JAKARTA PUSAT, AYOJAKARTA.COM -- Pencemaran limbah dan udara dari Rumah Potong Hewan (RPH) Babi di Kapuk, Jakarta Barat diakui sudah berlangsung lama, terutama saat musim penghujan.
Direktur Utama (Dirut) Raditya Endra Budiman mengatakan, ketika hujan, Instalasi pengolahan air limbah (IPAL) yang dimiliki RPH Babi Kapuk terendam hingga dua meter dari bawah permukaan air. Akibatnya fungsi IPAL tidak berjalan dengan baik sehingga mencemari lingkungan dan tercipta bau tidak sedap.
"Nah mungkin 2-3 tahun yang lalu masih terdengar sering di Jakarta banjir kan, waktu belum ada normalisasi sungai dan lainnya, bagaimana mungkin pengolahan IPAL begitu dibanjiri air sampai setinggi dua meter, berhari-hari otomatis rusak, bakteri (pemakan limbah), artinya pengolahan ini jadi tidak memenuhi baku mutu kemudian alat-alatnya terendam," ucapnya di ruang Komisi B, DPRD DKI Jakarta, Jumat (6/12/2019).
Lokasi RPH juga terkena dampak banjir. Kondisi ini kerap terjadi saat musim hujan sekitaran bulan Januari. Butuh waktu sebulan agar IPAL kembali mengering.
"IPAL terendam, RPH nya semuanya, kalau posisi pas Imlek ya bangsa Januari itu rawan kita, itu kerendam beneran sudah satu bulan mengeringkan kembali memperbaiki peralatan baru kita bisa melakukan operasi lagi," paparnya.
Kondisi ini telah berlangsung sejak tahun 2012, dan hanya diatasi dengan pompa yang tersedia untuk bisa mengurangi intensitas air.
"Tahun 2012 gitu di bawah posisinya jadi kaya Belanda, sekeliling putaran kita itu kita pasangin pompa, jadi nggak hujan pun air masuk, jadi kita pompa lagi keluar, pokoknya listriknya harus ada supaya ini tidak terendam," tuturnya.
Saat ini kata dia, satu unit IPAL akan dibangun dengan posisi dua meter di atas permukaan air.

Share this article
ketika hujan, Instalasi pengolahan air limbah (IPAL) yang dimiliki RPH Babi Kapuk terendam hingga dua meter dari bawah permukaan air. Akibatnya fungsi IPAL tidak berjalan dengan baik sehingga mencemari lingkungan dan tercipta bau tidak sedap.