JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Dampak buruk wabah virus corona (COVID-19) telah terjadi di hampir semua segmen masyarakat. Nelayan, misalnya, juga megap-megap kehidupan dan perekonomiannya karena COVID-19.
Pemerintah diminta memberikan perhatian serius kepada nelayan. Pasalnya, hingga kini, dalam skema pemberian Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan beberapa bantuan yang dipersiapkan pemerintah untuk mengatasi dampak buruk wabah COVID-19, segmen nelayan hampir saja terlewatkan.
Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga Dewan Pimpinan Pusat Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Siswaryudi Heru menyampaikan, memang nelayan yang terpapar wabah Virus Corona, boleh dibilang kecil. Sangat amat kecil, bahkan tak ada.
Namun, kondisi wabah COVID-19 ini telah meluluhlantakkan perekonomian dan kehidupan nelayan Indonesia. Nelayan, kata dia, bisa melaut tapi hasil tangkapannya tak laku.
“Jadi, Pak Presiden, nelayan juga mengalami kondisi yang sangat terpuruk. Tentu saja nelayan juga sangat membutuhkan BLT dan bantuan-bantuan lainnya yang dipersiapkan pemerintah. Jangan diabaikan. Sebab, nelayan sepertinya hampir saja terabaikan dalam skema pemberian bantuan itu,” tutur Siswaryudi, Minggu (19/4/2020).
Siswaryudi Heru yang juga Ketua Bidang Kelautan dan Perikanan Pengurus Pusat Dewan Ekonomi Indonesia Timur (DEIT) itu mengatakan, pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) juga berimbas sangat berat bagi masyarakat menengah ke bawah, termasuk nelayan.
“Nelayan kita masih sangat mengandalkan hasil tangkapan ikan. Kondisi ini menyebabkan, nelayan kesulitan untuk memperoleh modal kerja untuk melaut dan menangkap ikan. Selain itu, kalaupun ada tangkapan ikan, sudah tidak laku. Tak ada orang yang datang membeli. Ya sama saja, akan mati pelan-pelan,” tuturnya.
Jika un ikan hasil tangkapan nelayan disimpan di cold storage, lanjut Wakil Ketua Komite Tetap (Wakomtap) Hubungan Antar Lembaga Dewan Pengurus Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) ini, nelayan tetap membutuhkan tenaga dan upah.
“Belum lagi, ikan yang disimpan di Cold Storage itu akan mengalami penurunan kualitas. Karena lama disimpan dan tetap tak laku,” terang Siswaryudi.
Rencana pemerintah untuk membuka jalur ekspor impor ikan ke luar negeri di tengah pandemik virus corona ini, menurut dia, juga tak banyak membuka peluang bagi nelayan Indonesia.
“Masalahnya, pada takut karena PSBB dan virus corona ini, enggak berani. Ya tetap saja takkan ada solusi bagi keterpurukan yang dialami nelayan kita,”ujarnya.
Meski begitu, Siswaryudi Heru yang juga anggota menekankan, sembari menunggu situasi sedikit membaik, pemerintah hendaknya juga memberikan bantuan kepada nelayan Indonesia.
“Bantuan berupa BLT, bansos, dan bantuan-bantuan lainnya itu sangat dibutuhkan nelayan Indonesia juga saat ini,” jelasnya.

Share this article
Kondisi wabah COVID-19 ini telah meluluhlantakkan perekonomian dan kehidupan nelayan Indonesia. Nelayan, kata dia, bisa melaut tapi hasil tangkapannya tak laku.