JAKARTA SELATAN, AYOJAKARTA.COM -- Faktor keamanan menjadi alasan aksi solidaritas emak-emak di halaman Polda Metro Jaya tidak mengajak perwakilan keluarga korban demonstrasi di depan DPR RI beberapa waktu lalu.
"Kami tahu mereka saat ini diintimidasi, kami tidak menjamin keamanan mereka," ujar salah satu peserta, Kokom Komalawati (40), Minggu (13/10/2019).
Dikatakan Kokom, aksi solidaritas yang diikuti kaum ibu berlatar belakang banyak profesi tersebut hanya ingin menyambungkan suara hati para keluarga korban khususnya yang telah meninggal dunia.
Diketahui, demonstrasi berujung kericuhan menuntut DPR membatalkan sejumlah rancangan undang-undang bermasalah telah menyebabkan ratusan orang terluka dan menewaskan lima peserta yakni, Bagus Putra Mahendra (15), Maulana Suryadi (23) Akbar Alamsyah (19) Randy (22), dan Yusuf Kardawi (19).
"Saat ini yang kami lakukan adalah bagaimana kami mendukung mereka, bagaimana kami memperlihatkan bahwa mereka tidak sendiri, bahwa ada kami ibu-ibu, emak-emak yang juga peduli dengan aksi mereka dan kami punya kepentingan yang sama," tegasnya.
Menurut Kokom, kelima korban yang meninggal dunia tersebut layak dikenang sebagai pahlawan.
"Kami mendukung penuh perjuangan dan demonstrasi beserta tuntutannya yang dilakukan pelajar, mahasiswa, buruh, tani perempuan, serta semua rakyat tertindas lainnya pada tanggal 23, 24, 25, dan 30 September 2019," ungkapnya.
Berdasarkan data KontraS, tambah Kokom, sebanyak 30 mahasiswa saat ini masih ditahan di Polda Metro Jaya. Sementara itu, 18 siswa SMPN 122 Penjaringan, Jakarta Utara terancam dicabut Kartu Jakarta Pintar (KJP) dari sekolah, diintimidasi dengan pemaksaan menandatangi surat perjanjian bahwa tidak akan mengulangi lagi perbuatan yang sama.

Share this article
Faktor keamanan menjadi alasan aksi solidaritas emak-emak di halaman Polda Metro Jaya tidak mengajak perwakilan keluarga korban demonstrasi di depan DPR RI beberapa waktu lalu.