AYOJAKARTA.COM – Meski belum resmi dirilis, film animasi Merah Putih One For All yang direncanakan tayang pada 16 Agustus 2025, telah menuai sorotan.
Menjadikan Jumbo yang berangkat dari genre senada sebagai pembanding, film animasi Merah Putih One For All dinilai banyak pihak justru mengalami penurunan drastis.
Selain karena tampilan visual grafis yang dinilai masih kotor, alasan lain yang membuat film animasi Merah Putih One For All jadi bulan-bulanan adalah karena dianggap terlalu janggal.
Bukan karena minimnya semangat nasionalis, sebagian kalangan menyebut bahwa film animasi ini justru bisa membuat sineas Indonesia menjadi bahan olok-olok di dunia.
Mengangkat tema tentang semangat cinta tanah air, penerapan judul yang mengadopsi istilah dalam bahasa asing juga sempat dipertanyakan oleh sejumlah kalangan.
Selain karena membelakangi semangat Sumpah Pemuda, penerapan istilah asing dalam tayangan film bertema nasionalis menurut sejumlah kalangan kurang proporsional.
Karena pendapat tersebut, tidak sedikit kelompok masyarakat yang beranggapan bahwa film Merah Putih One For All masih jauh dari standar sinema bioskop.
Disamping alasan penerapan bahasa, terdapat sejumlah alasan teknis yang turut menjadi sorotan dari berbagai kalangan terhadap kelayakan film animasi.
Alasan lain yang mendatangkan kritik dari berbagai kalangan, adalah jenis suara dari salah satu tokoh karakter dalam tayangan film.
Penyebab kedua yang membuat banyak pihak mengkritik habis film animasi Merah Putih One For All adalah efek suara Burung diganti dengan suara Monyet.
Selain itu, sebutan kepada kawanan bocah yang memiliki tugas mencari bendera juga berbeda antara sinopsis dengan trailer resmi.
Baca Juga: Rundown Tes SKD STAN 2025 dan Durasinya, Para Peserta Wajib Tahu!
Dalam sinopsis yang telah tersebar luas, nama julukan kawanan kelompok anak adalah Tim Merah Putih, sementara pada trailer disebut dengan jelas Tim Merdeka.
Menurut para penggemar film, kerjasama antara sesama penulis serta Dokter Naskah yang terlibat dibalik layar masih cenderung tidak kompak.
Penyebab lain film animasi Merah Putih One For All menjadi bahan kritik adalah desain animasi yang didapat secara membeli, atau bukan hasil rancangan mandiri.
Sejumlah tampilan karakter yang menjadi pelaku dalam cerita, juga menjadi sorotan karena desain animasi memperlihatkan adanya kebocoran hingga ke bagian kulit.
Adapun alasan yang membuat sejumlah kalangan terperangah adalah adanya penampilan senjata api di sebuah gudang milik warga desa.
Hal yang membuat banyak pihak merasa geram dengan film Merah Putih One For All adalah biaya pembuatan yang mencapai angka sekitar 6,7 Miliar. ***

Share this article
Film animasi Merah Putih One For All menuai kritik karena visual buruk, istilah asing, suara janggal, dan biaya Rp6,7 miliar.