AYOJAKARTA.COM - Ada dua cita-cita manusia dari zaman dulu yang tidak pernah tercapai: hidup abadi (di dunia) dan mengubah batu menjadi emas.
Hidup abadi artinya menjadi muda selamanya. Soalnya, hidup di masa tua tidaklah semenyenangkan ketika muda.
Padahal, menjadi tua adalah kepastian bagi setiap kita yang dihadiahi umur panjang oleh ilahi.
Inilah paradoks penuaan khususnya pada perempuan yang dilansir dari Psychology Today.
40 tahun adalah usia ketika perempuan mulai membenci wajah dan tubuhnya sendiri.
Mereka mulai sibuk untuk tampil langsing dan awet muda, menukar waktu dan uang dengan produk dan prosedur anti-penuaan terbaru.
Memasuki usia 40-an dan seterusnya adalah masa yang penuh dengan kontradiksi bagi perempuan.
Baca Juga: 10 Trik Psikologi untuk Memikat dan Menjadi Pusat Perhatian Orang Lain Saat Berkumpul
Di satu sisi, banyak perempuan melaporkan bahwa mereka merasa akhirnya menemukan jati diri mereka saat mereka memasuki usia 20-an dan 30-an.
Di sisi lain, beberapa perempuan juga merasa dibuang, dipinggirkan, atau tidak dianggap seiring bertambahnya usia.
Mereka tidak lagi menjadi objek hasrat seksual seperti di masa mudanya, mereka berjuang untuk menemukan identitas baru yang tidak terus-menerus diawasi oleh tatapan laki-laki.
Banyak perempuan yang tidak dapat menahan diri untuk tidak mencubit gulungan yang tidak diinginkan atau kerutan yang baru ditemukan.
Dorongan untuk mencabut uban yang kian melimpah sangatlah kuat.
Bagaimana mungkin seorang perempuan merasa lebih percaya diri dan kurang percaya diri pada saat yang bersamaan?
Ada istilah yang membantu menjelaskan paradoks aneh ini: topeng penuaan.
Topeng penuaan mewakili pengalaman fenomenologis beberapa perempuan seiring bertambahnya usia.
Mereka tidak dapat menyesuaikan diri muda mereka dengan tubuh eksternal mereka yang menua.
Baca Juga: Ada Aturan Terbaru Rambut dan Make Up untuk UTBK SNBT 2024
Perbedaan antara perasaan dan penampilan mereka dapat membingungkan dan menjengkelkan.
Di dalam, mereka merasa muda dan bersemangat.
Saat perempuan mendekati usia paruh baya, sering kali ada perasaan yang bertentangan yang harus dijalani.
Mengubah narasi mengenai penuaan pada perempuan mungkin berarti melakukan upaya mendalam untuk menyembuhkan citra diri mereka.
Namun ketika mereka bercermin dan melihat seorang perempuan yang terlihat cukup bijak namun tidak terlalu muda, ketidakcocokan tersebut sulit diterima.
Baca Juga: 5 Tahapan Move On yang Wajib Kamu Tahu, Dirimu Kini Sudah di Fase Mana?
Refleksi mereka terhadap perempuan lanjut usia ini adalah pengkhianatan terhadap perempuan muda yang terikat pada identitas batin mereka.
Ketidaksesuaian ini menjadi ancaman terhadap harga diri mereka.
Saat ini perempuan berada dalam budaya yang mengharuskan untuk selalu awet muda atau kehilangan nilai-nilainya.
Sudah waktunya bagi perempuan feminis untuk mulai membentuk kembali narasi seputar penuaan.
Penuaan adalah hal yang sehat dan normal, terlepas dari apa yang ingin disampaikan oleh industri anti-penuaan bernilai triliunan rupiah kepada perempuan.
***

Share this article
Ada dua cita-cita manusia dari zaman dulu yang tidak pernah tercapai: hidup abadi (di dunia) dan mengubah batu menjadi emas.