AYOJAKARTA.COM -- Dunia properti Indonesia tengah mengalami pergeseran paradigma yang luar biasa. Jika dahulu rumah hanya dipandang sebagai tumpukan bata dan semen, kini teknologi dan keberlanjutan (sustainability) menjadi nyawa utama dalam pembangunan hunian.
Pemandangan masa depan ini terpampang nyata dalam gelaran BTN Expo 2026, di mana inovasi perumahan tidak lagi sekadar wacana, melainkan solusi konkret yang siap mengubah wajah industri properti nasional.
Dalam ajang ini, perhatian pengunjung tersedot oleh berbagai terobosan radikal: mulai dari material bangunan yang sepenuhnya diolah dari limbah, penggunaan Kecerdasan Buatan (AI) untuk memprediksi bencana banjir, hingga skema kepemilikan rumah revolusioner berbasis rent-to-own.
Semua karya ini merupakan buah pemikiran para finalis BTN Housingpreneur 2025, sebuah kompetisi prestisius yang digagas oleh PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN).
BTN sebagai pemain utama dalam ekosistem pembiayaan perumahan nasional menyadari bahwa tantangan sektor properti semakin kompleks. Kenaikan harga material, perubahan iklim, hingga keterbatasan daya beli masyarakat memerlukan jawaban yang inovatif.
Oleh karena itu, BTN Housingpreneur hadir untuk menjembatani ide-ide segar dari para arsitek, mahasiswa, dan startup property technology (proptech).
Direktur Risk Management BTN, Setiyo Wibowo, memberikan gambaran mengenai visi besar di balik kompetisi ini. Menurutnya, ajang ini dirancang untuk memberikan panggung bagi para wirausaha properti dalam menunjukkan teknologi yang mampu mendukung ekosistem perumahan masa depan.
"Pihak kami menghimpun berbagai startup yang bergerak di sektor perumahan, mencakup teknologi properti (proptech), produsen bahan bangunan yang mengedepankan prinsip keberlanjutan, hingga konsep hunian rendah emisi atau rumah ramah lingkungan," jelas Setiyo.
Proses seleksi berlangsung sangat ketat. Dari total lebih dari 8.000 pendaftar yang antusias, terpilihlah 58 inovator terbaik yang kini memamerkan karya mereka secara langsung kepada masyarakat.
Setiyo menekankan bahwa keterlibatan talenta muda adalah kunci. Dunia perumahan yang dinamis membutuhkan suntikan kreativitas yang tidak terbatas pada cara-cara konvensional.
BTN ingin merangkul mitra-mitra baru yang teknologinya bisa dikembangkan ke skala yang lebih luas (scale up) guna menyentuh seluruh lapisan masyarakat.
"Kami merangkul para talenta muda guna mengembangkan teknologi serta jiwa kewirausahaan di sektor hunian, mengingat ekosistem perumahan senantiasa memerlukan gagasan-gagasan segar. Sebagai institusi perbankan dengan jaringan perumahan terluas, kami tengah mencari rekanan baru untuk berkolaborasi dan meningkatkan skala inovasi mereka," tutur Setiyo.
Salah satu paviliun yang paling ramai dikunjungi adalah pameran material bangunan alternatif. Beberapa finalis menawarkan solusi yang sangat ramah lingkungan namun tetap memiliki nilai komersial tinggi.
Sebut saja Parongpong Raw Lab yang fokus pada limbah residual, Agriya dari Surabaya yang menciptakan cat tembok dari sekam padi, hingga Bell Living Lab asal Bandung yang memanfaatkan limbah kopi untuk konstruksi.
Kendan Maranatha, Program Manager dari Parongpong Raw Lab, menjelaskan bahwa timnya fokus mengolah sampah yang biasanya tidak memiliki industri daur ulang sendiri, seperti jaring nelayan bekas, puntung rokok, hingga karung semen.
"Kami mengusung konsep pengubahan limbah menjadi bahan baku bangunan. Salah satu produk unggulan kami, Oriplast, dibuat dari bahan karung semen dan berfungsi sebagai alternatif pengganti lantai kayu dekoratif (decking), yang pada akhirnya membantu mengurangi angka penebangan hutan," papar Ken.
Bagi Ken, BTN Expo 2026 adalah momentum emas untuk mengedukasi perusahaan-perusahaan besar. Ia ingin menunjukkan bahwa di balik material bangunan dari sampah residual tersebut, terdapat dampak sosial yang nyata bagi keluarga nelayan di pesisir Indonesia.
Selain material, keamanan hunian dari risiko iklim juga menjadi fokus. Inovator dari Palembang, Geoflood AI, memperkenalkan teknologi yang mampu memetakan potensi banjir dan karakteristik lahan sejak tahap perencanaan.
Dengan data berbasis AI, pengembang dapat mendesain rumah yang adaptif terhadap perubahan cuaca ekstrem, sehingga meminimalkan kerugian bagi pemilik rumah di masa depan.
Masalah klasik yang dihadapi generasi muda saat ini adalah backlog perumahan dan pertumbuhan gaji yang kalah cepat dibanding harga properti. Menjawab keresahan ini, Ontoown dari Bandung hadir dengan aplikasi skema rent-to-own.
Skema ini memungkinkan masyarakat untuk menyewa hunian terlebih dahulu, di mana sebagian biaya sewa dikonversi menjadi tabungan uang muka (DP) KPR.
Zikra, anggota tim Ontoown, melihat adanya celah besar antara ketersediaan aset properti yang menganggur dengan tingginya kebutuhan rumah bagi kaum muda yang belum memiliki rekam jejak kredit (credit history) yang kuat.
"Gagasan kami muncul dari realitas banyaknya rumah atau aset properti yang tidak terpakai, padahal di waktu yang sama banyak individu, khususnya generasi Z, membutuhkan tempat tinggal namun terkendala kenaikan harga properti yang melampaui pertumbuhan gaji mereka. Aplikasi ini memberikan kemudahan bagi Gen Z yang bercita-cita memiliki rumah namun terkendala ketiadaan riwayat kredit dan dana untuk uang muka KPR," ungkap Zikra.
Seluruh rangkaian inovasi ini dapat disaksikan oleh publik di BTN Expo 2026 hingga akhir bulan. Tidak hanya pameran properti, acara ini juga diramaikan oleh bursa karier, pameran UMKM, dan berbagai aktivitas gaya hidup yang menarik.
Puncak dari acara ini adalah malam penganugerahan Awarding BTN Housingpreneur 2025 yang akan digelar pada Sabtu, 31 Januari 2026. Acara ini akan menjadi saksi pemberian apresiasi tertinggi bagi para inovator yang dinilai memiliki dampak paling signifikan terhadap kemajuan sektor perumahan nasional.

Share this article
Rumah dari sampah dan aplikasi Rent to Own hadir di BTN Expo 2026. Solusi hunian murah dan ramah lingkungan bagi Gen Z.