AYOJAKARTA.COM - Kolak mungkin tak ada menu yang lebih sering kita jumpai sebagai hidangan pembuka saat berbuka puasa di bulan Ramadhan.
Berbagai jenis kolak dapat kita temui di Indonesia, mulai dari kolak pisang, kolak ubi, kolak labu, hingga kolak biji salak, semuanya memiliki rasa yang khas dan menggugah selera.
Namun, mengapa kolak begitu identik dengan takjil buka puasa?
Baca Juga: Foto Nyeleneh Komeng Sukses Kantongi Banyak Suara, Warga Auto ‘Spontan Uhuyy’
Dikutip Ayojakarta.com dari YouTube KompasTV, pada Kamis, 15 Februari 2024, menurut Fadly Rahman, sejarawan dan penulis buku "Jejak Rasa Nusantara: Sejarah Makanan Indonesia", asal-usul kata "kolak" kemungkinan berasal dari kata "Khalik", yang berarti sang pencipta.
Ada banyak pendapat dari para pakar sejarah yang menyebutkan bahwa kolak merupakan salah satu sarana untuk menyebarkan agama Islam di masa lalu.
Di samping itu, bahan-bahan yang digunakan untuk membuat kolak mudah ditemukan di seluruh wilayah Indonesia.
Kolak menjadi sebuah perpaduan budaya lokal dan penyebaran Islam.
Menurut Arkeolog Dwi Cahyono, unsur-unsur dalam kolak memiliki kaitan dengan ajaran Islam.
Baca Juga: 9 Kota Terkecil di Indonesia, Ada yang Jumlah Penduduknya Hanya 68 Jiwa Per Kilometer Persegi
Misalnya, bahan pisang kepok yang merujuk pada kata "kapok" dalam bahasa Jawa yang berarti jera, mengingatkan manusia untuk jera terhadap dosa dan bertaubat kepada Tuhan.
Kemudian, bahan ubi yang dalam bahasa Jawa dikenal sebagai "telo pendem", yang artinya mengubur kesalahan dalam-dalam.
Tidak ketinggalan, santan yang dalam bahasa Jawa disebut "santen" yang merupakan kependekan dari "pangapunten" atau permohonan maaf.
Seiring berjalannya waktu, variasi dalam penyajian kolak semakin bervariasi, mulai dari segi isian hingga teknik penyajian.
Namun, tak dapat disangkal bahwa kolak tetap menjadi ikon takjil yang menjadi favorit banyak orang selama bulan Ramadhan.
Selain sebagai pencuci mulut yang lezat, kolak juga menyimpan makna yang dalam, mengingatkan umat akan pentingnya jera terhadap dosa dan memohon ampunan kepada Sang Pencipta.***

Share this article
menurut Fadly Rahman, sejarawan dan penulis buku "Jejak Rasa Nusantara: Sejarah Makanan Indonesia", asal-usul kata "kolak"