TEBET, AYOJAKARTA.COM – Radio nampaknya menjadi satu-satunya alat komunikasi bagi beberapa daerah di Indonesia yang tidak mempunyai cukup sinyal untuk menonton televisi, bahkan memainkan telepon genggam.
Ternyata, terdapat ratusan saluran radio telah dimanfaatkan untuk membantu mengedukasi masyarakat tentang pandemi Covid-19 di Indonesia.
Radio tersebut dikenal dengan sebutan radio komunitas. Salah satu radio komunitas yang dimaksud yaitu Rasi FM, yang berbasis di Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat.
Pendiri Rasi FM, Latief Rochyana, mengatakan pada tahap awal persebaran wabah Covid-19, banyak informasi yang salah dan hoax membanjiri media sosial.
Dia mengaku, banyak warga yang kebingungan dan merasa khawatir kemana mereka harus mendapatkan kebenaran terkait informasi Covid-19.
"Ada sejumlah informasi besar terkait Covid-19. Rasi FM telah membantu berbagi informasi yang berguna dan memverifikasi beberapa informasi yang belum diverifikasi," kata Latief dilansir dari media online milik Pemerintah Tiongkok, Xinhua, Sabtu (24/10/2020).
Latief menuturkan, Rasi FM menggunakan pendekatan yang kreatif untuk mengedukasi masyarakat terkait segala informasi yang berkaitan dengan Covid-19.
Contohnya yaitu, presenter Rasi FM menyisipkan fakta tentang Covid-19 diantara jeda musik yang dimulai pada pukul 2 siang hingga 10 malam waktu setempat.
Dalam jeda musik tersebut, pemateri menjelaskan hal-hal mendasar seperti definisi Covid-19, seberapa bahayanya virus tersebut menyerang manusia, dan tentang bagaimana cara mencegahnya agar tidak tertular.
Edukasi lain yang telah dilakukan radio komunitas tersebut adalah program ILM atau Iklan Layanan Masyarakat yang berdurasi satu hingga dua menit.
AYO BACA : Akhir Pekan, Penambahan Kasus Harian Covid-19 DKI Tercatat 750 Kasus (Update 31 Oktober 2020)
Dalam program ILM, Latief menjelaskan, pihaknya bekerja sama dengan jaringan radio komunitas Indonesia (JRKI) untuk melakukan kampanye tentang menjaga jarak, menggunakan masker, dan mencuci tangan menggunakan sabun.
Sesekali, Rasi FM menyiarkan talkshow dengan menghadirkan pembicara yang berkompeten seperti ahli medis dan polisi kepada hadirin yang mendengarkan.
Baru-baru ini, Rasi FM bekerja sama dengan sekolah menengah dan lembaga pelatihan untuk menyiarkan materi edukasi untuk beberapa warga yang tidak dapat mengikuti kegiatan belajar jarak jauh akibat gangguan koneksi internet.
Uniknya, semua program di Rasi FM dijalankan oleh 15 orang dan seluruh warga sekitar dengan beragam pekerjaan, mulai dari petani hingga tukang ojek.
“Di sini tukang ojek hanya beroperasi pada siang hari. Malam hari bisa siaran melalui radio,” kata Latief.
Radio Darurat Covid-19
Radio komunitas dengan fungsi serupa juga terdapat di Poso, Sulawesi Tengah. Radio komunitas di Poso bernama Mosintuwu FM, yang didirikan sejak 2015.
Sebelum adanya pandemi Covid-19, Mosintuwu FM meliput dan menghadirkan ulasan mengenai isu kemasyarakatan dan sosial. Saat ini ketika pandemi Covid-19 menyerang, radio komunitas tersebut fokus dalam upaya menjadi radio darurat Covid-19.
Lian Galigo, pendiri Radio Mosintuwu FM, mengatakan ada berbagai berita hoax terkait Covid-19 yang telah menyebar, bahkan ke desa-desa paling terpencil di wilayah tersebut.
Informasi hoaks mulai dari teori konspirasi hingga manfaat makan telur sebelum matahari terbit untuk mencegah penularan Covid-19.
AYO BACA : Libur Panjang, Harian Covid-19 Indonesia Ada Penambahan 3.143 Kasus (Update 31 Oktober 2020)
Akibatnya, kata Lian, masyarakat banyak berburu telur dan berbondong-bondong ke pasar atas dasar informasi hoax itu. Mosintuwu FM menayangkan programnya dari pukul 6 pagi hingga 6 sore waktu setempat dan berbicara dengan aksen lokal masyarakat Poso.
Salah satu program dari Mosintuwu FM adalah ‘Kabar-Kabar Desa’ yang tayang setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 10.00 waktu setempat.
Program ini merupakan kolaborasi antara 80 desa di Kabupaten Poso dan sekitarnya. Melalui program tersebut, penonton dapat mendengarkan berita tentang Covid-19 dari warga desa lainnya.
“Jadi, radio darurat tidak sekadar menyiarkan informasi dan klarifikasi dari dokter, pejabat pemerintah, dan satgas Covid-19. Warga sendiri bisa saling menguatkan dan memberi ide tentang apa yang harus dilakukan,” imbuh Lian.
Ada juga siaran di Pamona, bahasa daerah kabupaten Poso dengan penyiar Ngkai Uwa, seorang kakek berambut putih berusia 66 tahun. Ngkai Uwa melakukan siarannya pada hari Sabtu jam 5 sore sampai jam 6 sore waktu setempat.
“Mosintuwu FM juga menginformasikan kasus Covid-19 harian dengan menggunakan budaya dan perspektif masyarakat lokal di sini,” kata Lian.
Ketua JRKI, Sinam Sutarno, mengatakan gerakan radio darurat Covid-19 sudah berjalan sejak Maret lalu ketika pandemi melanda Indonesia.
Para penggerak menggunakan informasi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Kementerian Kesehatan, serta mengubahnya menjadi materi audio sebelum disiarkan oleh ratusan radio komunitas di seluruh Indonesia.
Dia menjelaskan, ada juga radio yang mengajak para penyintas Covid-19 atau mengajak penonton untuk kritis dalam memilah informasi. Sedikitnya 102 dari 457 radio komunitas anggota JRKI menyiarkan informasi ini.
Sinam mengatakan, pergerakan semakin mudah karena banyak aktivis radio komunitas yang tergabung dalam satgas Covid-19 di desanya masing-masing.
Radio komunitas sudah sejak lama menjadi sumber informasi saat terjadi bencana di Indonesia antara lain tsunami Aceh 2004, gempa Sumatera Barat 2009, letusan Gunung Merapi 2010, dan gempa Poso 2017.
AYO BACA : Sepelekan Prokes, 21 Wisatawan Ancol Dapat Sanksi Sosial Menyapu Jalan

Share this article
Radio nampaknya menjadi satu-satunya alat komunikasi bagi beberapa daerah di Indonesia yang tidak mempunyai cukup sinyal untuk menonton televisi, bahkan memainkan telepon genggam.