JAKARTA, AYOJAKARTA.COM - Awal pekan ini, harga minyak dunia masih tidak menunjukkan perbaikannya. Hal ini karena semakin banyak orang di rumah dan tidak menggunakan bahan bakar, serta banyak industri yang belum bisa beroperasi karena hantaman virus corona.
Mengutip Reuters, Selasa (28/4/2020) minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), yang menjadi patokan Amerika Serikat, ditutup anjlok 4,16 dolar AS atau 24,6 persen menjadi 12,78 dolar AS per barel. Sebelumnya, harga pada perdagangan Senin atau awal pekan, minyak Brent jatuh ke bawah 20 dolar Amerika Serikat (AS) per barel dan WTI merosot sebesar 25%.
AYO BACA : Setelah Hancur Lebur, Harga Minyak Dunia Naik 10%
Sementara itu, minyak mentah berjangka Brent, sebagai patokan internasional, merosot 1,45 dolar AS atau 6,8%, menjadi 19,99 dolar AS per barel.
Permintaan bahan bakar anjlok 30% secara global, dan tempat penyimpanan menjadi sangat berharga, dengan sekitar 85% dari penyimpanan on-shore di seluruh dunia penuh pada pekan lalu, demikian menurut data Kpler.
AYO BACA : Arab Saudi dan UEA Tingkatkan Kapasitas Produksi, Harga Minyak Dunia Kembali Turun
Kekhawatiran seputar ekonomi terus menghantui pasar. Output ekonomi global diperkirakan mengalami kontraksi sebesar 2% tahun ini--lebih buruk dari krisis keuangan--sementara permintaan menyusut 30% karena pandemi Covid-19.
Pedagang juga mengatakan kontrak minyak mentah turun sebagian karena kendaraan investasi ritel seperti ETF mengalihkan investasi mereka dari kontrak Juni untuk menghindari terjebak seperti yang terjadi seminggu lalu. Yaitu ketika kontrak minyak untuk pengiriman Mei turun menjadi minus 37,63 dolar AS per barel.
Minyak berjangka menutup kerugian mingguan ketiga berturut-turut pekan lalu dengan penurunan 24% untuk Brent dan -7% untuk WTI. Pasar jatuh selama delapan dari sembilan minggu terakhir.
AYO BACA : Harga Minyak Dunia Minus, Wall Street Ikut Ambles

Share this article
Permintaan bahan bakar anjlok 30% secara global, dan tempat penyimpanan menjadi sangat berharga, dengan sekitar 85% dari penyimpanan on-shore di seluruh dunia penuh pada pekan lalu, demikian menurut data Kpler.