AYOJAKARTA.COM - Bobibos belakangan mencuri perhatian publik karena klaimnya sebagai bahan bakar nabati dengan RON 98, ramah lingkungan, dan disebut lebih murah daripada Pertamax Turbo.
Tak sedikit tokoh yang dibuat penasaran, termasuk Kang Dedi Mulyadi (KDM), yang bahkan datang langsung melihat prosesnya. Namun, analis ekonomi Bennix justru memberi peringatan keras agar semua pihak termasuk Dedi bersikap hati-hati.
Menurut Bennix, euforia Bobibos harus ditanggapi dengan pikiran jernih. Ia menyebut di chanel YouTube-nya, “Saking hebohnya, pejabat sampai berbondong-bondong datang. Jangankan DPR, jangan-jangan KDM juga bisa kena tipu.”
Baca Juga: Fakta-fakta BBM BOBIBOS: Bahan Baku, Kelebihan hingga Potensi ke Pelosok Desa
Pernyataan ini merujuk pada sejarah kelam Indonesia yang pernah tertipu proyek “Blue Energy” tahun 2008, ketika Presiden SBY diyakinkan bahwa air bisa diubah menjadi bensin. “Indonesia pernah malu besar. Jangan sampai kasus itu terulang,” tegas Bennix.
Keraguan Bennix dimulai dari ketidakjelasan bahan baku. Bobibos mengklaim berasal dari bahan nabati, tetapi tidak menyebutkan sumber pastinya apakah sawit, jagung, tebu, singkong, atau lainnya.
Padahal setiap jalur biofuel memiliki proses industri yang sangat spesifik, termasuk esterifikasi, distilasi, dan filtrasi. “Kalau benar skala industri, pabriknya harusnya kelihatan. Tapi di mana?” kata Bennix.
Poin lain yang dipersoalkan adalah klaim harga murah. Bobibos disebut dapat dijual sekitar Rp8.700 per liter. Namun secara logika produksi, angka itu dinilai mustahil. Bennix menjelaskan bahwa memproduksi biodiesel dari minyak nabati saja membutuhkan biaya sekitar Rp15.000 per liter.
Baca Juga: Sepakat Kerja Sama dengan Bobibos, Dedi Mulyadi: Jerami Diolah, Petani Pun Berkah!
Sementara bioetanol berbasis gula atau beras dapat menelan biaya Rp13.500 hingga Rp22.000 per liter, dua kali lipat lebih mahal dari harga klaim Bobi Bos.
Ia juga menyinggung soal sertifikasi dan paten. Menurutnya, Bobi Bos baru memiliki paten merek dagang, bukan paten teknologi atau sertifikasi BBM dari Kementerian ESDM.
Bahkan pihak ESDM menyatakan bahwa Bobi Bos baru pada tahap uji laboratorium, belum masuk kategori siap edar. Selain itu, Bennix mempertanyakan minimnya publikasi ilmiah dalam 10 tahun riset Bobibos.
Produk energi yang benar-benar revolusioner biasanya memiliki jejak jurnal, laporan, atau hasil uji yang dibuka untuk publik. Dengan nada tegas, Bennix menutup peringatannya, "Inovasi itu bagus, tapi jangan sampai kita dibutakan euforia. Hati-hati, jangan sampai KDM jadi korban berikutnya.”
Inovasi energi memang penting, tetapi transparansi dan verifikasi ilmiah adalah syarat mutlak agar publik tidak kembali terjebak pada teknologi yang belum terbukti.***

Share this article
Bobibos diklaim sebagai BBM nabati RON 98, namun Bennix mengingatkan KDM untuk waspada karena banyak klaim tak transparan dan Indonesia pernah tertipu proyek serupa seperti Blue Energy.