AYOJAKARTA.COM - Kemenangan dramatis Argentina atas Mesir memicu perdebatan panas di jagat sepak bola.
La Albiceleste baru saja memastikan tiket perempat final Piala Dunia 2026 setelah menang tipis 3-2, pada Rabu, 8 Juli 2026 dini hari.
"Sejujurnya saya sangat bahagia karena kami berhasil lolos, terlebih dengan cara seperti ini. Saat tertinggal 2-0, situasinya sangat sulit. Kami sangat menderita. Namun tim ini tidak pernah menyerah dan terus berjuang sampai peluit akhir ditiupkan," kata Lionel Messi, dilansir dari ESPN.
Namun, hasil laga perempat final Piala Dunia 2026 ini diwarnai tuduhan serius mengenai keberpihakan wasit dan FIFA.
Pelatih Mesir, Hossam Hassan, merasa timnya telah menjadi korban ketidakadilan yang nyata.
"Kami tidak melihat rasa hormat ataupun sportivitas. Gol kami dianulir, tapi kemungkinan penalti untuk kami bahkan tidak diperiksa VAR. Ini adalah ketidakadilan," ujar Hossam Hassan.
Kontroversi utama berpusat pada penggunaan Video Assistant Referee (VAR) dalam laga tersebut.
Gol indah pemain Mesir, Mostafa Zico, dianulir oleh wasit Francois Letexier setelah intervensi VAR.
Di sisi lain, Mesir merasa mereka layak mendapatkan hadiah penalti yang bahkan tidak diperiksa oleh VAR.
Hassan secara terbuka menyebut adanya kemungkinan FIFA ingin menjaga Lionel Messi agar tetap bersaing di turnamen.
Kisah teori konspirasi ini sebenarnya bukan hal baru bagi tim nasional Argentina.
Kecurigaan publik sudah muncul sejak Piala Dunia 1978 saat mereka mengalahkan Peru 6-0.
Pada Piala Dunia 2022 di Qatar, Argentina juga mencatat rekor dengan memperoleh lima hadiah penalti.
Hingga saat ini, Argentina kembali menjadi tim yang paling sering mendapatkan penalti di Piala Dunia 2026.
Data statistik memperkuat keraguan beberapa pihak mengenai standar ganda wasit.
Argentina tercatat hanya menerima satu kartu kuning untuk setiap 19,7 pelanggaran yang mereka lakukan.
Angka ini sangat kontras dengan Inggris yang menerima satu kartu kuning setiap 7,7 pelanggaran.
Meskipun melakukan lebih banyak pelanggaran, Argentina justru lebih jarang dihukum kartu oleh pengadil lapangan.
Sorotan tajam juga mengarah pada perlakuan istimewa terhadap Lionel Messi.
Messi sempat terhindar dari kartu merah saat melakukan tekel keras terhadap kapten Aljazair di awal turnamen.
Padahal, pemain lain seperti Folarin Balogun langsung diusir keluar lapangan untuk insiden yang dinilai serupa.
Jika Messi dihukum, ia mungkin tidak akan mencetak lima dari delapan golnya sejauh ini.
Selain itu, bagan turnamen Piala Dunia 2026 dinilai sangat menguntungkan Argentina.
Perubahan mekanisme undian FIFA membuat tim-tim unggulan seperti Argentina dan Inggris tidak bertemu kekuatan besar lain sebelum semifinal.
Argentina sejauh ini hanya menghadapi tim dengan peringkat dunia yang jauh di bawah mereka, seperti Tanjung Verde dan Mesir.
Pakar hubungan internasional, Shaiel Ben-Ephraim, bahkan mengidentifikasi sembilan keputusan wasit yang menguntungkan Argentina sepanjang turnamen ini.
Profesor Simon Chadwick dari University of Nottingham menilai keputusan VAR dalam laga melawan Mesir memang tidak lazim dan memberikan dampak psikologis besar.
Meski begitu, para pakar tetap menegaskan bahwa belum ada bukti konkret mengenai pengaturan pertandingan oleh FIFA.
"Teknologi ini seharusnya mengurangi keraguan dan menciptakan konsistensi. Namun dalam pertandingan ini justru memunculkan dampak psikologis yang besar," ucap Simon Chadwick kepada Al Jazeera.
Share this article
Argentina lolos ke perempat final Piala Dunia 2026 usai menang dramatis 3-2 atas Mesir. Laga diwarnai protes keras pelatih Mesir terkait kontroversi VAR yang dinilai menguntungkan Lionel Messi cs.