JAKARTA, AYOJAKARTA.COM — Pertemuan politik yang menghebohkan berlangsung kemarin. Ketua Umum Partai Nasdem, Surya Paloh, berangkulan dengan Ketua Umum Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Sohibul Iman.
Surya Paloh mengaku memahami perbedaan sikap politik antara partainya dan PKS yang memilih tetap menjadi oposisi. Namun, tidak tertutup kemungkinan Nasdem bisa sejalan dengan PKS dalam hal menjalankan fungsi penyeimbang di DPR terhadap kebijakan pemerintah.
Dosen Ilmu Politik Universitas Paramadina, Ahmad Khoirul Umam, menyebut, pertemuan Nasdem dengan PKS merupakan simbol perlawanan Surya Paloh terhadap dominasi politik Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, dalam skema koalisi Indonesia Maju. Ini termasuk soal masuknya Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, ke dalam Kabinet.
"Dengan mem-fait accompli (tidak memberikan pilihan lain) anggota koalisi lain, Megawati telah memaksakan egopolitiknya untuk memberi karpet merah bagi masuknya Prabowo," kata Ahmad Khoirul Umam, Kamis (31/11/2019).
Ia menyebut Prabowo tetap dipersilakan Megawati masuk ke koalisi Indonesia Maju meski memiliki cara pandang dan orientasi politik yang jelas berbeda dengan koalisi pemerintah. Gerindra dari awal sudah menjadi oposisi dan memunculkan narasi negatif atau hitam putih terhadap kebijakan-kebijakan Presiden Jokowi.
"Partai Gerindra sebaiknya fokus saja, istikomah, dan konsisten pada garis oposisi karena memang dari awal posisi mereka memang seperti itu," katanya.

Share this article
Partai Gerindra sebaiknya fokus saja, istikomah, dan konsisten pada garis oposisi karena memang dari awal posisi mereka memang seperti itu.