JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Salah satu evaluasi penting dari kinerja periode pertama Presiden Joko Widodo (Jokowi) dinilai kurang fokus pada janji dan agenda pembangunan.
Anggota DPD RI, Fahira Idris mencatat, jualan kampanye Jokowi dalam Pilpres 2014, misalnya revolusi mental, pertumbuhan ekonomi 7 persen, penuntasan kasus HAM masa lalu, memperkuat KPK dan pemberantasan korupsi, hingga program pembangunan unggulan belum menunjukkan hasil signifikan.
"Revolusi mental tidak ada kabar, ekonomi meroket ternyata cuma angan. Belum lagi kalau kita bicara penuntasan kasus HAM, penguatan KPK dan pemberantasan korupsi yang kian tak tentu arah. Fokus pembangunan juga senada. Mimpi menjadikan Indonesia poros maritim di dunia, malah yang banyak diresmikan jalan tol. Janji mewujudkan kedaulatan pangan, malah kran impor pangan dibuka begitu lebar," papar Fahira dalam siaran pers, Selasa (22/10/2019).
Menurut Fahira, periode kedua Jokowi menanggung beban ganda. Janji penuntasan kasus HAM masa lalu yang tidak mengalami kemajuan berarti saat ini malah bertambah dengan desakan pengusutan tuntas meninggalnya lima demonstran yang menolak revisi UU KPK.
"Sementara janji penguatan KPK dan pemberantasan korupsi lima tahun ke depan akan terus dibayangi ketidaktegasan Jokowi terhadap pasal-pasal yang dinilai melemahkan KPK dalam UU KPK terbaru yang sudah resmi berlaku,"imbuh senator DKI Jakarta ini.
Bukan hanya kurang fokus terhadap agenda pembangunan yang sudah ditetapkan, Fahira menilai Presiden Jokowi juga terkadang menjalankan program yang tidak ada dalam rencana pembangunan nasional. Bahkan program yang tidak ada ini malah dijadikan prioritas. Ia mencontohkan, keinginan keras Jokowi untuk memindahkan ibu kota ke Kalimantan Timur.
“Tidak ada di janji kampanye, tidak ada di RPJMN, tiba-tiba jadi program prioritas. Jalankan pemerintahan tidak bisa spontanitas seperti itu. Ini kan soal mengelola negara dan ratusan juta rakyat. Jika periode kedua masih kurang fokus, lima tahun ke depan, Indonesia tidak akan mengalami lompatan kemajuan," ujar Fahira.
'Beban ganda’ menurut dia, di periode kedua ini hanya bisa diurai jika Jokowi mampu setia pada janji kampanye dan tetap fokus kepada agenda pembangunan yang sudah digariskannya.
"Sekarang tergantung Pak Jokowi, selama memimpin negeri ini mau dikenang sebagai apa,” pungkasnya

Share this article
Anggota DPD RI, Fahira Idris mencatat, jualan kampanye Jokowi dalam Pilpres 2014, misalnya revolusi mental, pertumbuhan ekonomi 7 persen, penuntasan kasus HAM masa lalu, memperkuat KPK dan pemberantasan korupsi, hingga program pembangunan unggulan belum menunjukkan hasil signifikan.