TEBET, AYOJAKARTA – Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Perhimpunan untuk Pendidikan dan Guru (P2G) pada 5-8 Juli 2021, sebanyak 23,5 persen orang tua tidak menyetujui anaknya menjalani vaksinasi Covid-19. Tidak hanya itu, juga ada sebanyak 13,2 persen orang tua merasa ragu anaknya disuntikkan vaksin Covid-19.
Menurut P2G, hasil tersebut bisa menghambat vaksinasi Covid-19 untuk anak. Beberapa alasan turut mempengaruhi para orang tua yang tidak menyetujui dan merasa ragu mengizinkan anaknya ikut vaksinasi Covid-19.
Alasan-alasan tersebut yaitu orang tua khawatir vaksin akan berdampak buruk pada anak (72,5 persen), orang tua khawatir tujuan vaksinasi bukan untuk kesehatan (5,4 persen), anak memiliki penyakit atau komorbid (5,2 persen), orang tua khawatir vaksin tidak halal (4,2 persen), alasan karena menurut orang tua vaksin belum teruji (4 persen), dan alasan lainnya sebanyak 8,7 persen.
Koordinator Nasional P2G Satriwan Salim mengatakan pihaknya menyayangkan masih ada orang tua yang khawatir vaksinasi anak bukan bertujuan untuk kesehatan. Selain itu, kata dia, pihaknya juga menemukan alasan bahwa masih ada orang tua yang mempercayai vaksin berisi chip dari negara tertentu.
"Setelah anak divaksinasi maka chip tersebut akan lekat di tubuhnya. Ada juga yang percaya vaksin haram hukumnya, padahal MUI sudah mengeluarkan fatwa halal," ujarnya dalam pernyataan resminya, Senin 12 Juli 2021.
Survei P2G tidak hanya menemukan fakta-fakta tersebut, mereka juga menemukan fakta soal pengetahuan para orang tua murid terkait informasi proses vaksinasi anak di sekolah atau di daerah. Hasilnya, sebanyak 55,5 persen orang tua tidak mengetahui informasi vaksinasi anak di daerah atau sekolah dan 9,2 persen orang tua ragu dengan informasi vaksinasi.
Hanya 35,3 persen orang tua murid yang mengetahui informasi vaksinasi anak di daerah atau sekolahnya. Satriwan menilai ada urgensi sosialisasi dan edukasi terhadap orang tua siswa.
“Jika tidak, maka proses vaksinasi berpotensi terhambat dan tidak maksimal. Jangka panjangnya, orang tua tetap meminta sekolah dibuka walaupun anaknya belum divaksinasi,” kata Satriwan.

Share this article
Masih Ada Orang Tua Merasa Ragu Anaknya Ikut Program Vaksinasi Covid-19