Semarang selalu menyisakan kenangan manis bagi siapa pun yang melintasinya, terutama saat musim mudik Lebaran tiba. Sebagai kota transit utama di jalur Pantura, Semarang tidak hanya menawarkan keindahan arsitektur kolonial, tetapi juga kekayaan kuliner yang menggugah selera. Di balik hiruk pikuk arus balik, terdapat satu destinasi wajib yang menjadi persinggahan para pemburu buah tangan: Bandeng Juwana Elrina.
Bagi masyarakat luas, membawa pulang kotak berisi bandeng duri lunak dari toko ini sudah menjadi tradisi turun-temurun. Namun, di balik kemegahan tokonya yang kini berdiri kokoh di pusat kota, tersimpan narasi perjuangan keluarga yang luar biasa dan peran strategis perbankan dalam memajukan ekonomi kerakyatan.
Perjalanan Bandeng Juwana Elrina tidak bermula dari modal besar. Jason Nathaniel Kusmadi, cucu dari pendiri usaha legendaris ini, membagikan sekelumit kisah masa lalu sang kakek. Dahulu, sang kakek memendam cita-cita mulia untuk memiliki bisnis mandiri. Motivasi utamanya sangat menyentuh: ia ingin memastikan anak-anaknya bisa mengenyam pendidikan hingga ke jenjang universitas yang lebih tinggi, bahkan sampai ke mancanegara.
Awalnya, keluarga sempat berencana membuka usaha toko roti (bakery). Namun, impian tersebut terbentur keterbatasan modal yang cukup signifikan. Tak hilang akal, sang kakek mendapatkan inspirasi saat melihat banyaknya penjual ikan bandeng di lingkungan tempat tinggalnya. Dari sanalah muncul ide untuk mengolah potensi lokal tersebut menjadi sesuatu yang berbeda.
Keluarga pun mulai bereksperimen memasak ikan bandeng di dapur sendiri dan menjajakannya tepat di depan rumah. Usaha ini resmi berdiri pada 3 Januari 1981 dengan fasilitas yang sangat jauh dari kata mewah.
"Tempat usaha kami kala itu bukanlah sebuah toko yang megah seperti saat ini, melainkan hanya berupa gerai mungil yang menyatu dengan bangunan rumah tinggal, yang juga merangkap sebagai tempat praktik dokter," ungkap Jason mengenang masa sulit tersebut.
Ketekunan keluarga dalam menjaga kualitas rasa membuahkan hasil manis. Hanya dalam waktu tiga tahun, tepatnya pada 1984, kios mungil tersebut bermetamorfosis menjadi sebuah toko oleh-oleh yang representatif. Produk andalannya tetap sama, yakni bandeng duri lunak atau yang lebih populer dengan sebutan bandeng presto.
Seiring berjalannya waktu, Bandeng Juwana Elrina terus melakukan diversifikasi produk untuk memanjakan lidah pelanggan. Kini, pengunjung tidak hanya menemukan bandeng presto biasa, tetapi juga varian lain yang inovatif seperti bandeng asap, bandeng dalam sangkar, otak-otak bandeng, hingga boneless bandeng.
"Meskipun bandeng tetap menjadi komoditas utama kami, namun jika kami hanya mengandalkan penjualan ikan bandeng semata, tentu akan sangat sulit bersaing dengan pelaku usaha lainnya. Oleh sebab itu, kami melakukan inovasi dengan memproduksi makanan khas lain seperti lumpia, tahu bakso, bakpia, hingga wingko babat," jelas Jason mengenai strategi bisnisnya.
Salah satu kunci sukses Bandeng Juwana Elrina adalah semangat kolaborasinya. Toko ini tidak hanya menjual produk internal, tetapi juga berfungsi sebagai hub bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di wilayah Semarang dan sekitarnya. Dengan konsep one stop shopping, wisatawan dapat membeli berbagai camilan khas Jawa Tengah lainnya dalam satu tempat, seperti moci, keripik, abon, hingga jenang.
Strategi ini terbukti efektif menarik minat pemudik. Jason menegaskan bahwa tujuannya adalah mempermudah konsumen. Jika pelanggan sudah berada di gerai Bandeng Juwana, mereka tidak perlu lagi mencari oleh-oleh ke lokasi lain karena semua kebutuhan sudah tersedia secara lengkap di sana.
Keberhasilan Bandeng Juwana Elrina tidak lepas dari dukungan mitra strategis seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI). Kolaborasi ini tidak hanya mencakup urusan finansial, tetapi juga menyentuh aspek fundamental pengembangan bisnis.
BRI memberikan dukungan komprehensif yang meliputi akses pembiayaan, pelatihan pengelolaan keuangan, hingga membantu pengurusan izin usaha seperti Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) dan sertifikat halal.
Di lokasi toko, BRI bahkan menghadirkan BRI Corner. Area khusus ini menjual berbagai produk kerajinan unik yang tidak tersedia di etalase utama, memberikan panggung tambahan bagi pengrajin lokal. Tak hanya itu, pelanggan juga dimanjakan dengan berbagai program promosi seperti cashback, penukaran poin, hingga program tebus murah bagi pengguna layanan perbankan BRI.
Menariknya, meskipun musim Ramadan sudah mulai ramai, puncak keramaian di gerai Bandeng Juwana Elrina justru terjadi sesudah hari raya. Jason mencatat bahwa lonjakan pengunjung paling drastis terjadi saat masa arus balik.
"Saat momen Idulfitri tiba, keramaian justru mencapai puncaknya setelah hari raya, tepatnya ketika arus balik dimulai. Para pemudik yang hendak kembali ke kota asal biasanya menyempatkan diri singgah untuk memborong oleh-oleh bagi kerabat dan rekan kerja mereka," tutur Jason.
Di sisi lain, Corporate Secretary BRI, Dhanny, menegaskan bahwa kisah sukses Bandeng Juwana Elrina adalah bukti nyata dari misi besar BRI dalam memperkuat daya saing ekonomi daerah. Dengan memberikan akses permodalan yang memadai, BRI membuka peluang bagi pelaku usaha untuk naik kelas, menyerap lebih banyak tenaga kerja lokal, dan memberikan dampak multiplier bagi lingkungan sekitar.
"Riwayat perjalanan bisnis Bandeng Juwana Elrina di Semarang menjadi sebuah bukti nyata bahwa melalui dukungan pendanaan serta program pemberdayaan dari BRI, para pengusaha dapat terus mengembangkan kapasitas bisnis mereka. Ini adalah sebuah kisah inspiratif yang sangat layak untuk ditiru oleh para pelaku usaha di wilayah lain," imbuh Dhanny.
Share this article
Bandeng Juwana Elrina, rahasia sukses oleh-oleh khas Semarang. Dari kios kecil hingga pemberdayaan BRI yang mendunia.