JAKARTA PUSAT, AYOJAKARTA.COM -- Unjuk rasa massa mahasiswa yang berlangsung seharian kemarin membawa berkah buat pemulung di kawasan Senayan, Jakarta Pusat.
Sementara sebagian besar masyarakat Jakarta berharap unjuk rasa di Gedung DPR RI kemarin lebih cepat berakhir, beda dengan mereka yang hidupnya bergantung pada sampah.
Simak saja penuturan Nur (27), pemulung yang biasa beroperasi di sekitar kantor parlemen. Setiap harinya Nur bersama suami membawa anaknya yang masih bocah berkeliling mencari botol plastik bekas.
Beberapa hari terakhir ini adalah hari-hari spesial buat Nur dan keluarga. Pendapatan mereka melonjak gara-gara semarak unjuk rasa. Ya, di tengah lautan massa pasti ada ratusan sampah plastik berserakan, terutama botol kemasan air minum bekas pengunjuk rasa.
"Kalau ada acara demo, pas bubaran, banyak banget botol plastik. Kalau lagi enggak ramai cuma dapat 60 ribu rupiah, kalau lagi ramai bisa satu gerobak, itu 100 ribu. Saya harap unjuk rasanya lebih ramai," ungkap Nur saat berbincang dengan Ayojakarta, Senin (23/9/2019) malam.
Yang Nur keluhkan cuma satu: harus berebutan botol plastik dengan petugas kebersihan. Ini menjadi ancaman buat penghasilannya yang seharusnya lebih besar dari biasa.
"Kadang-kadang dibantuin, kadang-kadang sama saja, dia juga ngumpulin (botol plastik). Kalau kadang kita kumpulin, kadang-kadang suka diambil mereka, harusnya kasihan sama kita yang ngumpulin," ucapnya kesal.
Selain itu, pekerjaannya juga berisiko karena harus berhadapan dengan Satuan Petugas Pamong Praja (Satpol PP) di lingkungan DPR RI.
"Risikonya juga kalau ada Satpol PP, dibawa ini gerobak, terus nanti kita pakai apaan? Kan ini buat usaha juga, kadang-kadang dirazia," sambung Nur, yang diiyakan dua temannya yang nimbrung di tengah obrolan.
Nur juga tahu sedikit soal alasan mahasiswa berdemonstrasi. Menurutnya, karena pemerintah tidak memperhatikan orang-orang kecil seperti dirinya. Ketika ditanya apa harapannya terhadap pemerintah, ia meminta agar semua tuntutan mahasiswa dipenuhi. Pemerintah pun harus lebih memperhatikan rakyat miskin.
"Ini kan unjuk rasa mulai dari undang-undang KPK, sama permasalahan dari listrik ya. Saya inginnya sih perhatikan rakyat kecil sajalah, ibaratnya jangan remehkan rakyat kecil. Sekarang kan undang-undangnya enggak jelas, dan rakyat kecil disepelekan," pinta Nur.
Nur mengaku telah melakukan pekerjaan memulung dua tahun lamanya. Saat berbincang dengan Ayojakarta, suami Nur sedang berkeliling sendirian mencari botol plastik. Sementara Nur, menunggu sambil beristirahat dalam gerobak yang setiap hari menemani. Gerobak yang disulap jadi ranjang ketika malam tiba.

Share this article
Nur sendiri mengaku tahu sedikit soal alasan mahasiswa berdemonstrasi.