AYOJAKARTA.COM -- Setelah membuka usaha produk kulit lebih dari satu dekade, Beny Ramdani Sofara kini mengaku bangga dengan kerja keras dan konsistensinya di Blankenheim.
Kebanggaan Beny bukan tanpa alasan, produk-produk dari merek Blankenheim ini bukan hanya diminati para pejabat nasional, tapi juga sampai ekspor ke negara Amerika Latin.
Ragam produk kulit itu pada mulanya hanya sepatu, kemudian merambah ke pembuatan tas, dompet, dan juga beberapa aksesoris seperti tempat kartu nama. Tak terasa sudah sekitar 12 tahun Beny mengurusi bisnis yang bermula dari hobi.
"Blankenheim itu berdiri tahun 2013. Kenapa produk awalnya sepatu? Karena mulanya ada ketertarikan ke produk kulit, khususnya sepatu," ungkap Beny di tokonya yang berlokasi di Jalan Cimanuk No.6, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung, pada Jumat, 21 Februari 2025.
Dari orang yang awalnya hanya suka membeli sepatu kulit, Beny mendapatkan pemicu untuk berbisnis ketika sedang menyelesaikan studi di Belanda.
Baca Juga: Kapan Lagi Buka Bareng? BRI Festival 2025 Hadir dengan Kuliner Lezat & Hiburan Seru!
Dalam satu kesempatan saat dirinya menemukan sepatu yang ditaksir, ia terkejut lantaran tertulis jelas "Made in Indonesia". Harga jualnya pun lumayan mahal untuk takaran di Indonesia, sekitar Rp4 juta, dan di-branding dengan merek luar negeri.
"Nah, dari situ muncullah ketertarikan. Berarti ini ada pasarnya di sana, untuk produk Indonesia itu udah bisa diterima. Setahun kemudian research segala macam, lahirlah Blankenheim," lanjut Beny.
Bagi Beny, Blankenheim jadi semacam oleh-oleh dari Negeri Kincir Angin untuk ia bawa sebagai bahan wirausaha di Indonesia.
Walaupun pada masa awal produksi baru sanggup menggunakan sistem maklun (praktik bisnis yang dilakukan perusahaan manufaktur untuk memproduksi produk atas nama merek pihak lain), Blankenheim kini sudah punya tak kurang dari 10 perajin inti yang juga terkoneksi pada komunitas perajin yang lebih besar.
Alhasil, bila Beny dapat pesanan dalam jumlah banyak, ia sudah punya Sumber Daya Manusia (SDM) yang mampu mengantisipasi.
Baca Juga: BRI Dorong UMKM Gula Aren Desa Naik Kelas, Ekspor hingga ke Pasar Global
Ia menggunakan bahan lokal dan memberdayakan SDM lokal. Namun mengapa merek Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) binaan Bank Rakyat Indonesia (BRI) ini terdengar seperti kata asing? Beny punya alasan spesial di balik penggunaan nama ini.
“Blankenheim itu nama jalan dan tempat saya tinggal selama studi setahun di Belanda,” kenangnya.
Usut punya usut kalau ditarik lebih ke belakang lagi, dipaparkan Beny, Blankenheim ini sebetulnya nama keluarga yang dijadikan nama kota kecil di Jerman; dan kemudian di Belanda dijadikan nama jalan.
Keterkaitan nama Blankenheim di berbagai lokasi itu tentunya memberikan keuntungan tersendiri bagi Beny, sebab merek dagangnya jadi lebih mudah dilafalkan ketika dipasarkan di Jerman ataupun Belanda.
Bahkan pada gilirannya, Blankenheim bukan hanya diminati oleh para pembeli di Eropa. Beny menyebut salah satu kuantitas ekspor terbaiknya justru terjadi ketika mendapat pesanan tempat kartu nama dari Chile.
Dari mulanya hanya sepatu, Blankenheim kini sudah lebih banyak memiliki variasi produk yang secara bangga tetap menjaga kualitas dengan handmade.
"Blankenheim masih menggunakan produksi handmade. Tujuannya untuk menjaga kualitas dengan kuantitas produksi sekitar 250-500 pieces per bulan," tutup Beny.

Share this article
Dari yang awalnya hanya suka membeli sepatu kulit, Beny Ramdani Sofara dapatkan pemicu untuk berbisnis ketika studi di Belanda.