AYOJAKARTA.COM – Salah satu hal unik yang berlaku di hampir setiap wilayah Indonesia, termasuk di kawasan Jakarta adalah nama jalan.
Selain menggunakan nama pahlawan nasional atau tokoh lokal kenamaan, daftar nama jalan di Jakarta juga ada yang menggunakan istilah unik.
Beberapa contoh nama jalan terkenal di Jakarta yang bukan berasal dari nama orang atau pahlawan antara lain seperti Karet Tengsin, Glodok, Gondangdia, juga Cideng.
Baca Juga: Cara Hitung Skor SPMB Jabar 2025 Jalur Prestasi, Ketahui Peluang Lolos Masuk Sekolah Favorit!
Memiliki kata atau pengucapan yang terdengar unik, nama jalan tersebut hadir bukan tak beralasan.
Untuk lebih mencintai kota yang hampir berusia lima abad, berikut adalah sejarah penamaan sejumlah jalan dengan penamaan unik di Jakarta.
Sejarah Jalan di Jakarta
Berada di wilayah Tanah Abang, Jakarta Pusat, nama Karet Tengsin pertama kali muncul saat masih menjadi kawasan perkebunan karet dengan luas mencapai 300 hektar.
Bermula dari seorang warga Tionghoa bernama Tan Tieng Sien yang menjadi Pemilik kebun, banyak warga setempat ikut bekerja di perkebunan.
Karena memiliki sifat yang dermawan dan dianggap bijaksana, nama wilayah perkebunan milik Tieng Sien mulai dikenal dengan sebutan Karet Tengsin.
Adapun penyebab nama jalan tersebut kemudian tertulis Karet Tengsin, lebih disebabkan karena dialek orang terdahulu yang tidak biasa akrab di lidah.
Baca Juga: Cair Awal Juli 2025! Begini Cara Cairkan BSU Tahap 2 Lewat PT Pos, Siapkan Dokumen Ini
Nama jalan kedua di kawasan Jakarta yang juga memiliki riwayat panjang dibaliknya adalah Gondangdia.
Berada di kawasan Kebon Menteng atau Menteng, wilayah Gondangdia pada awalnya dipercaya merupakan area rawa.
Menjadi daerah yang relatif basah, area rawa tersebut banyak ditumbuhi dengan pepohonan Gondang untuk membungkus makanan.
Selain karena banyak ditumbuhi pohon, sejumlah Ahli Sejarah juga mempercayai asal nama Gondang berasal dari sejenis keong besar atau Bekicot.
Adapun versi ketiga yang menjadi latar belakang lahirnya nama Gondangdia adalah karena menjadi wilayah tinggal seorang Ulama atau Kyai.
Karena popularitasnya, Kyai tersebut dijuluki oleh warga sekitar dengan istilah Kondang Dia yang bermakna banyak dikenali orang lain.
Baca Juga: Masih Dibuka! Ini Cara Daftar Program Magang Berdampak 2025, Ada Tunjangan Rp2,8 Juta per Bulan
Nama kawasan berikutnya di wilayah Jakarta yang dikenal karena merupakan pusat niaga adala Glodok.
Berada di wilayah perbatasan antara Jakarta Pusat, Barat dan Utara, nama Glodok dipercaya lahir dari Gerojok yang berarti Kucuran Air.
Menjadi kawasan penampungan air dari Kali Ciliwung, masyarakat Tionghoa kesulitan menyebut kata Gerojok sehingga justru menjadi Gelodok.
Riwayat lain mengenai alasan lahirnya nama Gelodok adalah karena di zaman itu, banyak masyarakat yang memanfaatkan air kali untuk mandi dengan selang bambu.
Jalan menuju sungai yang terbuat dari tangga bambu, oleh masyarakat Sunda disebut Gelodok atau anak Tangga. ***

Share this article
Untuk lebih mencintai kota yang hampir berusia lima abad, berikut adalah sejarah penamaan sejumlah jalan dengan penamaan unik di Jakarta.