AYOJAKARTA.COM - Menjaga pola tidur yang teratur selama bulan Ramadhan adalah langkah penting untuk penyesuaian kembali setelah berakhirnya bulan suci tersebut.
Karena Ramadhan adalah bulan yang berbeda dari lainnya, banyak orang melakukan aktivitas tidur dengan waktu yang kurang teratur.
Hal tersebut karena saat bulan Ramadhan, kebanyakan orang begadang di malam hari untuk menambah ibadah atau melakukan hal lain yang mempengaruhi jam tidur normal seperti biasanya.
Masalah ini dapat menimbulkan gangguan tidur ritme sirkadian yang biasanya dialami oleh mereka yang melakukan perjalanan jauh, di mana seorang musyafir (orang yang bepergian) dapat menderita disritmia sirkadian, yang umumnya dikenal sebagai jet lag.
Baca Juga: Rekrutmen Bersama BUMN Resmi Dibuka, PT Pertamina Buka Loker untuk Lulusan SMA/SMK Sederajat
Hal ini biasanya disebabkan oleh perubahan jadwal tidur dan bangun, yang dapat meningkatkan risiko gangguan biologis seperti sindrom fase tidur tertunda (DSPS) atau gangguan ritme sekresi melatonin.
Ketika orang mengubah pola tidur dan bangun mereka, mereka juga dapat mengalami kantuk, sakit kepala, dan perubahan suasana hati.
Overeating, terutama makan makanan berkalori tinggi yang manis atau berlemak, penambahan berat badan, dispepsia (gangguan pencernaan), refluks gastroesofageal, atau gangguan kolon juga dapat meningkatkan risiko gangguan tidur selama Ramadhan.
Baca Juga: CAIR! KPM Menerima Bansos Double Sekaligus Undangan BLT MRP, Cek Selengkapnya Disini!
Melatonin adalah hormon yang disekresikan oleh kelenjar pineal (kelenjar endokrin kecil) di otak. Ini membantu mengatur hormon lain dan menjaga ritme sirkadian tubuh.
Dikutip Ayojakarta.com dari yankes.kemkes.go.id, ritme atau irama sirkadian adalah proses internal di dalam tubuh untuk mengatur waktu bangun-tidur selama 24 jam.
Ketika gelap, tubuh memproduksi lebih banyak melatonin tetapi produksinya menurun ketika terang. Terpapar cahaya terang atau menonton TV di malam hari dapat mengganggu siklus melatonin normal tubuh dan menyebabkan insomnia.
Namun, seseorang dapat menemukan keseimbangan antara tidur dan melakukan ibadah atau bersosialisasi selama Ramadhan dengan menyesuaikan jadwal waktu tidur mereka.
Seseorang yang memiliki riwayat pola tidur yang buruk mungkin mengalami insomnia dan gangguan jam biologis kronis setelah Ramadhan, selain kesulitan dalam menyesuaikan pola tidur terbalik mereka, juga menghambat jadwal waktu kerja atau belajar mereka yang normal.
Kita harus secara bertahap menyesuaikan jadwal tidur selama beberapa hari, terutama dalam beberapa hari terakhir sebelum Idul Fitri, sebelum kembali ke tempat kerja atau sekolah untuk membantu menyinkronkan kembali jam biologis tubuh.
Paparan cahaya yang kuat selama setidaknya satu jam setelah bangun tidur adalah cara untuk memulihkan jadwal tidur normal.
Cahaya adalah agen paling kuat untuk mensinkronkan jam tubuh internal yang mengatur ritme sirkadian dan membantu mengurangi tingkat hormon tidur (melatonin) dalam darah.
Hal ini tidak harus dilakukan di bawah sinar matahari, tetapi paparan cahaya yang datang melalui jendela juga dapat membantu.
Itulah tips menjaga pola tidur di bulan Ramadhan agar tetap sehat dan kuat menjalani ibadah puasa, serta menyinkronkan kembali jam tidur normal.***

Share this article
Menjaga pola tidur yang teratur di bulan suci Ramadhan ternyata banyak manfaatnya, salah satunya yakni terhindar dari insomnia.