AYOJAKARTA.COM - Pemerintah Provinsi Jakarta kini mengubah pendekatan pengendalian banjir secara signifikan melalui program bertajuk JakTirta.
Inisiatif yang digagas oleh Gubernur Pramono Anung Wibowo ini bukan lagi sekadar mengandalkan pompa air konvensional, melainkan membangun ekosistem pengelolaan air yang terintegrasi dan berkelanjutan.
Salah satu langkah konkret terlihat di kawasan Ancol, khususnya Jakarta Utara.
Dilansir dari akun Instagram @pram.doel, kapasitas pompa air di wilayah tersebut kini meningkat drastis, dari 15 ribu liter per detik menjadi 40 ribu liter per detik.
Peningkatan ini menjadi bagian dari strategi besar untuk menghadapi ancaman banjir rob dan genangan akibat perubahan iklim.
Namun, JakTirta tidak berhenti pada peningkatan kapasitas pompa. Program ini dirancang sebagai sistem terpadu yang menggabungkan berbagai infrastruktur pengairan.
Dengan total anggaran mencapai Rp2,62 triliun untuk periode 2025–2027, proyek ini menyasar lima wilayah administrasi Jakarta secara menyeluruh.
Ada empat pilar utama dalam program JakTirta. Pertama, pembangunan sistem polder dan pompa pengendali banjir yang tersebar di berbagai titik rawan.
Kedua, pembangunan embung dan waduk sebagai tampungan air, termasuk di kawasan Kebagusan, Pondok Labu, dan Sunter Hulu.
Ketiga, penguatan tanggul pantai melalui proyek National Capital Integrated Coastal Development (NCICD).
Keempat, revitalisasi sungai untuk meningkatkan kapasitas aliran air tanpa harus melakukan pelebaran.
Menurut Kepala Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta, pendekatan JakTirta lebih menekankan pada optimalisasi kapasitas sungai yang sudah ada, seperti Kali Angke dan Pesanggrahan, melalui pendalaman dan pembangunan tanggul.
Sebanyak 9 paket pembangunan sistem polder di 13 lokasi dengan tambahan 63 unit pompa baru menjadi tulang punggung proyek ini.
Selain itu, pembangunan embung dan tanggul sepanjang 2 kilometer turut memperkuat sistem pertahanan terhadap banjir dan rob.
Pramono Anung menegaskan bahwa penanganan banjir di Jakarta tidak bisa dilakukan secara instan.
Oleh karena itu, JakTirta dirancang sebagai proyek jangka menengah yang terencana, bertahap, dan berkelanjutan hingga 2027.
“Penanganan banjir harus terpadu dan tidak sporadis,” tegasnya.
Langkah percepatan juga dilakukan dengan memulai proses tender lebih awal agar penyerapan anggaran lebih optimal dan tidak menumpuk di akhir tahun.
Dengan konsep ini, Jakarta diharapkan tidak hanya mampu mengendalikan banjir, tetapi juga menciptakan sistem pengelolaan air yang adaptif terhadap perubahan iklim.
JakTirta menjadi simbol transformasi baru, bagaimana kota metropolitan “bernapas” melalui manajemen air yang modern, terintegrasi, dan berorientasi masa depan.***
Share this article
Melalui program JakTirta, Pemprov DKI Jakarta mengintegrasikan sistem polder, pompa, dan embung. Kapasitas pompa Ancol melonjak ke 40 ribu l/detik guna atasi banjir & rob secara berkelanjutan.