AYOJAKARTA.COM -- Bandung selalu memiliki magnet tersendiri jika kita berbicara mengenai kreativitas kuliner. Di tengah gempuran makanan kekinian dari luar negeri, sebuah jenama lokal bernama Tercabaikan berhasil membuktikan bahwa bahan sederhana seperti tepung aci dapat bertransformasi menjadi hidangan berkelas yang relevan dengan selera pasar modern.
Berawal dari dapur rumahan, Tercabaikan kini tumbuh menjadi salah satu representasi kebangkitan UMKM kuliner di Kota Kembang.
Kekuatan utama Tercabaikan terletak pada keberanian mereka melakukan hibridasi antara cita rasa tradisional Jawa Barat dengan tren kuliner masa kini.
Tidak hanya terpaku pada format lama, mereka menghadirkan variasi menu yang sangat beragam, mulai dari Baso Aci, Cimol Bojot, Cireng Kuah, hingga hidangan berat seperti Mie Kocok, Kupat Tahu, Mie Ayam, dan Cilok.
Di tangan Inggra DP, sang pemilik, baso aci tidak lagi hanya disajikan dengan kuah kaldu biasa. Pelanggan dapat menikmati sensasi kuah keju yang gurih, kuah seblak yang pedas nagih, hingga kuah soto yang segar.
Selain itu, Tercabaikan juga merevolusi hidangan klasik seperti Kupat Tahu. Jika biasanya kupat tahu identik dengan bumbu kacang konvensional, Tercabaikan memberikan sentuhan modern dengan pilihan sambal geprek atau chili oil yang sedang tren.
Inovasi produk seperti inilah yang menjaga daya tarik jenama mereka di tengah persaingan industri makanan yang sangat ketat. Setiap produk dirancang untuk memberikan pengalaman visual dan rasa yang "Instagramable" namun tetap mempertahankan akar rasa tradisionalnya.
Dibalik kesuksesan sebuah jenama, selalu ada momen titik balik yang krusial. Bagi Inggra DP, inspirasi itu datang saat ia berkunjung ke Kabupaten Garut.
Ia melihat bagaimana antusiasme masyarakat yang luar biasa terhadap kuliner baso aci, bahkan hingga rela mengantre sejak fajar menyingsing. Momen tersebut memicu rasa penasaran sekaligus insting bisnis dalam dirinya.
“Keputusan untuk mengakhiri masa kerja di tempat sebelumnya menjadi awal mula langkah saya membangun usaha ini. Inspirasi menciptakan baso aci muncul ketika saya melihat sebuah kedai di Garut yang sangat diminati pembeli hingga mereka mau mengantre dari waktu subuh. Hal itu memicu keingintahuan saya, hingga akhirnya saya mencoba meracik resep sendiri di dapur rumah untuk saya bagikan kepada sanak saudara sebagai buah tangan,” tutur Inggra DP.
Momen syukuran pernikahannya pada tahun 2017 menjadi panggung pertama bagi produknya. Setelah membagikan baso aci buatannya kepada tetangga dan keluarga, respons yang diterima sangat luar biasa.
Pesanan demi pesanan mulai berdatangan melalui sistem pre-order, yang kemudian menjadi fondasi kokoh bagi lahirnya jenama Tercabaikan yang kita kenal sekarang.
Membangun bisnis dari nol tentu bukan perkara mudah. Pada tahap awal, Inggra harus berperan sebagai "pemain tunggal". Ia mengelola segala lini bisnis secara mandiri, mulai dari mencari bahan baku berkualitas di pasar, melakukan proses produksi di dapur, hingga memikirkan strategi pemasaran agar produknya dikenal luas.
Kesadaran akan pentingnya teknologi membawa Tercabaikan merambah ke dunia digital. Saat ini, pemasaran mereka tidak lagi hanya mengandalkan kabar dari mulut ke mulut.
Tercabaikan telah mengoptimalkan berbagai kanal digital untuk menjangkau pasar yang lebih luas, antara lain website, marketplace, media sosial, WhatsApp Business, serta layanan pesan antar.
Pertumbuhan pesat Tercabaikan tidak lepas dari keberanian Inggra untuk terus belajar dan meng-upgrade kapasitas dirinya sebagai pengusaha.
Titik balik profesionalisme bisnisnya terjadi ketika ia mengenal ekosistem pemberdayaan dari Bank Rakyat Indonesia (BRI), khususnya melalui platform LinkUMKM dan Rumah BUMN Bandung.
Inggra pertama kali bersentuhan dengan program ini pada tahun 2020, saat pandemi menuntut pelaku usaha untuk lebih kreatif. Ia merasa program pelatihan yang disediakan sangat menjawab kebutuhan nyata di lapangan.
“Perkenalan saya dengan LinkUMKM BRI bermula di tahun 2020 ketika saya mengikuti sesi pelatihan di Rumah BUMN. Melalui wadah tersebut, saya mulai mengenal beragam program edukasi yang tersedia di LinkUMKM. Saya menilai inisiatif ini sangat berfaedah bagi para pengusaha karena menawarkan materi pelatihan tanpa biaya yang relevan dengan kebutuhan pasar, bahkan mencakup aspek teknologi terkini seperti pemanfaatan kecerdasan buatan dalam bisnis,” jelas Inggra.
Dukungan pendidikan bisnis yang berkelanjutan ini membantu Inggra memahami cara mengelola stok, memperbaiki kemasan (packaging), hingga memahami algoritma pemasaran digital yang lebih kompleks.
Hingga penghujung tahun 2025, platform LinkUMKM telah menjadi "penyelamat" bagi jutaan pelaku usaha di Indonesia. Data mencatat sebanyak 14,98 juta pelaku UMKM telah memanfaatkan sarana pendampingan daring ini untuk memperkuat akses pasar dan kapasitas bisnis mereka.
Platform ini bukan sekadar aplikasi biasa, melainkan ekosistem terintegrasi yang memiliki enam fitur unggulan: UMKM Smart, Rumah BUMN, UMKM Media, Komunitas, Etalase Digital, dan Register NIB.
Dengan dukungan lebih dari 750 modul pembelajaran, LinkUMKM memastikan bahwa setiap pelaku usaha—baik yang berada di kota besar maupun pelosok—memiliki kesempatan yang sama untuk memperkuat kemampuan soft skill dan hard skill mereka.
Keberhasilan brand seperti Tercabaikan merupakan tujuan utama dari diciptakannya ekosistem pendukung UMKM oleh BRI. Direktur Micro BRI, Akhmad Purwakajaya, menekankan bahwa LinkUMKM dirancang sebagai jembatan bagi para pelaku usaha agar bisa bertahan dan tumbuh secara berkelanjutan di era digital.
“Pihak BRI melalui platform LinkUMKM berupaya memotivasi para pegiat UMKM untuk konsisten mengembangkan potensi bisnis mereka lewat akses edukasi yang sesuai dengan tuntutan zaman. Fasilitas ini juga memberikan kesempatan bagi para pengusaha untuk memperlebar jaringan pertemanan bisnis serta menangkap peluang di pasar digital yang terus berkembang. Kami memiliki harapan besar bahwa dengan peningkatan kualitas yang terus-menerus, akan lahir lebih banyak UMKM yang mampu berkembang ke level yang lebih tinggi dan memberikan dampak signifikan bagi ekonomi negara,” pungkas Akhmad.
Share this article
Inspirasi UMKM: Tercabaikan sukses ubah baso aci rumahan jadi kuliner hits Bandung. Intip rahasia inovasi & dukungan LinkUMKM BRI di sini!