Cerita Muhammad Asad, Yahudi yang Menjadi Mualaf

Cerita Muhammad Asad, Yahudi yang Menjadi Mualaf/ dok. istimewa

Cerita Muhammad Asad, Yahudi yang Menjadi Mualaf/ dok. istimewa

TEBET, AYOJAKARTA -- Suatu hari di bulan September 1926, seorang jurnalis muda Yahudi, Leopold Weiss, naik kereta Berlin. Di sekelilingnya, ia melihat wajah-wajah yang tidak bahagia dan hampa.

Kebudayaan tinggi Eropa, kemajuan ilmu pengetahuan dan materi belumlah cukup untuk membahagiakan rakyatnya. Pada saat Weiss naik ke peron lagi, dia yakin keselamatan dan kebahagiaan ada di tempat lain. Seperti cerita lain yang telah menyebar, saat itulah ia ingin menjadi seorang Muslim..

Weiss lahir pada tahun 1900 dari orang tua Yahudi yang nenek moyangnya adalah pemuka agama kerabian. Ia secara resmi masuk Islam beberapa hari setelah perjalanan Berlin itu.

Ketika dia meninggal, hampir satu abad kemudian pada tahun 1992, dia menjadi seorang intelektual yang dikenal di seluruh dunia Muslim sebagai Muhammad Asad.

Memoarnya yang terkenal, The Road to Mecca, telah membantu memperkenalkan Islam kepada banyak orang.

Terjemahan Alquran milik Asad dalam bahasa Inggris disandingkan dengan terjemahan Marmuduke Pickthall dan Abdullah Yusuf Ali.

"Mungkin tidak ada buku lain kecuali Alquran itu sendiri yang menyebabkan lebih banyak orang masuk Islam," tulis seorang diplomat Jerman yang juga mualaf, Murad Hofmann, dikutip di TRT World, Sabtu (24/4).

Perdana Menteri Pakistan, Imran Khan, menyebut Asad smerupakan motivasi yang membawanya ke jalur religius. Tokoh lainnya, Margaret Marcus merupakan seorang wanita muda Yahudi yang meninggalkan kehidupan di New York untuk tinggal di Lahore, setelah membaca The Road to Mecca. Dia mengadopsi nama Maryam Jameelah dan menjadi cendekiawan Islam yang terkenal.

Pertobatan yang ia lakukan tidak lain adalah hasil dari wahyu yang tiba-tiba. Hal itu sebagian besar juga berkaitan dengan kekacauan yang disaksikan Asad muda di Eropa, setelah Perang Dunia I.

Asad dibesarkan di Lwow, sebuah kota yang pada awal abad ke-20 merupakan bagian dari Austria. Ayahnya merupakan seorang pengacara kaya.

Meskipun orang tuanya tidak terlalu religius, seorang guru privat melatihnya memahami kitab suci Yahudi. Pada waktunya, ia dengan percaya diri mendiskusikan eksegesis Alkitab, kumpulan komentar religius yang kompleks. Setelah masuk Islam, pengalaman ini membantu pemahamannya tentang Alquran.

"Jadi, pada usia tiga belas tahun, saya tidak hanya bisa membaca bahasa Ibrani, tetapi juga berbicara dengan sangat lancar. Sebagai tambahan, saya cukup mengenal Aramiac," tulis Asad di bukunya.

Agama adalah hal terakhir yang ada di benaknya ketika ia masuk Universitas Wina pada tahun 1920, untuk mempelajari sejarah seni. Hari-harinya dihabiskan untuk mempelajari filosofi, sementara malam hari ia akan berada di klub.

Dia dengan cepat berbaur dalam berbagai lingkaran sastra, yang akan berkumpul di kafe-kafe Wina untuk membahas penemuan Sigmund Freud di bidang psikoanalisis. Seperti anak muda lainnya, Asad berusaha mencari jawaban setelah Perang Dunia I yang melanda Eropa antara tahun 1914 dan 1918.

"Eropa berada dalam krisis moral. Peradaban barat hampir menghancurkan dirinya sendiri selama perang. Seluruh generasi pemuda dimusnahkan. Tetapi itu juga merupakan periode yang dinamis. Orang tidak dibatasi oleh dogma lama dan mereka mencari sumber spiritual baru," kata sejarawan Israel yang menulis tentang Asad, Martin Kramer.

 
Hal ini merupakan salah satu cara untuk memahami Asad. Dia tidak muncul dari tatanan politik dan budaya yang mudah berpuas diri. Dia muncul dari sebuah ordo, yang baru saja mengalami keruntuhan total.

Gelisah dan tidak bisa fokus, Asad keluar dari universitas untuk mengejar karir sebagai penulis. Ayahnya menentang keputusan seperti itu dan memotong uang bulanannya sebagai hukuman.

Sendiri, Asad melakukan perjalanan ke Berlin, di mana dia bermain-main dengan dunia seni untuk sementara waktu. Ia menulis naskah film dan menghabiskan apa pun yang dia punya untuk pesta sepanjang malam yang melibatkan minuman keras dan wanita. Namun di sebagian besar waktunya, dia tetap kekurangan uang.

Dia sempat bekerja untuk sebuah kantor berita dan mencetak berita hangat ketika dia mewawancarai Madame Gorky, istri dari penulis terkenal Rusia, Maxim Gorky. Tapi, Asad tidak pernah benar-benar menetap.

Eropa seolah tidak lagi menjadi rumahnya. Sesuatu yang lain memanggilnya, yaitu panggilan ke Islam, di mana jalannya akan melewati Yerusalem.

"Asad jatuh cinta pada orang Arab, sebelum dia jatuh cinta pada Islam," kata seorang profesor agama di Duke University, Shalom Goldman. Ia sedang menulis sebuah buku tentang promiment Yahudi yang masuk Islam.

Islam adalah cara menjadi orang Arab. Itulah sebabnya, alih-alih bersekolah di sekolah agama, Asad tinggal bersama suku Badui selama enam tahun di Arab Saudi. Baginya itulah budaya otentik yang sesungguhnya.

Asad pertama kali menjumpai dunia Muslim pada tahun 1922, ketika dia melakukan perjalanan ke Palestina atas undangan pamannya, Dorian, seorang psikiater dan salah satu murid Freud.

Waktu itu adalah masa pergolakan politik dan perselisihan di Palestina. Zionis sedang berupaya melobi untuk sebuah bangsa bernama Yahudi, yang terkadang menggunakan kekerasan. Puluhan ribu orang Yahudi bermigrasi ke Palestina dari Rusia dan tempat lain, berupaya mengubah demografinya.

Bagi Asad, tampak jelas jika orang Badui Arab Muslim setempat lekat dengan kejujuran, kesederhanaan dan unta. Mereka lebih mirip dengan karakter Ibrani yang dia pelajari sebagai anak laki-laki dalam Perjanjian Lama, daripada seorang Yahudi Eropa modern.

Dalam beberapa kesempatan, Asad berkonfrontasi dengan para pemimpin Zionis seperti Dr Chaim Weizmann. Ia mendorong mereka untuk menjelaskan bagaimana orang Yahudi dapat mengklaim memiliki lebih banyak hak daripada orang Arab Palestina, yang telah tinggal di wilayah tersebut selama dua ribu tahun.

"Anti-Zionisme Asad mengakar kuat. Itu bukanlah sesuatu yang dia adopsi semata agar lebih diterima oleh Muslim," kata Kramer.

Salah satu teman terdekat Asad di Palestina, Jacob de Haan, yang berprofesi sebagai jurnalis Yahudi Belanda dibunuh oleh ekstremis Zionis. Ia dibunuh karena penentangannya yang gigih terhadap cara orang Arab diperlakukan.

Bertahun-tahun kemudian, ketika Israel mencoba untuk mengklaim seluruh Yerusalem, Asad terus membela hak-hak orang Palestina.

Dalam artikel The Vision of Jerusalem yang diterbitkan pada tahun 1982, Asad menulis Zionis ingin menjadikan Yerusalem sebagai ibu kota Israel selamanya. Namun, ia menekankan keabadian adalah atribut yang hanya dimiliki Tuhan.

Dia lantas berbicara dan menulis tentang bagaimana Islam memandang Yerusalem sebagai "Kota Suci" untuk semua agama. Daerah itu bukanlah real-estate yang diberikan sebagai warisan kepada orang-orang Yahudi saja.

"Asad mungkin adalah orang pertama yang mengartikulasikan ide kolonialisme Zionis sebelum para pemikir Marxis menjadikannya populer di tahun 1960-an dan 70-an," kata Goldman.

Selama tinggal di Palestina dan perjalanan ke Yordania, Mesir, maupun wilayah Muslim lainnya selama beberapa tahun berikutnya, Asad mengembangkan ketertarikan pada orang Arab dan cara hidup mereka.

Kisah hidupnya diterbitkan di Frankfurter Zeitung, salah satu jurnal Jerman yang paling dihormati. Dalam kisah itu, dituliskan tentang orang Arab sebagai orang-orang yang "diberkati". Mereka menjalani kehidupan yang sangat sederhana, yang secara garis lurus mengarah dari lahir sampai mati. Artikel-artikelnya kemudian disusun sebagai buku pertamanya, The Unromantic Orient.

Bertahun-tahun kemudian, ketika diminta untuk berbicara tentang terjemahan Alqurannya, Asad malah mendedikasikan sebagian besar pidatonya tentang mengapa dia pikir Tuhan memilih untuk mengirim utusan terakhir-Nya ke tanah Arab.

Kehidupan yang sulit di gurun membuat orang Badui menyadari betapa tidak pentingnya dirinya. Seorang Badui menghargai jika di luar banyaknya dewa suku Arab, harus ada satu Yang Tertinggi yang menopang kehidupan.

Setelah pengalamannya di Palestina, dia melakukan perjalanan lebih jauh ke semenanjung Arab, tempat yang sekarang menjadi Arab Saudi. Ia menghabiskan hidup dalam kehidupan gurun dan menjadi orang Arab, sebagaimana terbukti dari penguasaannya atas bahasa Arab.
 
Selama enam tahun, ia hidup di antara suku-suku Badui di Arab Saudi. Ia berusaha menunggang unta, mengenakan pakaian khas, serta mempelajari dialek mereka.

Arab Saudi berada di tengah-tengah pemberontakan ketika Asad, yang baru masuk Islam, tiba di sana pada tahun 1927. Ia ingin melakukan ibadah haji, ziarah ke Makkah yang wajib dilakukan setiap Muslim setidaknya sekali dalam hidupnya.

Pendiri Arab Saudi modern, Ibn Saud, kala itu sedang berjuang untuk mengontrol suku-suku pemberontak yang tersebar di sekitar gurun. Pada saat yang sama, Saud tidak mempercayai Inggris yang menggunakan kekuatan militer mereka sebagai pengaruh atas para pemimpin Arab.

"Tentu saja karya jurnalistik Asad dan hubungannya dengan pers internasional membentuk komponen penting dalam hubungannya dengan Raja,” kata seorang peneliti Jerman yang menulis buku tentang masa Asad di Arab Saudi, Gunther Windhager.

Asad terus menulis untuk surat kabar Eropa. Beberapa ceritanya diterjemahkan dan dicetak ulang dalam bahasa Belanda di Indonesia, yang kemudian disebut Hindia Belanda. Hal ini memberikan pengaruh yang cukup besar bagi jurnalis tersebut di istana raja.

Tulisan-tulisan yang ia buat dilengkapi dengan pengetahuan orang dalam secara langsung dan pena yang kritis terhadap imperialisme. Dia mengungkap kebijakan Inggris di Timur Tengah, dengan harga barang yang beredar berada di bawah pengawasan di setiap kesempatan.

Dengan restu raja, Asad melakukan perjalanan jauh ke tanah Arab pada saat sebagian besar non-Muslim dilarang keluar dari kota pelabuhan Jeddah.

Bagaimana Asad bisa mendapatkan akses ke istana Ibn Saud begitu cepat setelah kedatangannya, telah menjadi perdebatan yang cukup sengit. Tetapi, Arab Saudi masih satu dekade lagi untuk mencapai sumur minyak pertamanya, yang menghasilkan miliaran petrodolar di tahun-tahun berikutnya. Tembok tinggi dan protokol tidak didirikan di sekitar istana.

Sementara itu, Asad menulis bahwa ini adalah masalah kebetulan dan keputusasaan. Sebelum menunaikan haji pertamanya, ia telah menikah dengan Elsa, seorang pelukis yang berusia 15 tahun lebih tua darinya dan yang sangat ia cintai. Mereka pergi ke Makkah bersama-sama.

Sang istri menderita beberapa penyakit tropis dan meninggal sembilan hari setelah haji. Pengalaman itu membuat Asad hancur. Entah bagaimana, raja mengetahui hal itu dan mengundangnya untuk rapat. Sejak saat itu keduanya menjadi sangat dekat.

Dia akhirnya menjadi semacam penasihat raja, bahkan pernah melakukan perjalanan berbahaya melintasi gurun bersama Kuwait, untuk mencari tahu siapa yang memasok senjata dan amunisi kepada para pemberontak yang melawan pemerintahan Saud.

Ketika Asad telah membaca Alquran dan masuk Islam, pada saat itu pula dia mulai mengeksplorasi aspek-aspek kompleks dari agama, seperti yurisdrudensi Islam dan perannya dalam politik.

Umumnya, siswa Muslim menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mempelajari teks-teks Islam di bawah asuhan ulama berpengalaman di beberapa sekolah agama. Dalam kasus Asad, masih belum jelas dengan siapa dia berkonsultasi untuk mendapatkan panduan. Para pengkritiknya sering menggunakan ini untuk melawannya.

"Kami benar-benar tidak tahu apa-apa tentang hubungannya dengan lingkungan keagamaan selama dia tinggal di sana,” kata Pendiri Pusat Ilmu Pengetahuan Islam di Kanada, Dr. Muzaffar Iqbal.

Bagaimanapun, Asad telah mulai bertemu dengan para intelektual Muslim yang mengunjungi kota-kota Islam paling suci dari India dan Indonesia.

Sang putra, Talal Asad, merupakan seorang cendekiawan Islam terkemuka. Ia juga tidak tahu tentang ulama yang berhubungan dengan ayahnya pada tahun-tahun itu.

"Dia mempelajari hadits secara singkat dengan seorang ulama di Madinah. Ketika saya masih sangat muda, ia memberi tahu saya jika ulama ini adalah seorang 'alim terpelajar dari Tumbucktoo' (sic)," kata Talal.

Talal yang kini berusia 88 tahun adalah putra satu-satunya Asad. Ia lahir di Arab Saudi dari pernikahan ketiga Asad dengan Munira, seorang gadis dari suku Shammar yang kuat. Setahun setelah kematian Elsa, Asad menikah sebentar dengan wanita lain dari Riyadh, kemudian bercerai.

"... pernikahan dalam Islam bukanlah sakramen tetapi kontrak sipil, jalan untuk perceraian selalu terbuka untuk salah satu pasangan nikah…," tulis Asad dalam memoarnya.

Dia menyebut stigma yang melekat pada perceraian tidak ada dalam masyarakat Muslim, kecuali Muslim di Pakistan dan India yang telah dipengaruhi oleh agama Hindu.

Setelah enam tahun di Arab Saudi, Asad ingin menetap di sana. Dia juga menghubungi beberapa penerbit untuk buku yang ingin dia tulis tentang suku-suku Arab.

Meski demikian, dia tidak bisa mengganti namanya di paspor Austria miliknya dari Weiss ke Asad. Hal itu terus menghalangi rencananya.

Rintangan lainnya adalah Harry John Philby, seorang penjual pengaruh Inggris yang masuk Islam pada tahun 1930. Ia memiliki ambisi untuk melakukan ekspedisinya sendiri di dalam Arab seperti Asad.

Pada 2011, Riyadh mengatur konferensi internasional untuk menghormati Asad. Masa tinggal Asad di Makkah dan Madinah memiliki pengaruh yang dalam pada pemahamannya tentang Islam.

Saat itu, ia mulai menganggap mazhab Ahle-Hadits membutuhkan interpretasi baru dari ayat-ayat Alquran dan ucapan Nabi. Itu adalah periode dan ruang di mana transformasi dari Weiss ke Asad terjadi secara luas, serta hubungannya semakin bergeser dari jaringan Eropa ke Islam.

Buku keduanya, Islam at the Cross Roads, diterbitkan dua tahun kemudian. Seorang sejarawan di Universitas Punjab di Lahore, Muhammad Arshad, menyebut munculnya buku ini membuat riak gelombang di masyarakat.

"Sungguh luar biasa melihat seorang warga Eropa mengkritik masyarakat barat, membela Islam dan Sunnah dan mengatakan bahwa hanya Islam yang dapat membimbing dunia keluar dari kegelapan," kata dia.

Hingga buku ini hadir, hampir tidak ada orang yang mencoba mengkontekstualisasikan ketidaksukaan abadi Eropa terhadap Islam. Ini adalah tulisan orang Eropa kulit putih dalam bahasa Inggris, yang menyebut Muslim tidak boleh terpesona oleh kemajuan materi barat.

Hadirnya buku ini bersamaan dengan masa ketika sebagian besar Muslim di dunia masih hidup di bawah semacam pemerintahan kolonial. Asad menyebut jangan berkecil hati dengan kemelaratan, karena perlu seribu tahun bagi Khilafah untuk runtuh, sedangkan kekaisaran Romawi lenyap dalam seratus tahun.

"Jika kita mengikuti prinsip Islam yang mewajibkan belajar dan pengetahuan pada setiap pria dan wanita Muslim, kita tidak harus melihat ke Barat hari ini untuk memperoleh ilmu pengetahuan modern," tulisnya.

Asad segera mendapatkan pengagum di antara tokoh-tokoh Muslim terkemuka, seperti penyair dan filsuf Allama Iqbal, ulama Abul Ala Maududi dan Sayyid Qutb. Dalam bukunya yang terkenal, The Social Justice in Islam, ia menyebut satu bab sebagai At the Crossroads.

Pada pertengahan 1930-an, Asad secara aktif mengambil bagian dalam berbagai proyek yang bertujuan meningkatkan cara pendidikan agama diberikan. Ia juga berupaya menemukan cara untuk memperkenalkan mata pelajaran sains bersamaan dengan topik klasik di lembaga-lembaga Islam.

Sekitar waktu ini, ia mengambil tugas monumental menerjemahkan Sahih Bukhari, kumpulan ucapan Nabi Muhammad. Ini adalah pekerjaan yang sulit, yang melibatkan kegiatan membaca dengan cermat dan memilah-milah ribuan catatan sejarah.

"Pada saat itu, belum ada yang mencoba menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris. Itu adalah usaha yang sangat besar," kata Arshad.

Namun malang, dia tidak dapat menyelesaikan terjemahan itu. Banyak manuskripnya hilang selama pemisahan India dan Pakistan pada 1947.
Ikuti AyoJakarta.com di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Jakarta Selatan 04 Jun 2026, 13:20 WIB

Pastikan Produk Pangan Aman, Sudin KPKP Jakarta Selatan Lakukan Uji Sampel di 5 Lokasi Ini!

Pastikan produk pangan yang beredar di masyarakat aman, Suku Dinas Ketahanan Pangan, kelautan, dan Pertanian (KPKP) Jakarta Selatan aktif lakukan pengawasan.

Metropolitan 04 Jun 2026, 13:05 WIB

30 Rumah Warga Hangus Terbakar di Jakarta Pusat, Pemkot Jakpus Gerak Cepat Berikan Bantuan!

Kebakaran kembali terjadi didi Jalan Tanah Tinggi IV RT 09 RW 07, Johar Baru, Jakarta Pusat, sekitar pukul 00.15 WIB pada Kamis, 4 Juni 2026 dini hari yang menghanguskan 30 rumah warga.

News 04 Jun 2026, 11:51 WIB

Bikin Geleng Kepala! 4 Tindakan Dugaan Korupsi Ex Kepala BGN Dadan Hindayana Cs

Kejaksaan Agung sudah menetapkan mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana dan mantan Wakil Kepala BGN Sony Sanjayana dan Lodewyk Pusung sebagai tersangka dugaan korupsi tata kelola MBG

Komunitas 04 Jun 2026, 10:59 WIB

ISMN Meet Up Surabaya 2026 Resmi Dibuka, Jembatan Sukses Kreator Lokal Hadapi Dinamika Industri

ISMN Meet Up Surabaya 2026 resmi dibuka! Ajang kolaborasi kreatif untuk bantu kreator lokal bertahan dan bertumbuh di tren media sosial.

Jakarta Barat 04 Jun 2026, 10:51 WIB

Diduga Artefak, Sudin Kebudayaan Jakarta Barat Tindak Lanjut Temuan 4 Lempengan Batu Granit Aksara Cina!

Diduga artefak, temuan lempengan batu di wilayah Kelurahan Tanjung Duren Selatan, Grogol Petamburan ditindaklanjuti oleh Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Barat.

News 04 Jun 2026, 10:16 WIB

Jembatan Baru Komunikasi Publik, ISMN Hubungkan Kominfo Jatim dan Homeless Media

ISMN gandeng Kominfo Jatim rangkul Homeless Media! Sinergi radikal ini siap ubah peta informasi dan guncang dominasi media arus utama.

Metropolitan 04 Jun 2026, 07:47 WIB

679 Jiwa Terdampak Kebakaran Kemayoran, Dinsos DKI Berikan Bantuan Logistik: Makanan hingga Layanan Dukungan Psikososial

Dinas Sosial DKI Jakarta diketahui memberikan bantuan logistik berupa makanan siap saji, kebutuhan dasar, perlengkapan keluarga dan sekolah, termasuk Layanan Dukungan Psikososial serta dukungan hunian

Metropolitan 04 Jun 2026, 07:11 WIB

Prediksi Cuaca DKI Jakarta Kamis 4 Juni 2026: 4 Wilayah Serentak Hujan Sore hingga Malam Hari

Informasi seputar prediksi cuaca DKI Jakarta dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada hari Kamis, 4 Juni 2026.

Nasional 03 Jun 2026, 22:20 WIB

Aturan Baru Cukai Rokok dan Kemasan Polos, Sanggupkah 6 Juta Pekerja Tembakau Bertahan?

Layer baru cukai 2026 & aturan kemasan polos ancam industri rokok legal. Kebijakan ini dinilai memicu PHK masif bagi 6 juta pekerja & petani. Ahli desak penguatan hukum nyata, bukan regulasi baru.

Pendidikan 03 Jun 2026, 21:51 WIB

UIC Creative Showcase 2026 bertema “The Great Britain Festival in Indonesia” Saatnya Unjuk Gigi di Negeri Inggris Raya

UIC College, dibawah naungan USG Education Group menggelar UIC Creative Showcase 2026 bertema "The Great Britain Festival in Indonesia".

Nasional 03 Jun 2026, 20:58 WIB

Dilema Cukai Rokok 2026, Mengapa Produsen Legal Merasa Dikorbankan oleh Layer Baru Menkeu?

Rencana layer baru cukai 2026 untuk akomodasi rokok ilegal dinilai tidak adil bagi pabrikan patuh. Kebijakan ini memicu moral hazard, ancam pangkas Rp150 T kas negara, dan rontokkan industri legal.

Bisnis 03 Jun 2026, 20:40 WIB

BTN Perluas Program Bayar Angsuranmu dengan Sampahmu ke 8 Provinsi

BTN berkolaborasi dengan Bank Sampah Muria Berseri Kudus untuk mendorong pengurangan emisi dan pengelolaan sampah bernilai ekonomi.

Nasional 03 Jun 2026, 19:24 WIB

Dampak Kenaikan Harga Bioetanol Terhadap Program Mandatori B50 2026

Target mandatori B50 RI pada 2026 untuk stop impor solar terancam kenaikan harga bioetanol (Rp8.062/liter). Lonjakan akibat pelemahan kurs rupiah ini berisiko membengkakkan beban subsidi energi negara

News 03 Jun 2026, 17:51 WIB

Kasus Jual Beli SPPG? Mantan Petinggi BGN: Dadan Hindayana, Sony Sonjaya dan Lodewyk Pusung Resmi Ditahan Kejagung!

Setelah dicopot, mantan Kepala BGN Dadan Hindayana akhirnya ditahan oleh Kejaksaan Agung (Kejagung) dan dibawa ke mobil pada Rabu, 3 Juni 2026.

Nasional 03 Jun 2026, 17:24 WIB

Ironi Transisi Energi, Saat Kurs Rupiah Rp17.000 Ikut Mengerek Harga Biodiesel dan Bioetanol

Transisi energi Indonesia terganjal kurs rupiah di atas Rp17.000/USD. Meski bahan baku lokal, biaya konversi bioetanol & biodiesel Juni 2026 pakai denominasi dolar AS, bikin harga BBN rapuh & mahal.

Pendidikan 03 Jun 2026, 17:18 WIB

SPMB SMP DKI Jakarta 2026 Resmi Dibuka, Simak Persyaratan dan Batas Waktu Verifikasi Akun

Tahapan prapendaftaran SPMB Jakarta 2026 ini dijadwalkan akan terus berlangsung hingga 10 Juni 2026.

Otomotif 03 Jun 2026, 17:05 WIB

Awas Ketinggalan! Program Pemutihan Pajak dari Bapenda DKI Hanya 3 Bulan Saja Loh, Catat Tanggalnya Ya...

Pemprov DKI Jakarta melalui Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) DKI memberikan keringanan untuk penghapusan sanksi PKB dan BBNKB mulai 1 Juni 2026.

Nasional 03 Jun 2026, 16:27 WIB

Siapa Saja Sosok Pimpinan Baru di Badan Gizi Nasional? Intip Profilnya

Presiden Prabowo rombak total pimpinan Badan Gizi Nasional akibat program Makan Bergizi Gratis rapor merah (20rb kasus keracunan & 98% dapur ilegal). Nanik S. Deyang ditunjuk jadi Kepala BGN baru.

Nasional 03 Jun 2026, 15:42 WIB

Badan Gizi Nasional Diguncang Geledah Kejagung dan Perombakan Total, Ada Apa?

Presiden Prabowo copot Kepala BGN Dadan Hindayana akibat rapor merah program Makan Bergizi Gratis (20 ribu kasus keracunan). Kantor BGN pun digeledah Kejagung terkait dugaan korupsi dan unit ilegal.