AYOJAKARTA.COM - Fenomena mikroplastik di air hujan Jakarta, merupakan tanda bahwa pencemaran plastik sudah sampai ke udara yang kita hirup.
Saat ini, masalah kandungan mikroplastik di Jakarta sedangan dihadapi dengan kolaborasi oleh pemerintah, lembaga riset, dan masyarakat.
Pada 24 Oktober 2025 lalu, BRIN bersama BMKG, DLH, Dinas Kesehatan dan BPBD DKI Jakarta berkumpul untuk membahas riset partikel mikroplastik ini.
Awal Mula Temuan Mikroplastik di Air Hujan Jakarta
Penelitian ini awalnya ditemukan oleh Peneliti BRIN, Muhammad Reza Cordova.
Ia menemukan fakta bahwa setiap hari Jakarta 'dihujani' 3-40 partikel mikroplastik per meter persegi.
Partikel tersebut turun terbawa air hujan dan menciptakan pencemaran baru di daratan dan air permukaan.
Bukan hanya Jakarta, temuan serupa juga terjadi di 18 kota besar di Indonesia.
Baca Juga: Soal Kenaikan Tarif Transjakarta, Pramono Anung: Saya akan Putuskan pada Saat yang Tepat!
Penjelasan BMKG
Dalam hal ini, BMKG memberikan penjelasan bahwa mikroplastik tergolong aeroso, partikel kecil yang bisa berpindah antar wilayah bersama angin dan pola cuaca.
Menurut BMKG, mikroplastik yang turun di Jakarta bisa saja berasal dari Bekasi, Tangerang atau sebaliknya.
Sumber Utama Mikroplastik Menurut BRIN
Menurut BRIN, sumber utama kandungan mikroplastik di air hujan dan udara Jakarta ini adalah dari aktivitas sehari-hari kita sendiri.
Beberapa sumber utamanya adalah:
- Serat Pakaian Sintetis Seperti Polyester dan Nylon
- Plastik Sekali Pakai yang Tidak Terkelola dengan Baik
- Pembakaran Sampah Terbuka di Wilayah Jabodetabek
- Air Lindi dari TPA Open Dumping yang Mencemari Udara dan Air
Baca Juga: Update Saldo Masuk KKS 5 November 2025, BLT Kesra Rp900 Ribu dan PKH BPNT Tahap 4 Mulai Cair?
Mikroplastik Menurut Dinas Kesehatan
Menurut DR. Rahmat Aji Pramono dari Dinkes DKI Jakarta, mikroplastik ini bisa bertindak seperti spons yang menyerap zat berbahaya, mikroba, bahkan virus.
Jika terhirup atau tertelan maka bisa menyebabkan iritasi saluran napas, ISPA, dan masuk ke aliran darah dan berisiko gangguan jantung atau peradangan.
Bahkan, paparan jangka panjang bisa memprburuk risiko penyakit serius seperti stroke dan serangan jantung.
Hal ini bisa saja terjadi terutama pada orang yang memiliki penyakit penyerta.
Baca Juga: Kelebihan dan Kekurangan Find X9 Pro, Smartphone Terbaik Oppo Tahun 2025
Dinkes pun mengimbau agar masyarakat melalukan langkah-langkah sebagai berikut:
- Mengurangi pembakaran dan penggunaan plastik sekali pakai
- Rajin membersihkan rumah agar debu mikroplastik tidak menumpuk
- Menggunakan masker saat kualitas udara menurun
- Mengonsumsi makanan tinggi serat untuk membantu mengeluarkan kontaminan dari tubuh
Baca Juga: Bukan Sekadar Modal, Program Ultra Mikro Bangun Kemandirian Perempuan Indonesia
Langkah DLH untuk Mengatasi Mikroplastik
Kepala DLH DKI Jakarta Asep Kuswanto mengatakan mikroplastik ini memperkuat urgensi pengelolaan sampah dan udara di Jakarta.
Menurut Asep, langkah penting yang harus dilakukan adalah:
- Peran aktif masyarakat: kurangi plastik sekali pakai, hindari bakar sampah, dan biasakan pilah sampah dari rumah
- Penguatan infrastruktur: percepatan pembangunan TPS 3R, RDF Plant Rorotan & Bantargebang, dan PSEL sebagai solusi jangka panjang
- Pengendalian emisi: memperluas uji emisi kendaraan dan pengawasan industri.***
Share this article
Berikut adalah hasil kolaborasi dari penelitian BRIN, BMKG, DLH, Dinkes dan BPBD DKI Jakarta terkait paparan mikroplastik di Jakarta.