AYOJAKARTA.COM - Fenomena busa limbah kembali mencuri perhatian warga DKI Jakarta. Gumpalan busa putih tampak menggulung keluar dari pintu air Weir 3 Marunda, Cilincing, Jakarta Utara, dan menyusuri Kali Banjir Kanal Timur (KBT) hingga ke Laut Jawa.
Kejadian ini memunculkan kekhawatiran publik akan pencemaran air, meski sebagian warga justru menganggapnya "indah seperti salju".
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta bergerak cepat merespons fenomena tersebut. Menurut Humas DLH Yogi Ikhwan, busa muncul akibat turbulensi kuat saat pintu air dibuka penuh karena tinggi muka air mencapai 4,1 meter, status siaga.
Turbulensi ini memicu udara terperangkap dalam air yang mengandung bahan pencemar seperti detergen dan menghasilkan busa.
Dia mengungkapkan, disinyalir busa sering kali timbul dari buangan limbah masyarakat yang banyak mengandung detergen keras.
Detergen keras adalah detergen yang buihnya banyak karena kandungan kurang ramah lingkungan seperti MBAS atau Metilen Blue Active Surfactan.
Selanjutnya DLH telah mengambil sampel air untuk dianalisis di Laboratorium Lingkungan Hidup Daerah. Hasil analisis ini akan menjadi dasar penanganan lebih lanjut, termasuk identifikasi sumber pencemar. Dilansir dari akun Instagram DKI Jakarta, busa terbentuk dari tiga faktor:
- Faktor utama: tingginya BOD, COD, dan fosfor total akibat limbah domestik atau industri.
- Faktor pendukung: kemungkinan reaksi sabun alami akibat intrusi air laut.
- Faktor pencetus: turbulensi air saat perbedaan ketinggian di pintu air.
Langkah-langkah penanggulangan dilakukan menyeluruh:
- Secara fisik/mekanis: pemasangan jaring terapung, penyedotan busa dengan vakum, high-pressure sprayer, dan pengerukan lumpur.
- Secara biologis: penggunaan aerator permukaan, mikroorganisme pengurai surfaktan, tanaman terapung, dan ecoenzyme.
DLH juga mendorong masyarakat ikut menjaga kualitas air dengan:
- Mengurangi penggunaan detergen berlebihan.
- Memilih bahan pembersih ramah lingkungan.
- Mengelola limbah rumah tangga dengan bijak.
Ke depan, DLH akan melakukan sosialisasi dan penegakan hukum terhadap pelaku usaha yang membuang limbah tanpa pengolahan.
Pemprov DKI juga berencana membangun Sistem Pengolahan Air Limbah Domestik (SPALD) untuk memastikan air limbah aman dibuang ke badan air.
Fenomena busa ini menjadi pengingat pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam menjaga kebersihan sungai serta ekosistem air perkotaan.***
Share this article
DLH DKI tangani busa limbah di KBT akibat limbah domestik & turbulensi pintu air. Masyarakat diminta kurangi detergen & kelola limbah.