JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Nelayan tradisional di Tanjungbalai Asahan, Sumatera Utara, mengeluhkan semakin brutalnya kapal-kapal trawl atau pukat harimau beroperasi di Selat Malaka.
Ketua Dewan Pimpinan Daerah Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia Tanjungbalai Asahan (KNTI TBA) Muslim Panjaitan mengatakan, pasca terjadinya insiden kerusuhan di laut, ribuan nelayan pulang secara massal dan langsung mendatangi Kapolres Tanjungbalai AKBP Putu Yudha Prawira.
“Tentu dengan kejadian ini merupakan awal peringatan kepada kita semua, khususnya kepada pihak keamanan, agar segera bertindak tegas atas perlakuan brutal dari kapal trawl tersebut,” tutur Muslim.
Nurul Ikhwan, salah seorang nelayan yang menjadi korban kebrutalan kapal trawl, mengaku sangat terkejut ketika berjangkar di posisi 11-08, Rabu (8/1/2020) lalu pukul 17.00 WIB-19.00 WIB tiba-tiba ditabrak perahunya dari arah belakang.
“Tak sampai di situ, setelah dilanggar, datang sebuah kapal trawl lagi melanggar kapal kami. Lain lagi, kami dilempar dengan batu es, dan bodam (martil besar),” kata Nurul.
Taufik, nelayan tradisional yang juga korban, menceritakan, dirinya tengah menyelamatkan salah satu kapal nelayan tradisional yang sedang mengalami kerusakan di laut.
“Tentunya hal ini membuat kami panik. Karena secara tiba-tiba saja kapal-kapal trawl itu menabrak kami secara membabi buta,” ujar taufik.
Tak sampai di situ, lanjut Taufik, Anak Buah Kapal (ABK) kapalnya dan kapal-kapal nelayan lainnya sempat terjatuh ke dalam laut. “Karena benturan dan hantaman dari kapal trawl itu,” ujarnya.
Kapolres Tanjungbalai AKBP Putu Yudha Prawira berjanji menindaklanjuti laporan para nelayan itu. Dia akan berupaya menyelesaikan persoalan yang terjadi.
Hal itu disampaikan Kapolres Tanjungbalai AKBP Putu Yudha Prawira saat menerima para nelayan yang menjadi korban kebrutalan kapal-kapal trawl.
“Kami akan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait, baik itu dengan Lanal Tanjungbalai Asahan, maupun Polres Asahan. Dan meminta kepada nelayan juga agar dapat bekerjasama dalam memberikan informasi,” ujar Yudha.

Share this article
Nurul Ikhwan, salah seorang nelayan yang menjadi korban kebrutalan kapal trawl, mengaku sangat terkejut ketika berjangkar di posisi 11-08, Rabu (8/1/2020) lalu pukul 17.00 WIB-19.00 WIB tiba-tiba ditabrak perahunya dari arah belakang.