JAKARTA, AYOJAKARTA.COM — Hari ini peringatan 15 tahun wafatnya pejuang hak asasi manusia (HAM), Munir Said Thalib, yang tewas diracun dalam penerbangan Garuda Indonesia ke Amsterdam, Belanda.
Kasus itu masih misterius sampai hari ini, terutama soal siapa yang memerintahkan pembunuhan Munir.
Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Surabaya, Abdul Wachid Habibullah, mengatakan hari wafatnya Munir selalu diperingati oleh para aktivis pembela HAM. Tidak saja untuk mengenang jasa-jasa Munir, tetapi bertujuan lebih jauh yaitu untuk memupuk, menumbuhkan semangat juang dan nilai-nilai yang dibangun oleh Munir.
Ia menjelaskan, penuntasan kasus pembunuhan Munir menjadi pekerjaan rumah yang besar bagi negara. Hingga saat ini pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) belum menunjukkan keseriusan dalam mengungkap kasus Munir.
"Pembunuhan terhadap Munir juga menunjukkan betapa lemahnya peran negara dalam memberikan perlindungan terhadap pembela HAM,” tambahnya.
Selain mengalami kekerasan atau ancaman fisik, pembela HAM juga sering dilaporkan ke polisi atau digugat secara perdata di pengadilan.
"Tren yang muncul belakangan, pembela HAM sering kali berhadapan dengan hukum. Ini yang dinamakan SLAPP (Strategic Lawsuit Againts Public Partisipation). Pembela HAM dikriminalisasi atau digugat secara perdata," katanya.
LBH Surabaya sendiri banyak menangani perkara di mana instrumen hukum dijadikan alat untuk membungkam. Korbannya antara lain buruh, petani, aktivis lingkungan maupun aktivis antikorupsi.
“Karena itu LBH Surabaya mengharapkan pemerintah Jokowi dapat menuntaskan kasus Munir," tegasnya.
Share this article
Tren yang muncul belakangan, pembela HAM sering kali berhadapan dengan hukum.