AYOJAKARTA.COM - Bumi kembali mengalami tekanan dari aktivitas Matahari pada, Selasa 20 Januari 2026.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi terjadinya badai magnet (geomagnetic storm) kategori berat atau G4 menurut NOAA, yang dipicu oleh lontaran massa korona (coronal mass ejection/CME) berkecepatan sangat tinggi.
Fenomena ini memunculkan aurora yang terlihat luas di berbagai belahan dunia, termasuk lintang menengah hingga rendah.
Fenomena badai magnet kali ini berasal dari CME yang lepas usai ledakan Matahari kelas X1.9 pada 18 Januari.
CME tersebut merupakan tipe “full halo”, artinya dilepaskan langsung ke arah Bumi.
Dengan kecepatan sekitar 1.660 km/detik, lontaran ini termasuk yang tercepat sejak 1995. NOAA menyatakan badai magnet akan berlangsung beberapa hari ke depan.
Fenomena ini memicu aurora borealis dan aurora australis yang terlihat jelas di langit Eropa, Tiongkok, Skandinavia, hingga beberapa negara lintang rendah di Amerika Serikat.
Kebetulan, kondisi bulan baru pada 18 Januari membuat langit gelap sehingga aurora tampak lebih terang dan kontras.
Secara fisika, badai magnet terjadi akibat interaksi antara angin Matahari berupa aliran partikel bermuatan dari lubang korona dengan magnetosfer Bumi.
Saat tekanan meningkat, medan magnet Bumi terdistorsi sehingga memicu fluktuasi geomagnet yang dapat mengganggu sistem komunikasi dan listrik.
"BMKG memantau kejadian ini melalui indeks geomagnet lokal. Nilai indeks A maksimum menyentuh angka 63, mengindikasikan badai magnet kuat–berat," demikian pernyataan BMKG dalam postingan di media sosial Instagram yang diunggah pada Selasa, 20 Januari 2026.
Meski demikian, BMKG menegaskan dampak untuk wilayah Indonesia relatif kecil karena posisi geografis berada pada ekuator geomagnetik, di mana medan magnet bumi bersifat lebih horizontal dan bertindak sebagai “perisai alami”.
Secara umum, potensi dampak badai magnet meliputi:
- Gangguan komunikasi radio HF
- Penurunan akurasi GPS dan sinyal satelit
- Kemunculan aurora di lintang tinggi hingga menengah
Untuk jaringan listrik, risiko terbesar terjadi pada lintang tinggi. NOAA mencatat badai G4 dapat memicu masalah pengaturan tegangan skala luas pada grid listrik, namun hingga laporan ini disusun belum ada gangguan signifikan dilaporkan di Indonesia.
Badai magnet adalah fenomena alam periodik yang menguat saat Matahari berada pada fase solar maximum.
Meski dapat menimbulkan gangguan teknis, fenomena ini tidak berbahaya bagi kesehatan masyarakat.
Pemantauan indeks K dan indeks A dilakukan secara near-realtime, dan masyarakat dapat mengikuti pembaruan resmi dari BMKG.
Aktivitas Matahari diperkirakan masih tinggi hingga 2026, sehingga peluang aurora spektakuler kembali terjadi tetap terbuka.***

Share this article
Badai magnet G4 akibat lontaran Matahari memicu aurora global dan gangguan komunikasi satelit. BMKG menyebut Indonesia aman karena berada di ekuator geomagnetik, sehingga dampaknya minimal.