AYOJAKARTA.COM — Setelah menunaikan ibadah puasa selama satu bulan penuh, umat Islam di Indonesia merayakan kemenangannya dengan suka cita dalam perayaan Hari Raya Idulfitri atau Lebaran.
Tidak hanya bulan Ramadhan yang disambut meriah, Idul fitri pun dirayakan dengan penuh kebahagiaan. Di setiap sudut Indonesia, tradisi menyambut Lebaran berbeda-beda, memberikan warna dan kekayaan budaya yang luar biasa.
Selain mudik (pulang ke kampung halaman) dan sungkem (meminta maaf serta restu kepada orang tua), ada beberapa tradisi unik Lebaran yang patut diperhatikan seperti yang sudah dikutip oleh AyoJakarta.com dari YouTube KOMPASTV pada Rabu, 10 April 2024, apa saja tradisi tersebut?
1. Grebeg Syawal – Yogyakarta
Grebeg Syawal merupakan tradisi keraton Yogyakarta yang melibatkan arak-arakan gunungan lanang, berupa tumpukan sayur-sayuran yang dibentuk menyerupai gunung.
Masyarakat mempercayai bahwa mendapatkan sayuran dari gunungan tersebut membawa ketentraman dan keberkahan. Acara ini dilakukan oleh para abdi dalem yang membawa gunungan dari keraton menuju Masjid Gede Keraton Ngayogyakarta untuk didoakan.
Baca Juga: 10 Tips Agar Kita Tetap Fit dan Sehat di Hari Raya Idul Fitri, Awas Jebakan Makanan!
2. Lentera Tumbilotohe - Gorontalo
Tumbilotohe atau pasang lampu adalah tradisi kuno dari Gorontalo yang telah berlangsung sejak abad ke-15. Pada masa itu, lampu penerangan terbuat dari wamuta atau selubung yang dihaluskan, diruncingkan, dan kemudian dibakar. Alat penerangan tersebut dikenal sebagai wango-wango.
Baca Juga: Panduan Shalat Idul Fitri, Pelajari Sebelum Berangkat ke Lapangan atau Mesjid
3. Ronjok Sayak – Bengkulu
Ronjok Sayak adalah tradisi membakar tumpukan batok kelapa seperti gunung. Tradisi ini awalnya dilakukan sebagai cara untuk menciptakan alat penerangan malam hari sebagai ungkapan sukacita menyambut Hari Raya.
Baca Juga: Sambut Hari Idul Fitri 1445 H, Terapkan Metode Memasak Ketupat 2-3-2-2, Dijamin Tak Mudah Basi
4. Nasi Jaha dan Binarundak – Sulawesi Utara
Di Sulawesi Utara, terdapat tradisi Binarundak di mana masyarakat memasak nasi Jaha bersama selama tiga hari berturut-turut setelah Idul Fitri.
Nasi Jaha terbuat dari beras ketan yang dimasak dengan bumbu, santan, dan jahe, kemudian dimasukkan ke dalam batang bambu yang dilapisi daun pisang.
Setelah matang, nasi Jaha dinikmati bersama warga desa sebagai ungkapan rasa syukur yang menjadi inti dari perayaan Binarundak.
Baca Juga: Pengumuman! Hasil Sidang Isbat Menentukan Hari Raya Idul Fitri Jatuh Pada Esok Hari
5. Festival Meriam Karbit - Pontianak
Di Pontianak, terdapat tradisi festival meriam karbit yang biasanya dilakukan di tepi Sungai Kapuas selama tiga hari sebelum, saat, dan sesudah Lebaran. Meriam dibuat dari batang pohon kelapa atau kayu durian untuk digunakan sebagai alat untuk mengusir roh jahat yang berusaha mengganggu saat Hari Raya Idul Fitri tiba.
Tradisi-tradisi unik ini menjadi bagian tak terpisahkan dari kekayaan budaya Indonesia dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri.***

Share this article
Di setiap sudut Indonesia, tradisi menyambut Lebaran berbeda-beda, memberikan warna dan kekayaan budaya yang luar biasa.