JAKARTA, AYOJAKARTA.COM — Suka tak suka, peluang Partai Gerindra diterima bergabung dengan pemerintahan Jokowi-Maruf Amin cukup besar.
Peluang yang tadinya sudah terbuka setelah pertemuan mereka di MRT Jakarta pada 13 Juli, bertambah lebar setelah Presiden Jokowi menerima Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, di Istana Merdeka, kemarin (Jumat, 11/10/2019). Pertemuan mereka dilaporkan berlangsung penuh tawa.
"Tak tertutup kemungkinan untuk duduk di kursi kabinet. Tergantung siapa yang akan dipromosikan Pak Prabowo duduk di kursi itu," ujar analis politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro, dalam diskusi Peta Politik Usai Pesta di Parlemen, di D’consulate, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (12/10/2019).
Dia mengaku sulit memastikan berapa jatah kursi untuk Gerindra. Sebab, semua partai di koalisi Jokowi juga meminta jatah kabinet.
Namun, ia meyakini Presiden Jokowi tidak mudah didikte dalam penyusunan kabinet ini.
"Saya rasa Pak Jokowi tak mudah didikte. Mereka (partai koalisi) merasa bisa memenangkan Pak Jokowi di Pemilu, ya wajar saja partai-partai menuntut seperti itu (jatah kabinet)," tambahnya.
Masih terkait pertemuan Jokowi dan Prabowo kemarin, menurut Siti Zuhro patut diapresiasi karena kerukunan di antara dua tokoh itu berpengaruh pada pembangunan nasional dan kondisi politik di tanah air.
"Ini menjadi penting mengakhiri konflik di masyarakat dan bersama membangun bangsa," terangnya.
Jelang pelantikannya sebagai presiden dan pengumuman susunan Kabinet Kerja 2019-2024, Jokowi mengundang dua ketua umum partai yang tidak mendukungnya pada Pilpres 2019 untuk bertemu empat mata.
Selain Prabowo, Jokowi juga menerima Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Istana Merdeka pada Kamis (10/10/2019).
Share this article
Peluang yang tadinya sudah terbuka setelah pertemuan di MRT pada 13 Juli, bertambah lebar setelah Presiden Jokowi menerima Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, di Istana Merdeka