AYOJAKARTA.COM - Pemerintah tengah menyiapkan langkah besar dalam merampingkan jumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Menteri Sekretaris Negara sekaligus Juru Bicara Presiden RI, Prasetyo Hadi, menyampaikan bahwa dari sekitar 1.000 BUMN yang ada saat ini, jumlahnya akan dipangkas hingga hanya tersisa 200–400 perusahaan.
"Tadi sudah disebutkan ada 1.000 kurang lebih BUMN kita yang sekarang sedang dalam proses untuk dirampingkan, digabungkan. Di situ ternyata banyak ditemukan bahwa ada yang tidak efektif dari sekian ribu BUMN kita itu, harapan kita (dipangkas/gabung) menjadi kurang lebih mungkin di 400-200 BUMN," kata Prasetyo Hadi, dilansir dari YouTube TV Parlemen, Rabu, 24 September 2025.
Baca Juga: Itel Super 26 Ultra: Spek Mantap di Harga Rp2 Jutaan, Worth It Banget?
Rencana tersebut disampaikan dalam rapat bersama Komisi VI DPR RI terkait revisi Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang BUMN.
Menurut Prasetyo, evaluasi menunjukkan banyak BUMN yang tidak efektif, sehingga pemerintah mendorong penggabungan sekaligus perampingan.
Arahan Presiden Prabowo untuk Perbaikan BUMN
Presiden Prabowo Subianto memberikan arahan tegas untuk memperbaiki manajemen perusahaan pelat merah.
Baca Juga: Jadwal Penentuan Malam Final Abang None Jakarta 2025, Live di Trans TV!
Fokus utamanya adalah menghapus budaya korupsi, memangkas jumlah komisaris dan direksi, serta merasionalisasi pendapatan pejabat BUMN. Selain itu, larangan rangkap jabatan juga diperkuat untuk meningkatkan profesionalitas dan transparansi.
Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara mencatat bahwa jumlah BUMN justru terus bertambah, dari semula 700–800 perusahaan kini diperkirakan mencapai 1.050 entitas, termasuk anak hingga cicit usaha. Karena itu, pemetaan menyeluruh sedang dilakukan agar angka riil bisa diketahui dengan pasti.
Daftar Emiten BUMN Karya yang Rugi Semester I/2025
Laporan keuangan terbaru menunjukkan sederet emiten BUMN Karya masih berkinerja negatif sepanjang paruh pertama 2025. Berikut daftarnya:
Baca Juga: Itel S26 Ultra Resmi Hadir di Indonesia dengan Desain Elegan dan Paket Lengkap, Intip Spesifikasinya
- PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) mencatat rugi bersih Rp1,66 triliun, berbalik dari laba Rp401,95 miliar tahun lalu.
- PT Waskita Karya Tbk (WSKT) juga membukukan rugi Rp2,14 triliun, meski sedikit lebih baik dibanding tahun sebelumnya.
- PT Adhi Karya Tbk (ADHI) hanya mampu meraih laba Rp7,54 miliar, turun 45,2% dibanding periode yang sama tahun lalu.
- PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON) dan PT Wijaya Karya Gedung Tbk (WEGE) mencatat penurunan laba signifikan, dengan WEGE hanya mampu membukukan laba Rp400 juta.
- PT PP (Persero) Tbk (PTPP) juga merosot tajam, laba bersihnya turun 55,6% menjadi Rp65,25 miliar.
Sementara itu, PT PP Presisi Tbk (PPRE) menjadi pengecualian. Meski pendapatan turun, laba bersihnya justru melonjak lebih dari 300% menjadi Rp4,62 miliar, ditopang oleh efisiensi dan peningkatan pendapatan lain-lain.
Langkah pemerintah memangkas jumlah BUMN diharapkan bisa memperbaiki kinerja, mencegah inefisiensi, sekaligus memperkuat peran perusahaan negara dalam pembangunan nasional.
Namun, deretan emiten yang masih merugi menandakan bahwa reformasi manajemen dan efisiensi operasional harus segera dijalankan agar BUMN tetap relevan dan berdaya saing di era global.***
Share this article
Pemerintah akan pangkas BUMN dari 1.000 jadi 200–400 perusahaan. Banyak emiten BUMN Karya masih rugi di semester I/2025, kecuali PPRE yang justru catat lonjakan laba.