JEPARA- AYOJAKARTA.COM - Kota Jepara terkenal dengan kerajinan ukiran kayu.
Kerajinan ukiran kayu di daerah itu memiliki sejarah yang panjang.
Konon, kerajinan ukiran kayu di Jepara sudah ada sejak tempat itu masih menjadi bagian dari Kerajaan Kalinyamat. Walaupun sempat mengalami pasang surut, kini kerajinan ukir kayu di Jepara terus bergeliat.
Dari sekian banyak perajin salah satunya yakni Parisih. Parisih adalah perempuan seorang perajin toples kayu asal Jepara. Bakat Ibu Parisih yang ia sudah miliki sejak lama dituangkan dalam ukiran toples-toples kayu yang ia buat bersama suami dari tahun 1987.
Baca Juga: Diresmikan, Kota Bogor Miliki Gedung Pusat Kerajinan
Dengan hasil karyanya, Parisih yang memiliki jiwa seni ditambah keahlian dan ketelatenan tinggi sehingga menghasilkan karya ukiran yang menarik dan enak dipandang mata. Selain itu, Parisih dikenal selalu mengikuti tren zaman sehingga motifnya tidak monoton sejak dari dulu.
Melalui siaran pers yang diterima Ayojakarta.com Rabu (15/12/2021) pada tahun 2016, Parisih bergabung dengan PNM Mekaar dengan pembiayaan sebesar Rp2 juta.
Ia memulai bisnisnya dengan dari membeli kayu mahoni gelondongan, dilanjutkan dengan memotong kayu, membubut, sampai mengukir ia lakukan sendiri bersama sang suami.
Pada awal bisnisnya, Parisih mendapatkan pesanan toples kayu sebanyak 1000 toples.
Baca Juga: Kerajinan Tempat Tisu Miniatur Mobil Asal Bandung Go International
“Awalnya pesanan 1000 toples saya tolak, karena saya dan suami tidak punya modal. Tapi pelanggan saya terus memaksa karena sudah percaya sama saya. Alhamdulillah, bertepatan dengan pembiayaan dari PNM Mekaar, saya bisa menyelesaikan pesanan sebanyak 1000 toples.” ungkapnya.
Usaha Parisih kian berkembang, hingga ia bisa mencukupi kebutuhan keluarganya.
Namun, setiap usaha pasti ada pasang surutnya.
Mulai goyang usaha Parisih bermula dari tahun 2017, suami Parisih meninggal dunia. Hal ini membuat Parisih putus asa dan ia memutuskan untuk berhenti berusaha dan tidak menerima pesanan toples kayu.
Baca Juga: Jalan Pedati dan Lawang Seketeng Bakal Jadi Sentra Kerajinan Khas Bogor
Setelah 6 bulan, Parisih didukung oleh anak sulungnya untuk melanjutkan bisnis. Dengan semangat anak sulungnya yang berjanji akan membantunya meneruskan bisnis ayahnya, Parisih tergerak untuk melanjutkan usahanya hal ini karena ia menyadari, tidak hanya butuh ketekunan dalam membangkitkan bisnis yang sedang turun, namun juga perlu menjaga mental agar tidak patah semangat lagi di tengah jalan.
Parisih memulai dengan mencoba mengajukan pembiayaan lagi sebesar Rp4 juta untuk membeli mesin bubur baru yang lebih besar, dengan sisanya ia belikan kayu.
Omzet rata-raya yang diterima kisaran Rp6 juta perbulan
Setiap harinya, Parisih bersama anak sulungnya dapat membuat toples sampai 25 buah.
Hingga saat ini, Ibu Parisih akhirnya naik kelas dengan menjadi nasabah PNM Mekaar Plus dengan pembiayaan sebesar Rp8 juta.

Share this article
Dengan hasil karyanya, Parisih yang memiliki jiwa seni ditambah keahlian dan ketelatenan tinggi sehingga menghasilkan karya ukiran menarik.