AYOJAKARTA.COM -- Berpikir positif atau positif thinking merupakan salah satu hal penting yang perlu dilakukan demi kesehatan mental.
Namun demikian, tidak selamanya berpikir positif atau positif thinking bisa membuahkan dampak yang baik atau positif kepada diri sendiri.
Hal tersebut terjadi karena berpikir positif atau positive thinking masih dapat dibedakan menjadi dua bagian yakni positif baik dan positif toxic atau Toxic Positivity.
Baca Juga: Dikenal Algojo, Inilah Sosok Hakim Agung yang Tolak Mentah-mentah Permohonan Kasasi Jessica Wongso
Berpikir positif atau positif thinking yang baik akan membawa kebaikan pada diri sendiri karena sudah didahului dengan adanya penerimaan.
Seseorang yang berpikir positif secara baik, akan menerima apapun situasi yang terjadi, baik persoalan, perasaan, serta kesedihan yang mengikutinya.
Sementara berpikir positif atau positif thinking yang toxic adalah situasi di mana seseorang memaksakan diri untuk selalu berpikir positif.
Meski di dalam dirinya sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja, seorang toxic positivity akan menutupinya dengan sangat rapi.
Seorang yang sedang menerapkan perilaku toxic positivity, meski bisa merasakan rasa syukur tetapi juga gemar beradu nasib atau membanding-bandingkan.
Dalam hal kejujuran diri, orang yang positif thingking baik tidak akan mendustai perasaan apapun di dalam dirinya.
Baca Juga: UMP 2024 Resmi Naik, Segini Besaran Upah Minimum yang Berlaku di Jabodetabek
Jika orang tersebut merasakan sedih ia akan mengakui kesedihan, jika kecewa atau takut ia juga tidak akan menyangkal perasaannya.
Berbeda dengan seorang toxic positivity, mereka akan cenderung lebih tertutup dengan perasaan yang dialami.
Meski sedang merasakan amarah, kesedihan, kesusahan, ketakutan dan sebagainya, seorang toxic positivity akan selalu menyebutnya dengan baik-baik saja.
Dalam hal pencarian jalan keluar, seorang yang positif thingking baik akan berusaha dan senantiasa fokus pada solusi.
Penerimaan diri secara utuh atas kondisi yang dialami, membuatnya terhubung dengan diri sendiri dan lebih fokus sehingga lebih jeli dalam mencari jalan keluar.
Sementara seorang toxic positivity, karena mengawalinya dengan penyangkalan maka akan terjebak pada kebiasaan lari dari masalah.
Mengingat toxic positivity sangat berdampak pada diri sendiri, maka ada baiknya untuk mengubahnya menjadi positif thinking yang baik.
Baca Juga: Kabar Baik! CPNS 2024 Dibuka Bagi Fresh Graduate, Ini 5 Jurusan Paling Banyak Dibutuhkan
Adapun cara agar bisa terlepas dari kebiasaan toxic positivity adalah dengan terlebih dahulu melakukan penerimaan diri serta emosi yang menyertai.
Langkah selanjutnya adalah dengan berhenti melakukan perbandingan terhadap persoalan orang lain, karena setiap orang itu punya cerita uniknya sendiri.
Cara mengubah toxic postifity menjadi positif thinking baik adalah dengan memiliki support system agar tidak sendirian.
Dirangkum Ayojakarta.com pada Selasa, 14 November 2023 dari Instagram @mudahbergaul, agar sepenuhnya terlepas dari toxic positivity adalah dengan tidak lari dari persoalan.***

Share this article
Tidak selamanya berpikir positif atau positif thinking bisa membuahkan dampak yang baik atau positif kepada diri sendiri.