AYOJAKARTA.COM - Transsion merupakan sebuah perusahaan asal Tiongkok yang ikut bersaing ketat di pasar smartphone global.
Nama Transsion mungkin terdengar asing bagi sebagian orang di Indonesia, namun telah merajai pasar di Afrika.
Perusahaan induk di balik merek-merek smartphone seperti Tecno, Itel, dan Infinix, membuktikan strategi bisnisnya yang inovatif dan adaptif.
Pada 2006, Transsion didirikan oleh George Zo, seorang pengusaha dengan pengalaman luas di industri teknologi dan telekomunikasi.
Awalnya bernama Tekno Telekom Limited, perusahaan ini berganti nama menjadi Transsion Holdings pada tahun 2007.
Pergantian nama ini menandakan visi untuk mengelola beberapa merek di bawah satu payung besar yang terus bertransformasi dan berkembang.
George Zo memilih wilayah Afrika sebagai target awal karena persaingan ponsel di sana masih rendah, sementara kebutuhan akan perangkat komunikasi sangat tinggi.
Baca Juga: Oppo Find N5: Ponsel Lipat Super Tipis dengan Inovasi Terbaru yang Dukung Multitasking
Transsion memulai perjalanannya dengan menjual ponsel fitur (feature phone) seperti model Tekno T201.
Produk-produk ini didesain dengan fitur khas, seperti kapasitas baterai besar untuk mengatasi masalah listrik yang tidak stabil dan dukungan dual SIM untuk memilih jaringan terbaik.
Tekno adalah merek pertama yang diluncurkan bersamaan dengan pendirian perusahaan, awalnya ditujukan untuk pasar Asia.
Karena persaingan yang ketat, fokus kemudian beralih ke pasar Afrika, menjadikan Tecno sebagai pilihan utama di segmen kelas menengah.
Pada 2008, perusahaan ini mendirikan Itel yang menyasar segmen entry level dengan harga yang sangat terjangkau.
Cocok bagi pengguna pertama kali atau mereka yang menginginkan ponsel fungsional dengan fitur dasar.
Sementara Infinix didirikan pada 2013, menargetkan segmen yang menginginkan smartphone dengan spesifikasi lebih tinggi namun dengan harga yang kompetitif.
Produk Infinix dikenal dengan desain modern, performa yang mumpuni, dan fitur-fitur yang menarik untuk anak muda.
Ekspansi ke Pasar Asia dan Indonesia
Keberhasilan di Afrika membuka jalan bagi Transsion untuk merambah pasar Asia.
Di Indonesia, kehadiran merek Infinix mulai dikenal sejak 2015, diikuti oleh peluncuran Itel sekitar tahun 2017 dan Tecno pada akhir tahun 2020.
Pendekatan diferensiasi produk menjadi kunci, setiap merek menyasar segmen pasar yang berbeda sehingga mampu bersaing dengan pemain besar seperti Xiaomi, Samsung, dan Apple.
Pada tahun 2020, Transsion menghadapi kontroversi terkait keamanan data.
Ada laporan mengenai beberapa smartphone Transsion yang menginstal malware, menyebabkan munculnya iklan yang tidak bisa dihapus dan bahkan penggunaan pulsa secara tidak sengaja.
Meski demikian, Transsion segera merilis pembaruan software untuk mengatasi masalah tersebut dan berjanji memperketat keamanan data.
Baca Juga: Cocok untuk Anak Kos! Inilah 7 Rekomendasi Menu Sahur yang Praktis dan Murah
Beberapa pihak menilai bahwa perusahaan terlalu fokus mengejar keuntungan di Afrika tanpa memberikan kontribusi signifikan kepada masyarakat lokal.
Menanggapi hal ini, Transsion mulai menjalankan program sosial, seperti pelatihan tenaga kerja lokal, investasi di bidang pendidikan teknologi, dan pembangunan fasilitas produksi untuk menciptakan lapangan pekerjaan di wilayah tersebut
Share this article
Perusahaan induk di balik merek-merek smartphone seperti Tecno, Itel, dan Infinix, membuktikan strategi bisnisnya yang inovatif dan adaptif.