JAKARTA SELATAN, AYOJAKARTA.COM -- Proses megaproyek reklamasi di Teluk Jakarta masih menuai sejumlah persoalan. Pasalnya, masyarakat yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan masih terus merasakan imbas dari pembangunan proyek tersebut.
Ketua Nelayan Muara Kamal, Ade Sukanda (50) mengatakan meski pembangunan Pulau C dan G sudah dihentikan, namun aktivitas truk yang membuang tanah ke pulau masih berjalan.
''Di situ orang punya mata pencaharian. Harusnya kan dari awal rekomendasinya dikaji ulang akan direlokasi kemana itu para nelayan,'' ujar Ade, saat diskusi publik di kawasan Manggarai, Jakarta Selatan, Jumat (25/10/2019).
Dampak yang paling dirasakan oleh masyarakat, kata Ade, adalah berkurangnya hasil tangkapan ikan dan kerang sehingga menyebabkan kerugian yang tidak kecil di kalangan nelayan.
''Sangat (rugi) banget. Dulu kan budidaya kerang ijo bisa seribu-an ember. Sekarang 300 saja sudah susah,'' keluhnya.
Ade mengatakan, arus air tidak mengalir seperti biasanya setelah diuruknya pulau tersebut dan menyebabkan nelayan semakin sulit mencari ikan.
"Jadi mengendap, air tidak berjalan. Tidak ada arus. Jadi ikan-ikan juga jauh. Hasil jaring-jaring juga menurun drastis dari para nelayan,'' kata dia.
Ade berharap, apa yang menjadi keluhan nelayan menjadi perhatian pemerintah, agar kehidupan nelayan terjamin dan kembali mendapatkan haknya.
''Karena negeri kita kan subur makmur. Harapan kami itu. Yuk, bersama-sama kami akan direlokasikan kemana. Itu lebih awal harusnya, seandainya mata pencaharian kami habis di Pulau C,'' pungkasnya.
.jpg)
Share this article
Proses megaproyek reklamasi di Teluk Jakarta masih menuai sejumlah persoalan. Pasalnya, masyarakat yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan masih terus merasakan imbas dari pembangunan proyek tersebut. Ketua Nelayan Muara Kamal, Ade Sukanda (50) mengatakan meski pembangunan Pulau C dan G sudah dihentikan, namun aktivitas truk yang membuang tanah ke pulau masih berjalan.