EKUADOR, AYOJAKARTA.COM -- Penampilan Indonesia lewat siswi dari Sumba Timur menghipnotis penonton di acara Festival Buah dan Bunga ke-69 di Ambato, Ekuador.
KBRI Quito kembali melakukan promosi dengan ikut berpartisipasi dalam acara Festival Buah dan Bunga dan Festival Folklor ke-69 yang diadakan selama lima hari 21-25 Februari lalu di Ambato, Ekuador. Dari Indonesia hadir delegasi dari Nusa Tenggara Timur yang dipimpin langsung oleh Wakil Gubernur NTT, Josef Adreanus Nae Soi.
Untuk kedua kalinya Indonesia berpartisipasi secara penuh dalam acara festival tersebut dengan menampilkan kendaraan hias bertemakan Komodo, Sasando dan Danau Kelimutu. Kendaraan hias ini dibuat dari berbagai macam jenis bunga, buah dan aneka kacang-kacangan yang menarik perhatian ratusan ribu pengunjung yang hadir dalam dua parade siang dan malam pada tanggal 23-24 Februari 2020.
Tak hanya kendaraan hias, tim Indonesia juga menampilkan sejumlah tarian dan musik Sasando oleh 16 siswi dari Sumba Timur, NTT. Penampilan tari dan musik ini berlangsung terus menerus dalam parade sepanjang 5 km di jalan-jalan utama Kota Ambato.
Penampilan Indonesia melalui siswi dari Sumba Timur lewat tarian dan musik Sasando khas NTT yang juga didukung oleh Pemerintah Provinsi NTT dan Dekranasda NTT tersebut mampu menghipnotis ribuan penonton yang menyaksikannya.
Tarian khas NTT yang dibawakan oleh siswi Sumba Timur antara lain Tari Alor, Tari Rote, Tari Pa’aka, Tari Flobamora, Tari Gemu Fa Mi Re dan tarian tradisional khas NTT lainnya. Sedangkan untuk penampilan musik Sasando dibawakan oleh Kezia Daniele Nasution yang juga memperoleh apresiasi dari masyarakat Ambato karena berbeda dari peserta lainnya yang ikut berpartisipasi dalam acara tersebut.
Indonesia juga turut berpartisipasi dalam festival kerajinan tangan oleh Dharma Wanita Persatuan KBRI Quito dan Dekranasda NTT. Stand Indonesia hadir dengan beragam cendera mata dan kain batik dan kain tenun khas NTT serta aksesoris lainnya yang sudah dinanti-nantikan oleh masyarakat sekitar. Sehingga begitu stand Indonesia dibuka langsung diburu serta antrian panjang.
Festival juga diikuti oleh wakil dari berbagai negara yaitu Ekuador, Costa Rica, Mexico, Bolivia, masyarakat otonomi Paiz Vasco (Spanyol) dan Indonesia.
Sejak berlangsungnya pada tahun 1951, Festival Buah dan Bunga ini menjadi terbesar di Ekuador dan mendapatkan perhatian besar dari sejumlah negara di kawasan. Bahkan pada tahun 2020 ini, Festival Buah dan Bunga di Ambato telah mendapatkan pengakuan dari UNESCO sebagai salah satu warisan budaya di kawasan Andean, yang diperoleh juga atas dukungan dari Parlemen Andean.
Selama festival berlangsung penampilan Indonesia mampu mencuri perhatian masyarakat Ambato di setiap pertunjukkan baik itu di atas panggung, Universitas, maupun taman di Kota Ambato. Penampilan Indonesia ini juga menarik perhatian media Ekuador yang turut mengabadikannya baik melalui siaran langsung televisi, siaran langsung media sosial, maupun media cetak.
Menurut Dubes RI Quito, Diennaryati Tjokrosuprihatono, keikutsertaan Indonesia ini menjadi kesempatan emas untuk lebih memperkenalkan pariwisata, budaya dan perdagangan Tanah Air yang saat ini sudah semakin dikenal oleh masyarakat setempat, tidak saja dari Ambato namun juga berbagai daerah lain di Ekuador.
Sementara itu Wakil Gubernur NTT, Josef Adreanus Nae Soi yang memimpin delegasi NTT dalam Festival Buah dan Bunga ke-69 di Ambato, juga telah melakukan pertemuan dengan sejumlah pihak terkait upaya konservasi di Galapagos yang kemungkinan dapat diterapkan Komodo di NTT.
Wagub NTT juga berkesempatan berdiskusi dengan anggota Dewan Pengurus Yayasan Charles Darwin, Gubernur Galapagos dan Pengelola Taman Nasional Galapagos. Selain itu juga melihat langsung bagaimana pemerintah Ekuador mengelola pariwisata dan konservasi alam di Galapagos.

Share this article
Tarian khas NTT yang dibawakan oleh siswi Sumba Timur antara lain Tari Alor, Tari Rote, Tari Pa’aka, Tari Flobamora, Tari Gemu Fa Mi Re dan tarian tradisional khas NTT lainnya.