AYOJAKARTA.COM - Jakarta terus menghadapi tantangan besar dalam menangani masalah stunting pada balita.
Data terbaru menunjukkan adanya perbedaan signifikan dalam jumlah balita yang mengalami stunting di setiap wilayah administratif di Jakarta dari tahun 2021 hingga 2023.
Stunting, yang merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan akibat kekurangan gizi kronis, masih menjadi masalah kesehatan prioritas di DKI Jakarta.
Dari tahun ke tahun, meskipun terdapat upaya untuk menurunkan angka stunting, sejumlah wilayah masih menunjukkan peningkatan kasus.
Pada tahun 2023, Jakarta Timur tercatat sebagai wilayah dengan jumlah kasus stunting tertinggi, yaitu mencapai 185.303 balita.
Angka ini menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya, di mana pada tahun 2022 jumlah balita stunting di Jakarta Timur mencapai 159.156 anak, dan pada tahun 2021 mencapai 154.873 anak.
Wilayah Jakarta Timur secara konsisten menjadi wilayah dengan jumlah kasus stunting tertinggi di DKI Jakarta selama tiga tahun berturut-turut.
Baca Juga: 3 Tips Merawat Motor Listrik agar Lebih Awet dan Tidak Gampang Rusak
Di posisi kedua terdapat Jakarta Selatan yang juga mengalami peningkatan kasus.
Pada tahun 2023, jumlah balita stunting di Jakarta Selatan tercatat sebanyak 86.421 anak, meningkat signifikan dibandingkan tahun 2022 yang berjumlah 61.784 anak.
Sedangkan pada tahun 2021, Jakarta Selatan mencatat jumlah balita stunting sebanyak 46.282 anak.
Tren peningkatan yang cukup tinggi ini menunjukkan bahwa meski terdapat berbagai upaya penanganan, stunting di Jakarta Selatan masih menjadi persoalan yang memerlukan perhatian lebih lanjut.
Jakarta Barat juga termasuk wilayah dengan angka kasus stunting yang tinggi, dengan 85.294 balita pada tahun 2023. Namun, berbeda dengan Jakarta Timur dan Jakarta Selatan yang terus meningkat, jumlah kasus di Jakarta Barat justru mengalami penurunan dari 90.043 balita pada tahun 2022 dan 91.660 balita pada tahun 2021.
Penurunan ini memberikan sedikit harapan bahwa intervensi penanganan stunting di Jakarta Barat memberikan hasil positif.
Sementara itu, wilayah Jakarta Utara mencatat jumlah 81.930 balita stunting pada tahun 2023, yang juga menunjukkan peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya.
Pada tahun 2022, jumlah balita stunting di Jakarta Utara mencapai 68.547 anak, sedangkan pada tahun 2021 tercatat 54.522 balita. Dengan meningkatnya jumlah balita stunting, Jakarta Utara menjadi wilayah dengan pertumbuhan kasus yang signifikan dalam tiga tahun terakhir.
Di Jakarta Pusat, kasus stunting juga meningkat dari 22.180 balita pada tahun 2021 menjadi 33.959 pada tahun 2022.
Namun, pada tahun 2023 terjadi sedikit penurunan dengan jumlah balita stunting sebanyak 30.339 anak. Meski menurun, angka tersebut tetap menunjukkan bahwa stunting masih menjadi isu kesehatan penting di wilayah tersebut.
Kepulauan Seribu, yang memiliki jumlah balita stunting paling sedikit dibandingkan wilayah Jakarta lainnya, juga mengalami peningkatan dalam dua tahun terakhir.
Baca Juga: Vivo X200 vs Vivo iQOO 13: Perbandingan Ponsel dengan Kamera Spek Dewa, Mana yang Direkomendasikan?
Pada tahun 2021, Kepulauan Seribu mencatat 1.998 balita stunting, yang kemudian menurun menjadi 1.856 balita pada tahun 2022. Namun, angka tersebut kembali melonjak pada tahun 2023 dengan jumlah mencapai 2.826 balita stunting.
Tren peningkatan jumlah balita stunting di beberapa wilayah di Jakarta ini menunjukkan perlunya perhatian lebih dari pemerintah dan pemangku kepentingan.
Penyebab peningkatan kasus stunting di Jakarta disinyalir terkait dengan faktor ekonomi, kesehatan, dan akses terhadap gizi yang memadai, terutama di kalangan keluarga kurang mampu.
Baca Juga: Digelar Hari Ini, Ridwan Kamil Ungkap Persiapannya untuk Hadapi Debat Kedua Pilgub Jakarta
Dengan situasi ini, penanganan stunting di DKI Jakarta menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak terkait.

Share this article
Wilayah Jakarta Timur secara konsisten menjadi wilayah dengan jumlah kasus stunting tertinggi di DKI Jakarta selama tiga tahun berturut.