AYOJAKARTA.COM – Rusia telah menggunakan hak veto di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) untuk menggagalkan rancangan resolusi yang berusaha mengutuk mengambil alih wilayah di Ukraina.
Akan tetapi kerabat dekat Moskow, China dan India lebih memilih untuk abstain daripada memilih menentang resolusi yang mengutuk tindakan Kremlin di Ukraina.
Dilansir dari laman Aljazeera, Duta besar Amerika Serikat untuk PBB Linda Thomas-Greenfield memperkenalkan resolusi pada pertemuan Dewan Keamanan pada hari Jum’at, yang meminta negara-negara anggota untuk tidak mengakui status Ukraina yang berubah dan mewajibkan Rusia untuk menarik pasukannya.
Baca Juga: Netizen Anggap Ibunya Seperti Pembantu, Aktris Blasteran Ini Segera Turun Tangan
Sebelumnya, pencaplokan terbesar di Eropa sejak Perang Dunia II dilakukan ketika Presiden Rusia Vladimir Putin memproklamirkan kekuasaan Rusia atas empat wilayah yang membentuk 15 persen wilayah Ukraina.
Resolusi tersebut yang disponsori bersama oleh AS dan Albania, menyerukan kecaman terhadap referendum "ilegal" yang diadakan di bagian Ukraina yang diduduki Rusia dan agar semua negara tidak mengakui perubahan apapun pada perbatasan Ukraina.
Resolusi itu juga meminta Rusia untuk segera menarik pasukan dari Ukraina, mengakhiri invasi yang diluncurkan pada 24 Februari.
Sepuluh negara memberikan suara mendukung resolusi tersebut, sementara China, Gabon, India, dan Brasil abstain.
“Tidak ada satu negara pun yang memilih Rusia. Tidak satu pun," kata Thomas-Greenfield kepada wartawan setelah pertemuan itu, seraya menambahkan bahwa abstain "jelas bukan pembelaan Rusia".
Duta Besar Rusia untuk PBB Vassily Nebenzia, yang mengangkat tangannya untuk menunjukkan satu-satunya suara menentang resolusi tersebut, berpendapat bahwa daerah-daerah, di mana Moskow telah merebut wilayah dengan paksa dan di mana pertempuran masih berkecamuk, memilih untuk menjadi bagian dari Rusia.
Baca Juga: Bjorka Muncul Ditengah Isu KDRT yang Dialami Lesti Kejora, Ancam Bongkar Masa Lalu Rizky Billar
"Tidak akan ada jalan untuk mundur karena rancangan resolusi hari ini akan mencoba memaksakan," kata Nebenzia dalam pertemuan itu.
Duta Besar Ukraina untuk PBB Sergiy Kyslytsya mengatakan satu tangan yang menentang resolusi itu "sekali lagi bersaksi tentang isolasi Rusia dan upaya putus asanya untuk menyangkal kenyataan dalam komitmen bersama kita, mulai dari piagam PBB".
Utusan Inggris, Barbara Woodward, mengatakan Rusia telah "menyalahgunakan hak vetonya untuk membela tindakan ilegalnya" tetapi mengatakan aneksasi itu "tidak memiliki efek hukum".
"Ini adalah fantasi," tambahnya.
Sebelumnya Presiden Rusia, Vladimir Putin telah mengumumkan mengambil alih kekuasaan dari empat wilayah bagian di Ukraina saat berbicara dalam upacara di Kremlin Jumat, 30 September 2022.
Putin juga mengatakan bahwa dirinya tidak ragu Parlemen Rusia mendukung pembentukan empat wilayah baru di Rusia yakni Donetsk, Kherson, Luhansk, dan Zaporizhzhya.
Baca Juga: Nonton Siaran Langsung Borneo FC vs Madura United BRI Liga 1 Kick Off Jam 15.30 WIB, Klik di Sini!
Presiden Rusia tersebut mengatakan bahwa Moskow siap untuk kembali ke negosiasi damai dengan Kyiv, namun dirinya tidak akan mencabut hasil referendum.
Pada 23-27 September 2022, wilayah separatis Ukraina di Donetsk dan Luhansk serta bagian Zaporizhzhya dan Kherson yang dikuasai Rusia mengadakan referendum untuk bergabung dengan Rusia. Referendum itu dikutuk komunitas internasional. Negara-negara Eropa dan Amerika Serikat menyebutnya "palsu" dan tidak akan diakui.***
![Duta Besar Rusia untuk PBB Vasily Nebenzya menghadiri pemungutan suara di DK PBB mengenai resolusi untuk tidak mengakui pencaplokan Rusia atas empat wilayah Ukraina pada 30 September [Spencer Platt/Getty Images/AFP]](https://cdn.ayojakarta.com/fill/1200:675/medias/2025/08/19/1488752368.jpeg)
Share this article
Rusia telah menggunakan hak veto di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) untuk menggagalkan rancangan resolusi.