TANAH ABANG, AYOJAKARTA.COM -- Dualisme yang terjadi dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP) diklaim telah selesai usai digelarnya Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) V.
Menurut Sekretaris Jenderal PPP versi Muktamar Jakarta Sudarto, islah atau penyatuan adalah sesuatu yang wajib dilakukan oleh PPP usai Pemilu 2019. Sebab, dalam kontestasi tersebut partai Kabah hanya memperoleh 19 kursi di DPR.
''Saya kira islah ini sesuatu yang memang harus terjadi, jadi sebetulnya islah ini ajaran agama. Jadi kalau mau islah ya harus lahir dari hati yang ikhlas,'' ujar Sudarto di sela Mukernas V di Hotel Sahid Jaya, Sabtu (14/12/2019).
Untuk kembali berada dalam satu kepengurusan, Sudarto mengatakan, PPP versi Muktamar Pondok Gede tidak memberikan syarat apapun untuk bergabung. Sebab, kedua pihak memiliki tujuan yang sama untuk menguatkan PPP.
''Tanpa syarat apapun. Saya kira kecuali syaratnya adalah bagaimana PPP kembali bangkit dan besar, siap menyongsong Pemilu 2024,'' jelas Sudarto.
Islah terjadi secara alamiah dan kekeluargaan. Sehingga, Sudarto tidak mengatakan secara pasti kapan dualisme di PPP resmi berakhir.
''Saya kira semua akan berjalan selama alamiah, wajar-wajar saja bahwa niat baik dan niat tulus harus tetap disertai langkah dan sikap-sikap yang konkret,'' ujar Sudarto.
Terkait akomodasi kepengurusan, Sudarto menyerahkan urusan tersebut sesuai mekanisme yang ada. Pasalnya, tujuan utama islah adalah menyatukan kembali PPP untuk kembali kuat.
''Kita serahkan saja kepada mekanisme organisasi partai dan Mukernas ini adalah forumnya yang paling tepat membicarakan kapan muktamar, termasuk langkah-langkah PPP ke depan,'' katanya.
Namun dalam Mukernas V tidak nampak Ketua Umum PPP versi Mukatamar Jakarta Humphrey Djemat. Meski tidak datang, Humphrey memiliki semangat yang sama untuk persatuan PPP.
''Pak Humphrey pun saya kira punya semangat yang sama, untuk bagaimana PPP menjadi besar. Karena itu jadi perhatian kita semua,'' ujar Sudarto.
Sekjen PPP Arsul Sani juga menegaskan dualisme sudah tak ada di partainya, usai digelarnya Mukernas V. Itu dibuktikan dengan kehadiran Sekjen PPP versi Muktamar Jakarta Sudarto dan sejumlah kader lainnya.
''Jadi memang kami terbuka, ada juga beberapa tokoh yang selama ini sebut saja belum sepenuhnya ada di tempat kita, juga semua kami undang,'' ujar Arsul.
Terkait tidak hadirnya Ketua Umum PPP versi Muktamar Jakarta, Humphrey Djemat, dia mengaku tak tahu alasannya. Sebab, komunikasi dengannya selama ini dilakukan oleh Plt. Ketua Umum PPP Suharso Monoarfa.
''Saya tidak tahu persis karena yang berkomunikasi dengan Pak Humphrey, Plt. ketum. Kebetulan kalau saya sekjen,'' ujar Arsul.

Share this article
Dualisme yang terjadi dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP) diklaim telah selesai usai digelarnya Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) V.