata dia kepada Ayobekasi.net - bagian dari Ayo Media Network, Kamis (30/7/2020).
Pria 34 tahun ini punya alasan tersendiri mengapa dirinya enggan di-tes. Pertama, ia memang takut akan jarum suntik. Kedua, jika hasil tes menyatakan reaktif, maka hal itu akan menambah beban pikiran.
“Bismillah aja memang sehat. Kalau dites hasilnya gimana-gimana takut kepikiran nanti malah bikin imun turun,” ujarnya.
AYO BACA : Pemkab Bekasi Kurbankan 29 Sapi dan 7 Kambing dari Berbagai Sohibul Kurban
Hal senada juga dikatakan Amri, pengurus masjid di daerah Kayuringin, Bekasi Selatan. Menurut dia, pengujian melalui rapid test seringkali tidak akurat dan hanya menimbulkan kepanikan.
Meski begitu, dia pasrah apabila seandainya pemerintah setempat mewajibkan setiap warga atau pengurus masjid mengikuti rapid test.
“Ini kan kita masih boleh milih mau ikut rapid apa enggak. Selama boleh milih ya mendingan enggak sih. Tapi, kalau emang dipaksa dan diwajibin, apa boleh buat,” kata dia.
Menurut Amri, ada hal lain yang lebih penting, yakni kedisiplinan diri mentaati segala protokol kesehatan yang berlaku. Memakai masker dan menjaga jarak sosial merupakan kewajiban mutlak.
“Yang penting sih kitanya jaga diri aja, jangan lepas masker. Sering-sering cuci tangan juga,” ujarnya.
AYO BACA : Iduladha, CFD Bekasi Ditiadakan
Share this article
Pria 34 tahun ini punya alasan tersendiri mengapa dirinya enggan di-tes. Pertama, ia memang takut akan jarum suntik. Kedua, jika hasil tes menyatakan reaktif, maka hal itu akan menambah beban pikiran.